Demang Lehman merupakan pahlawan yang gugur dalam Perang Banjar. Namanya harum terkenal karena keberaniannya melawan kompeni menggunakan tangan kosong. Konon Demang Lehman terkenal sebagai orang sakti yang kebal terhadap peluru.
Namun karena nasibnya sudah ditentukan oleh Tuhan, Demang Lehman tewas digantung di tiang Belanda. Tepatnya di depan alun-alun kantor pemerintah kolonial di Kalimantan Selatan. Demang Lehman dieksekusi mati karena telah menggerakkan massa untuk melawan kebijakan kolonial.
Selain itu pemerintah kolonial juga membenci Demang Lehman karena ia dekat dengan dua tokoh yang membuatnya kalang kabut. Dua tokoh tersebut adalah Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari.
Baca Juga: Sejarah Kelahiran Ilmu Pariwisata di Indonesia 1993
Demang Lehman, Pangeran Hidayatullah, dan Pangeran Antasari sepakat memimpin pasukan untuk melawan Belanda.
Hal ini dimulai akibat penguasa Kesultanan Banjar, Sultan Tahmidillah (1801-1825) telah bertindak jauh dari ajaran agama dan cenderung berpihak pada pemerintah Belanda.
Demang Lehman, Pemimpin Gerilya dalam Perang Banjar
Demang Lehman selain terkenal sebagai sosok yang dekat dengan dua tokoh penting dalam Perang Banjar, ia juga tersohor sebagai pemimpin gerilyawan. Banyak pejuang Kalimantan Selatan ikut komandonya saat perang.
Pria kelahiran Martapura tahun 1832 ini berhasil memporak-porandakan pos-pos Belanda yang ada di Banjar. Demang Lehman adalah salah seorang pemimpin gerilyawan berpengaruh dalam Perang Banjar yang terjadi pada tahun 1859.
Menurut A. Gazali Usman dalam buku berjudul, “Kerajaan Banjar, Sejarah Perkembangan Politik, Ekonomi, Perdagangan, dan Agama Islam” (1998), Demang Lehman ditunjuk sebagai pemimpin gerilya dalam Perang Banjar oleh Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari.
Pertama kali Demang Lehman terjun menjadi pemimpin gerilya menyerang Belanda di Kalimantan terjadi di daerah Martapura dan Tanah Laut. Dua daerah tersebut mampu dikuasai oleh Demang Lehman dan pasukannya kurang dari 3 hari. Belanda sukses dipukul mundur ke daerah Banjar.
Kesuksesan ini membuat Demang Lehman mendapat legitimasi peperangan di Kalimantan Selatan. Masyarakat Banjar khususnya begitu menghormati Demang Lehman karena prinsip dan keberaniannya yang tidak mudah dimiliki oleh banyak orang.
Baca Juga: Kisah Raja Thailand Sambangi Jakarta Tahun 1960, Disambut Ribuan Rakyat Indonesia
Demang Lehman yang terkenal kebal dan anti peluru sempat menyerang Kasultanan Banjar. Ia dan pasukannya hampir menangkap Sultan Tahmidillah –seorang pemimpin berpengaruh di Banjar, namun akhirnya bisa digagalkan oleh tentara Belanda yang berjaga.
Belanda Kewalahan Menghadapi Pasukan Demang Lehman
Menurut penelitian Sundari berjudul, “Perjuangan Demang Lehman dalam Perang Banjar Tahun 1859-1862” (2007), Belanda sempat kewalahan menghadapi pasukan perang Demang Lehman. Para gerilyawan yang dipimpin oleh Demang Lehman cenderung kuat, terlatih, dan sakti.
Demang Lehman banyak merekrut para gerilyawannya dari kalangan jagoan atau preman yang dahulu badannya diisi susuk.
Fungsinya untuk ilmu kanuragan seperti kebal terhadap benda tajam dan tembakan. Maka dari itu banyak para pengikut Demang Lehman yang lolos dari peluru Belanda.
Saking kewalahan menghadapi para gerilyawan pimpinan Demang Lehman, Belanda sampai mengirim kapal-kapal perangnya dalam jumlah yang banyak.
Mereka bertugas untuk mengepung pasukan Demang Lehman supaya tidak lolos dari kejaran tentara kolonial.
Akibatnya beberapa kali pasukan gerilya Demang Lehman terpukul mundur tapi tidak menyurutkan semangat juangnya.
Mereka terus melawan sampai pasukan Belanda menarik ulang pasukannya termasuk memukul mundur kapal-kapal Belanda ke arah Timur.
Karena Belanda sudah lelah dan kekuatannya semakin menurun, Demang Lehman pun diajak berunding untuk melakukan gencatan senjata. Namun karena Belanda tidak punya banyak jaminan untuk melakukan perjanjian Demang Lehman pun menolaknya.
Baca Juga: Sejarah Hotel Inna Garuda Malioboro, Charlie Chaplin Pernah Menginap di Sini
Demang Lehman Berakhir di Tiang Gantung
Seiring dengan berjalannya waktu Demang Lehman pun tertarik dengan tawaran diplomasi Belanda. Konon Belanda telah menjanjikan Demang Lehman dengan memberi biaya tiap bulan kepadanya jika diplomasi tersebut disepakati bersama.
Akhirnya pada tanggal 6 Oktober 1861 Belanda membujuk Demang Lehman untuk membawakan Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah untuk berunding. Tujuan diplomasi ini antara lain untuk mengakhiri peperangan.
Namun ketika Demang Lehman berhasil membujuk Pangeran Hidayatullah datang ke Banjarmasin menghadap Belanda, dengan cepat tentara mereka menyergap Pangeran Hidayatullah. Beruntung Demang Lehman berhasil lolos dari penangkapan tersebut.
Pangeran Hidayatullah diasingkan ke Jawa Barat, ia diasingkan oleh Belanda ke daerah Ciganjur. Sedangkan Demang Lehman kembali bergerilya memimpin pasukannya di tengah-tengah hutan untuk menyerang markas-markas Belanda di Banjarmasin.
Namun karena kekuatan Belanda semakin kuat dan terkoordinasikan dengan professional, Demang Lehman dengan pasukannya sukses ditangkap.
Tepatnya pada tanggal 27 Februari 1862 Demang Lehman dihukum gantung dan dipenggal kepalanya sesaat setelah menghembuskan napas terakhirnya di tiang tinggi alun-alun kota Banjar.
Konon sampai hari ini kepala Demang Lehman masih tersimpan di Museum Leiden, Belanda. Namun karena beresiko membangkitkan permusuhan di masa lalu pemerintah Belanda merahasiakan letak pasti kepala sang jagoan Banjar, Demang Lehman. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)