Sejarah wayang kulit Betawi pertama kali tampil di khalayak umum pada tanggal 1 Maret 1969. Pencipta seni pertunjukan tradisional asli ibu kota ini merupakan budayawan Metropolitan bernama Ki Kapang.
Sebagai pembuka pagelaran wayang Betawi, Ki Kapang mendalang di hadapan ratusan penonton selama semalam suntuk tanpa henti. Pertunjukan dalang Ki Kapang berlangsung di Studio V Radio Republik Indonesia Jakarta.
Turut hadir menyaksikan tamu-tamu penting kenegaraan antara lain, Hamengkubuwono IX, Menteri Penerangan Budiardjo, Ibu Artati Mardjuki, Bapak dan Ibu Subiakto, serta beberapa jajaran pejabat tinggi lainnya di kota metropolitan.
Penampilan Ki Kapang mendapat perhatian positif dari penonton. Baru kali itu seni pertunjukan tradisional ditonton oleh hadirin dari berbagai kalangan, remaja, dewasa, dan lansia. Semua menjadi satu dan riang gembira saat Ki Kapang membawakan lawakan.
Tamu hadirin penting seperti Hamengkubuwono IX juga memberikan penghormatan khusus pada Ki Kapang. Sebab di usianya yang sudah terbilang senja, yakni 70 tahun, Ki Kapang masih semangat mendalang dan memainkan wayang dengan cekatan.
Baca Juga: Sejarah Pajak di Indonesia, dari Zaman Kerajaan hingga Pasca Kemerdekaan
Wayang kulit khas Jakarta merupakan inovasi terbaru dari para seniman Betawi yang resah akibat modernisasi lambat laun telah menggerus adiluhung kesenian masyarakat Ibu Kota, khususnya masyarakat Betawi yang terpinggirkan ke daerah Bekasi.
Sejarah Wayang Kulit Betawi, Inovasi Para Seniman Metropolitan
Ki Kapang dibantu oleh 10 calon dalang muda asal Betawi menginginkan adanya pembentukan komunitas untuk melestarikan kesenian wayang kulit Betawi. Konon selain karena modernisasi masyarakat Betawi membuat wayang juga akibat ingin punya strata yang sama dengan kesenian orang Jawa –wayang kulit.
Jauh sebelum ide inovasi membuat wayang kulit khas Jakarta, Ki Kapang sang penggagas kesenian tersebut telah belajar selama 20 tahun mendalang pada Ki Dalang tersohor asal Banten bernama Kang Nisam.
Ki Kapang belajar cara mendalang pada gurunya itu semenjak usianya masih belia. Adapun dasar-dasar ilmu pewayangan yang Ki Kapang peroleh dari Kang Nisam adalah wayang golek sunda. Kendati demikian dalam wayang kulit khas Jakarta Ki Kapang membuatnya sedikit banyak berbeda.
Setelah usai berlatih pada Kang Nisam, Ki Kapang pulang ke kampungnya di Kampung Pulo, Desa Busilan, Kecamatan Tambun, Kabupaten Bekasi. Ketika ia berada di lingkungan tersebut banyak anak muda yang tertarik mempelajari pedalangan pada Ki Kapang.
Dari situlah ide pertama Ki Kapang muncul untuk membuat wayang kulit khas Jakarta. Kira-kira sejak tahun 1960-an, namun baru eksis dan tersohor di berbagai kalangan lintas generasi sejak tahun 1969.
Sejarah Wayang Kulit Betawi Terinspirasi Golek Sunda
Menurut Wahyono M dalam media cetak Manusia Indonesia: Madjalah Penggali Budaja yang terbit pada 26 Maret 1969 berjudul, “Tanggapan Tentang Wayang Kulit dari Tambun (Bekasi)”, wayang kulit yang lahir dari seniman Betawi sebagian besar terinspirasi oleh wayang golek dari budaya Sunda.
Baca Juga: Sejarah Musik Keroncong di Indonesia, Instrumen Tradisional Bangsa Moor
Hal ini terlihat dari Mahaguru Ki Kapang yang merupakan seniman sekaligus budayawan tersohor asal Banten –Kang Nisam. Selain itu jumlah wayang yang Ki Kapang gunakan keseluruhannya ada 120 buah, sama dengan jumlah wayang yang digunakan oleh dalang golek di tatar Sunda.
Tak hanya itu, kesamaan wayang kulit khas Jakarta juga terletak dari ornament. Pernak-pernik wayang yang banyak memakai atribut berkilauan.
Berbeda dengan wayang kulit pada umumnya yang hanya menggunakan kolaborasi warna tanpa pernak-pernik berlebihan.
Karena sering dikatakan sebagai hasil akulturasi budaya Betawi dan Sunda, dua murid teladan Ki Kapang bernama Sidik dan Amat mengubah tradisi di atas. Mereka membuat wayang kulit sendiri tanpa ornament berkilauan yang terlalu banyak.
Sidik dan Amat meminimalisir atribut itu dan mengoleksi beberapa wayang kulit dari Solo untuk kemudian dikolaborasikan di atas panggung. Ini mereka lakukan untuk mendobrak stigma bahwa wayang kulit khas Jakarta bukan terinspirasi oleh budaya Sunda, melainkan juga oleh budaya Jawa.
Adanya akulturasi budaya semacam ini menunjukan bahwa wayang kulit Betawi merupakan hasil pembentukan adiluhung kesenian masyarakat urban. Dengan begitu banyak penonton dari kalangan urban yang tertarik belajar dan ikut melestarikannya.
Baca Juga: Studiefonds Praja Mangkunegaran, Beasiswa Pendidikan Feodal yang Salah Sasaran
Memasukan Unsur Kesenian dari Budaya Tionghoa
Selain memadukan dua budaya yakni Sunda dan Jawa, wayang kulit khas Jakarta berbahasa Betawi ini memasukan sebagian kesenian dari budaya orang Tionghoa.
Ini terlihat dari perangkat pengiring tetabuhan dalang yang terdiri dari gamelan Slendro: Demung, Bonang, Terompet, 2 buah Saron, 2 buah ketuk –Gong Besar dan Gong Kecil.
Dalang wayang kulit khas Jakarta juga cenderung menganjurkan tetabuhan pengiring wayang dengan menggunakan musik pengiring Lenong dan Gambang Kromong. Yang mana kedua kesenian itu sarat akan adat dan tradisi dari kebudayaan orang Tionghoa.
Sebagai penutup, wayang kulit Betawi juga punya keunikan yang tak dipunyai oleh seni pertunjukan tradisional lainnya.
Wayang kulit Betawi tidak memakai sinden untuk mengiringi pertunjukannya. Kebutuhan vocal dirangkap oleh para pemain gamelan yang berasal dari suara bulat kaum adam. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)