Kamis, April 3, 2025
BerandaBerita TerbaruSejarah Halal Bihalal di Indonesia, Cara Sukarno Damaikan Politisi

Sejarah Halal Bihalal di Indonesia, Cara Sukarno Damaikan Politisi

Halal Bihalal Halal Bihalal adalah salah satu tradisi di Indonesia saat lebaran Idul Fitri tiba. Banyak orang-orang di desa maupun perkotaan saling mengunjungi rumah-rumah saudara dekat atau jauh untuk saling bersilaturahmi dan bermaaf-maafan. Bagaimana sejarah Halal Bihalal di Indonesia?

Awal mula adanya tradisi Halal Bihalal berasal dari kebijakan pemerintah Sukarno pada tahun 1948. Konon ia menjalankan tradisi ini atas arahan dari guru spiritualnya bernama KH. Abdul Wahab Hasbullah.

Menurut KH. Abdul Wahab Hasbullah, Sukarno perlu mengadakan Halal Bihalal untuk menjaga stabilitas politik yang waktu itu sedang kacau. Apalagi sebelumnya telah terjadi pemberontakan PKI di Madiun 1948.

Dengan demikian KH. Abdul Wahab Hasbullah pada Sukarno berharap agar Halal Bihalal yang ia maksud bisa menjaga kestabilan politik Indonesia. Sebab kunci keutuhan dari bangsa ini adalah stabilitas politik. Jika itu gagal dikelola maka besar kemungkinan bisa membuat negara ini runtuh dan hancur berkeping-keping.

Baca Juga: Sejarah Ketupat Lebaran, Sudah Ada Sejak Abad 15 Masehi

Sejarah Halal Bihalal di Indonesia, Sukarno Undang Banyak Tokoh Nasional

Selain mengundang tokoh-tokoh Agama, Militer, Intelektual, Presiden Sukarno juga telah mengundang banyak tokoh Nasional. Mereka adalah nama-nama besar dalam panggung politik Indonesia di zaman pemerintahan Hindia Belanda.

Menurut Majalah Mimbar Penerangan yang terbit pada tanggal 28 September 1962 bertajuk, “Kata Pembuka Ketua Panitia”, Halal Bihalal yang diadakan oleh pemerintah Sukarno pada tahun 1962 semakin sering dihadiri oleh tokoh intelektual bangsa.

Satu diantara tokoh penting tersebut adalah Moh. Yamin, Sekjend Front Nasional Sudibjo, Menteri Penghubung Alim Ulama Fattah Jasin, dan seterusnya.

Mereka yang biasanya saling bersikeras menguraikan pendapat untuk kemajuan bangsa di Istana, saat hari lebaran mencair layaknya saudara kandung yang terlihat harmonis.

Mereka juga saling bermaaf-maafan, Halal Bihalal. Sukarno suka dengan suasana demikian. Baginya jika ini terus dikembangkan dalam dunia politik Indonesia, maka tidak akan ada lagi perbedaan yang bisa membuatnya konflik dan berakhir pada kerugian.

Pada akhir sesi berlebaran di Istana Merdeka bersama Sukarno, tokoh-tokoh intelektual tersebut diarahkan oleh Sang Putra Fajar mendiskusikan arah politik negara. Sukarno ingin membuat rakyat Indonesia terus rukun kendati berbeda pilihan politik.

Baca Juga: Tradisi Mudik Lebaran, Potret Pulang Kampung Tahun 1970

Sejarah Halal Bihalal di Indonesia yang Mendapat Sambutan Hangat dari Rakyat

Selain direspon positif oleh tokoh-tokoh bangsa di Istana, agenda Halal Bihalal dari tahun 1948-1962 yang dibudayakan oleh Presiden Sukarno ternyata mendapat sambutan hangat dari rakyat Indonesia.

Hal ini dimanfaatkan oleh Presiden Sukarno untuk mempropagandakan Pembebasan Irian Barat. Sukarno sering mengkaitkan Halal Bihalal sebagai media perekat silaturahmi antar tokoh Nasional untuk merancang strategi pembebasan tanah Indonesia yang masih dikuasai oleh Belanda.

Peristiwa ini terlihat ketika Sukarno berpidato dengan menggebu-gebu sebagai berikut: “Mari pergiatlah terus Tri Komando Rakjat jang menjadi bebas kita bersama. Selama Belanda masih betjokol di Irian Barat. Dan kobarkan terus semangat rakjat untuk membebaskan Irian Barat tahun ini djuga”.

Presiden Sukarno optimis pada pernyataan di atas. Sebab ia meyakini jika Halal Bihalal bagian dari cara dirinya membangunkan jiwa Nasionalisme bangsa. Dengan demikian banyak rakyat yang tertarik pada pidatonya sehingga rela menjadi tentara sukarela berangkat mengusir Belanda di Irian Barat.

Sesuai dengan Tradisi Orang Jawa

Dalam sejarah tercatat ketika KH. Hasbullah memberikan gagasan Halal Bihalal, Presiden Indonesia kala itu Sukarno sempat memikirkannya berkali-kali. Pikiran Sukarno bimbang, ada dua pilihan baginya realisasikan atau tidak?

Namun seiring dengan jalan pikir Sukarno yang cepat, Halal Bihalal usulan KH. Hasbullah kemudian di-teken dan terealisasi. Konon alasan Sukarno merealisasikan Halal Bihalal karena budaya ini ternyata sesuai dengan tradisi kepribadian orang Jawa.

Baca Juga: Sejarah Menara Kudus, Masjid Peninggalan Walisongo Berusia 500 Tahun

Dalam filsafat Jawa, praktik Halal Bihalal sama dengan membersihkan hati dan pikiran dari partikel-partikel kecil yang kotor dan berisiko merusak kehidupan. Maka dari itu salah satu tujuan utama tradisi orang Jawa yang sesuai dengan ajaran Halal Bihalal adalah membuat kehidupan mereka semakin maju dari sebelumnya.

Tradisi Halal Bihalal yang diorientasikan ke dalam budaya Jawa dipercaya Sukarno dapat menolong konflik-konflik bangsa yang terjadi di Indonesia. Sebab satu-satunya penyebab konflik berkepanjang antar bangsa saat itu berasal dari perbedaan pandangan politik.

Perbedaan pandangan politik demikian hanya bisa diselesaikan dengan cara menciptakan visualisasi rukun para aktor politik. Halal Bihalal adalah agenda religius yang tepat untuk merealisasikan cita-cita di atas. Hanya dengan Halal Bihalal seluruh aktor politik bisa bersatu dalam satu meja dan mengobrol santai bersama Presiden tanpa tegang.

Optimisme Presiden Sukarno dalam mengatur perpolitikan Indonesia menggunakan program Halal Bihalal tercermin dari pernyataan berikut di bawah ini:

“Dalam melakukan tugas sutji ini. Tuhan tetap mendampingi dan berada di pihak kita jang benar dan diridhoi”. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Rainbow Slide Nalisa Cipanten di Majalengka

Menjajal Rainbow Slide Nalisa Cipanten yang Lagi Viral di Majalengka, Favorit Wisatawan saat Libur Lebaran

harapanrakyat.com,- Rainbow Slide di objek wisata Nalisa Cipanten, Kecamatan Sindang, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat sedang viral dan menjadi buruan wisatawan. Luar biasanya, wahana Rainbow...
Kapan ASN Harus Masuk Kantor Usai Lebaran 2025? Ini Jawaban Wamendagri

Kapan ASN Harus Masuk Kantor Usai Lebaran 2025? Ini Jawaban Wamendagri

harapabrakyat.com,- Seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) harus sudah masuk kantor pada Selasa tanggal 8 April 2025 seusai libur lebaran. Oleh karena itu, ASN tidak...
Pemudik di Stasiun Kota Banjar

Arus Balik Pemudik di Stasiun Kota Banjar Meningkat, Tiket Hingga H+7 Lebaran Ludes Terjual

harapanrakyat.com,- Memasuki H+3 lebaran Idul Fitri 1446 H situasi arus balik pemudik pengguna layanan kereta api Stasiun Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis (3/3/2025). Tiket...
Pengunjung pantai di Cikalong Tasikmalaya

Pengunjung Pantai di Cikalong Tasikmalaya Membludak, Petugas Perketat Keamanan

Harapanrakyat.com - Pada masa libur Lebaran 1446 Hijriah, pengunjung pantai di Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, membludak, Kamis (3/4/2024). Lonjakan pengunjung ini mendorong...
Pemancing Hanyut Terbawa Arus di Sungai Cipalu Tasikmalaya

Pemancing Hanyut Terbawa Arus Sungai di Tasikmalaya

harapanrakyat.com,- Seorang pemancing hanyut terbawa arus di Sungai Cipalu, Desa Nangelasari, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (2/4/2025) petang. Korban bernama Ratim (42)...
Kolam Renang Arnaya Ciamis

Kolam Renang Arnaya, Alternatif Wisata Murah saat Libur Lebaran di Ciamis

harapanrakyat.com,- Kolam Renang Arnaya yang terletak di Desa Jalatrang, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi oleh para wisatawan....