Gaok merupakan sebutan masyarakat Yogyakarta untuk menamakan sirine peninggalan zaman Belanda yang ada di beberapa titik kota gudeg.
Hingga saat ini siren itu masih aktif sedangkan fungsi awal sirine ini adalah sarana Belanda mengumumkan bahaya perang.
Sirine Gaok sering menjadi sarana komunikasi Belanda dengan prajurit perangnya yang berada di markas besarnya. Tempat itu berada di jantung kota Yogyakarta yaitu, Benteng Vredeburg.
Saat ini fungsi sirine Gaok sudah berbeda, bunyi nyaring yang timbul dari alat ini sekarang hanya digunakan beberapa kali saja pada hari-hari penting Nasional.
Salah satunya seperti hari kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, atau pada saat bulan puasa. Jadi tanda pengingat sahur dan buka puasa di awal bulan Ramadhan.
Baca Juga: Sejarah Ketupat Lebaran, Sudah Ada Sejak Abad 15 Masehi
Menurut berbagai sumber sejarah menyebut Sirine Gaok sudah ada sejak masa Agresi Militer Belanda I, atau sekitar tahun 1947. Kala itu Belanda menjadikan Yogyakarta sebagai basis peperangan dengan tempat administrasi utamanya di Istana Agung.
Oleh sebab itu mereka membutuhkan alat untuk menjadi penanda darurat, tanda yang sewaktu-waktu bisa berbunyi karena ada bahaya yang mendadak. Salah satu bahaya yang dimaksud adalah serangan militer musuh (kaum republieken).
Saat itu Sirine Gaok pertama yang dibangun oleh militer Belanda terletak di jalan Malioboro. Kemudian membangun lagi di jalan Pakualaman, sekarang berseberangan dengan minimarket Superindo Bintaran Yogyakarta.
Sirine Gaok menimbulkan suara yang nyaring menyeramkan. Ia akan berbunyi apabila si petugas yang berjaga di bawahnya memutar poros sirine. Semakin kencang diputar, maka akan semakin kencang pula suara sirine itu menjerit.
Sejarah Sirine Gaok di Yogyakarta, Sirine Belanda yang Melambangkan Kematian
Gaok kerap diidentikan dengan sirine Belanda yang melambangkan kematian. Gaok berasal dari nama burung gagak, dalam kepercayaan orang Jawa burung gagak adalah hewan misterius yang sering menjemput kematian.
Begitu juga dengan sirine Belanda ini, jika sirine gaok berbunyi maka siap-siap orang di sekitar harus ikhlas merelakan nyawanya jadi tumbal peperangan. Maka dari itu banyak warga Yogyakarta menghindari sirine ini. Mereka takut dan khawatir korban perang Belanda vs pejuang republik.
Narasi di atas menimbulkan Sirine Gaok memiliki citra yang menyeramkan. Corong kematian itu menjadi alat yang disakralkan oleh masyarakat sekitar. Mereka menjadikan Sirine Gaok sebagai penanda terjadinya kerusuhan. Nadanya yang melengking nyaring sering diidentikan dengan jeritan korban perang yang terkena peluru dan granat.
Situasi mencekam yang ditimbulkan oleh Sirine Gaok bisa disaksikan dalam salah satu film dokumenter berjudul Janur Kuning. Dalam beberapa adegan film yang menceritakan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, terdapat suara Sirine Gaok yang menakutkan.
Baca Juga: Tradisi Mudik Lebaran, Potret Pulang Kampung Tahun 1970
Menjadi Wisata Sejarah di Yogyakarta
Menurut Syafaruddin Murbawono dalam buku berjudul, “Monggo Mampir –Mengudap Rasa Secara Jogja” (2013), Sirine Gaok saat ini telah menjadi salah satu destinasi bersejarah di kota Yogyakarta.
Banyak para pejalan kaki yang senang dengan nilai historis kota Yogya yang singgah dan berswa foto di depan corong kematian tersebut.
Mereka terkagum-kagum dengan historis Sirine Gaok. Para peminat sejarah yang kebetulan sedang berwisata di Yogya bahkan ada yang menuangkan kisahnya ini ke dalam sebuah buku karyanya sendiri.
Dari karya-karya seperti inilah kisah klasik dari Sirine Gaok semakin terbuka dan diketahui oleh banyak orang.
Biasanya Sirine Gaok sering dikunjungi oleh banyak wisatawan ketika hari-hari istimewa, dimana sirine tersebut waktunya berbunyi. Antara lain ketika hari libur Nasional memperingati kemerdekaan RI setiap tanggal 17 Agustus. Selain itu juga pada setiap awal bulan Ramadhan.
Selain menjadi tempat swafoto peminat sejarah, Sirine Gaok yang ada di jalan Malioboro menjadi tempat kuliner. Di sana terdapat toko Martabak Ayam Kampung Pak Hardjo Semito. Konon martabak ini jadi kudapan favorit masyarakat Yogya yang legendaris.
Baca Juga: Sejarah Menara Kudus, Masjid Peninggalan Walisongo Berusia 500 Tahun
Sirine Gaok, Bagian dari Bangunan Cagar Budaya
Sirine Gaok merupakan bagian dari bangunan cagar budaya. Artinya bangunan peninggalan Belanda itu dilindungi oleh undang-undang.
Undang-undang cagar budaya berfungsi menjaga nilai historis suatu bangunan peninggalan masa lalu. Bangunan itu boleh difungsikan dengan baik asal tidak mengubah fungsi dan bentuk aslinya.
Oleh sebab itu hingga saat ini meskipun Sirine Gaok di jalan Malioboro berada di tengah pasar kuliner Yogyakarta, akan tetapi fungsinya masih sama. Sirine ini masih tetap berbunyi tatkala waktu tertentu sirine ini dibunyikan.
Bagi para peminat sejarah revolusi nampaknya berwisata ke Yogyakarta untuk melihat Sirine Gaok bisa jadi agenda libur tahunan yang mengasyikan.
Sebab bentuk asli dari sirine tersebut masih terjaga. Masyarakat Yogya juga turut melestarikan bangunan peninggalan bersejarah itu sepenuh hati. Jika tertarik melihat bangunan ini lebih baik datang pada saat agenda sirine dibunyikan ya. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)