Sejarah hari raya lebaran di zaman kolonial Belanda memberikan gambaran bagaimana tradisi ini terbentuk hingga hari ini.
Hari raya lebaran merupakan perayaan yang dilakukan setiap tahunnya, tepatnya pada Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha.
Momen ini seringkali dijadikan sebagai ajang silaturahmi anggota keluarga baik yang jauh maupun yang dekat.
Biasanya anggota keluarga akan berkumpul untuk menikmati hidangan selama perayaan lebaran sambil bercengkrama dengan anggota keluarga lainnya.
Namun, tidak banyak orang yang menyadari bahwa perayaan ini sempat dianggap sebagai ajang pemborosan ketika zaman kolonial.
Orang-orang Belanda menganggap perayaan lebaran sama halnya dengan tahun baru menurut pandangan mereka. Namun, mereka juga berpandangan bahwa momen ini justru menjadi hal yang sia-sia dan pemborosan.
Baca Juga: Sejarah Ketupat Lebaran, Sudah Ada Sejak Abad 15 Masehi
Sejarah Hari Raya Lebaran dan Kebijakan Pemerintahan Kolonial Belanda
Sebagai sebuah pemerintahan di Hindia Belanda waktu itu, pemerintahan kolonial menentukan perayaan hari raya lebaran melalui tangan penghulu.
Menurut Syahrul Afandi dalam, “Penghulu: Sistem Kepenghuluan dalam Transisi dan Modernisasi” (2022), pada masa pemerintahan Hindia Belanda atau kolonial waktu itu menjadikan penghulu sebagai pegawai pemerintahan yang digaji secara resmi.
Pada masa pemerintahan kolonial tugas penghulu memang cenderung lebih beragam ketimbang hari ini.
Tugas penghulu tidak hanya sekedar menikahkan orang lain melainkan sebagai mufti atau penasihat hukum Islam, Qadi atau hakim dalam pengadilan agama, wali hakim, petugas zakat, hingga imam masjid.
Tugas ini cenderung lebih kompleks ketimbang hari ini yang hanya terbatas pada urusan pernikahan saja.
Metode yang digunakan saat penentuan awal puasa dan syawal biasanya menggunakan metode rukyat. Meskipun menggunakan metode Rukyat, terdapat pula beberapa orang yang menggunakan metode hisab dalam menentukan awal puasa dan Syawal.
Pemerintahan kolonial seringkali mendapatkan saran dari Snouck Hurgronje dalam menentukan kebijakan terutama yang berkaitan dengan umat muslim di Hindia Belanda waktu itu.
Snouck juga meyakini bahwa pemerintahan kolonial harus menjadikan momen lebaran ini sebagai sarana mempererat hubungan dengan pribumi.
Bahkan pemerintahan waktu itu mengeluarkan kebijakan agar orang-orang Eropa mau berkunjung ke rumah-rumah pejabat daerah yang merayakan lebaran ini.
Walaupun dalam realitasnya tetap ada keengganan orang-orang Eropa terutama Belanda berkunjung dalam momen lebaran ini.
Baca Juga: Tradisi Mudik Lebaran, Potret Pulang Kampung Tahun 1970
Inilah realitas yang harus dihadapi waktu itu, meskipun hidup dalam lingkungan dan tempat yang sama, selalu ada tembok status sosial yang memisahkan kedua golongan masyarakat itu.
Dianggap sebagai Perayaan Tahun Baru
Snouck seorang orientalis yang meneliti tentang Islam mengatakan bahwa perayaan lebaran merupakan salah satu perayaan yang penting bagi umat Islam.
Oleh karena itu momentum itu haruslah dimanfaatkan oleh pemerintahan kolonial untuk menarik simpati dan hubungan baik dengan penguasa pribumi.
Menurut Gobee dan E Adriaanse, C dalam “Nasihat-Nasihat Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1939 Jilid IV” (1990), perayaan hari lebaran merupakan momentum yang begitu meriah. Pesta dimana-mana, banyak masyarakat yang mengenakan pakaian baru dan saling berkunjung ke rumah kerabat dan sanak saudara.
Tak heran orang-orang Eropa terutama Belanda heran melihat momentum ini. Bahkan ada yang menyebutkan itu sebagai tahun barunya umat Islam.
Walaupun dalam realitasnya Ramadhan dan Syawal bukanlah momentum awal perayaan tahun baru di dalam Islam.
Namun, karena kemeriahan dari Ramadhan dan Syawal ini membuat banyak yang menyamakan dengan tahun baru di Eropa.
Hal inilah yang seringkali menjadi sebuah kekeliruan menurut Snouck terhadap momentum lebaran di Hindia Belanda.
Untuk menambah kelengkapan momentum lebaran biasanya masyarakat menyuguhkan makanan bagi orang-orang yang bertamu ke rumahnya.
Dengan diiringi suara takbir momentum lebaran ini pun semakin meriah. Bagi umat Islam tentu saja ini merupakan bentuk perayaan setelah menahan hawa nafsu selama bulan suci Ramadhan.
Dianggap Pemborosan
Keengganan untuk menghadiri perayaan lebaran oleh orang-orang Eropa memang hal yang wajar. Mengingat latar belakang dan konstruksi sosial yang berbeda antara orang-orang Eropa tersebut dengan warga pribumi.
Dalam catatan sejarah kolonial Belanda, terdapat beberapa pihak yang tidak setuju dengan perayaan hari raya lebaran, apalagi sampai mendapat dukungan dari pemerintah kolonial.
Pihak-pihak tersebut meyakini bahwa hal tersebut hanyalah ajang pemborosan terhadap kas negara dan daerah. Sehingga sangat merugikan pemerintahan kolonial.
Beberapa pihak yang melakukan penolakan itu adalah Steinmentz, Residen Semarang dan De Wolff Van Westerrode yang merupakan salah satu pejabat kolonial.
Menurut penuturan mereka perayaan lebaran yang dilakukan oleh bupati-bupati daerah dengan menggunakan kas daerah sangatlah tidak tepat.
Oleh karena itu segala bentuk pemborosan harus dihilangkan termasuk dalam ajang perayaan lebaran ini.
Bahkan mereka juga sampai merencanakan dasar hukum agar anjuran mengenai orang-orang Belanda bisa ikut serta dalam perayaan ini dihilangkan juga.
Baca Juga: Sejarah Mudik Lebaran dari Zaman Hindia Belanda hingga Kemerdekaan
Namun, aksi Steinmentz dan De Wolff Van Westerrode ini mendapatkan penolakan dari Snouck yang meyakini bahwa lebaran adalah perayaan yang spesial bagi umat Islam.
Menurut Yusuf Maulana dalam, “Mufakat Firasat: Penjelajahan Sejarah bagi Penghikmahan Gerakan Islam” (2017) saran-saran Snouck Hurgronje tentang hari raya lebaran tersebut merupakan buah kegiatan ilmiah sekaligus politik yang tidak main-main.
Agaknya inilah yang menyebabkan saran-saran dari Snouck dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan.
Dalam kasus terhadap perayaan lebaran, Snouck meyakini bahwa orang-orang Belanda harus menjalin hubungan melalui perayaan ini.
Pandangan Snouck ini juga sebenarnya menjadi gambaran bagaimana cara orang-orang Belanda bersikap.
Bagi mereka yang meyakini bahwa Islam itu adalah ancaman melihat bahwa perayaan lebaran sebagai ajang pemborosan.
Sedangkan Snouck melihat bahwa ini adalah momentum untuk menjalin hubungan dengan orang-orang Islam waktu itu yang amat memusuhi orang-orang Belanda. (Azi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)