Pada bulan April tahun 1949, berbagai surat kabar daerah hingga Nasional memberitakan keberhasilan TNI berantas DI/TII (Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia) di Cirebon.
Kurang lebih ada 1000 laskar bersenjata yang menjadi simpatisan DI/TII berhasil dibekuk TNI di Karesidenan Cirebon.
Peristiwa ini merupakan pencapaian Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Cirebon yang cukup bergengsi. Sebab di tengah gempuran konflik PKI dan Sekutu mereka bisa menumpas kekuatan DI/TII sebelum puncak pemberontakannya di Tasikmalaya pada 7 Agustus 1949.
Berita prestasi TNI di Cirebon saat itu sampai hingga ke pelosok dunia. Salah satunya di Belanda, Australia, Inggris, dan Amerika. Konon kabar keberhasilan TNI menumpas DI/TII bagian dari propaganda TNI menunjukan kekuatannya guna mengusir penjajah.
Baca Juga: Kasus Korupsi Serikat Kretek Semarang 1949, Pemicu Bentrok Tionghoa Vs Pribumi
Propaganda tersebut berhasil, Belanda menarik pasukannya kembali ke negeri asal dan mengakui kedaulatan Republik Indonesia pada 27 Desember 1949.
TNI Berhasil Berantas Pemimpin DI/TII Cirebon
Menurut surat kabar Sinpo, pada Sabtu 16 April 1949 bertajuk, “Tentara Islam Indonesia dibrantas oleh TNI”, Tentara Nasional Indonesia berhasil membekuk pemimpin DI/TII di daerah Kuningan, Cirebon, dan Indramayu.
Pemimpin DI/TII di Karesidenan Cirebon yang membawahi beberapa wilayah di atas yaitu seorang kapten Tentara Islam Indonesia bernama Kamran.
Kamran merupakan sosok paling ditakuti oleh para anggota dan simpatisan DI/TII. Kamran digambarkan oleh wartawan Sinpo (1949) sebagai lelaki berdarah dingin, tidak banyak berucap dan memiliki pandangan yang tajam menyeramkan.
Ia juga memimpin pergerakan DI/TII di daerah Kuningan, Cirebon dan Indramayu. Ketika Kamran keliling wilayah kekuasaannya di Karesidenan Cirebon, secara terang-terangan Kamran mempropagandakan permusuhannya pada TNI dan Republik Indonesia.
Anehnya Kamran justru menghargai Sukarno sebagai pemimpin republik ini. Hal ini yang membuat beberapa peneliti kebingungan hingga melahirkan hipotesa apakah pemberontakan DI/TII di seluruh Jawa Barat berbeda-beda?
Baca Juga: De Waarheid, Koran Komunis Belanda yang Serang Wapres Hatta
Berikut adalah tiga propaganda Kamran untuk membentuk kader DI/TII di Kuningan, Cirebon, dan Indramayu:
(1) Membasmi orang-orang yang tidak bersembahyang, (2) TNI menjadi musuh bersama kelompok DI/TII, dan (3) Mengakui Sukarno sebagai Presiden.
Propaganda Kamran sempat berhasil. Ia bisa merekrut 1000 kader DI/TII dari daerah Kuningan, Cirebon, dan Indramayu.
Kendati demikian Kamran tak bisa mempertahankan kekuasaan tersebut, sebab TNI berhasil membekuk Kamran dan meredam kekuatan para pengikutnya.
Sebelum Membekuk Kamran, TNI Menawarkan Kerjasama: Damai
Wartawan surat kabar milik orang Tionghoa, Sinpo juga meliput bagaimana saat itu TNI sempat menawarkan kerjasama dengan DI/TII agar berdamai dan mencegah konflik yang bisa mengakibatkan jatuhnya korban.
Namun Kamran menolaknya, sebagaimana yang tertulis dalam surat kabar Simpo (1949) berikut kutipannya:
“Beroelang-oelang pasoekan TNI di daerah Koeningan, Cirebon, dan Inderamaju menawarken kerdjasama dengan pasoekan-pasoekan liar TII pimpinan Kamran, tetapi permintaan senantiasa ditolaknja dengan berbagai alesan jg tida masoek akal”.
Akhirnya TNI mengambil sikap, ketimbang telat dan bisa mengancam stabilitas keamanan negara maka TNI menyerang pengikut Kamran di Kuningan, Cirebon, dan Indramayu. Akibatnya timbul korban yang berasal dari kedua belah pihak.
Banyak anggota TNI yang terluka dan meninggal dunia, begitupun dengan pasukan DI/TII yang brutal menembakan pelurunya ke berbagai sudut mata angin.
Kendati harus banyak anggota yang jadi korban, TNI berhasil membekuk Kamran. Mereka juga sukses menghancurkan pertahanan DI/TII di daerah Kuningan, Cirebon, hingga Indramayu. Paling tidak di Karesidenan Cirebon kekuatan DI/TII sudah lemah.
Bahkan wartawan Sinpo juga melaporkan bahwa TNI berhasil menyadarkan 1000 pasukan lasykar liar yang dahulu kena brainwash (cuci otak) DI/TII. Terutama perang jihadis –melawan segala bentuk kemunafikan dunia agar mendapatkan ganjaran surga.
Baca Juga: Sejarah Batalyon Jago, Penumpas Gerombolan DI/TII di Kota Banjar
DI/TII di Cirebon Melenceng dari Arah Perjuangan
Menurut Panglima Tertinggi DI/TII di Jawa Barat, Djarkowi, pasukan anggotanya yang dipimpin oleh Kamran di Cirebon telah melenceng dari arah perjuangan.
DI/TII di tanah wali ini melenceng akibat kurangnya perhatian markas besar DI/TII yang selalu berpindah-pindah di hutan –tersembunyi. Maka dari itu minimnya komunikasi antar pemimpin juga jadi persoalan penyebab tak serasinya gerakan DI/TII di Cirebon.
Salah satu akibat dari ketimpangan komunikasi antar markas besar dengan gerakan DI/TII di Cirebon yaitu lahirnya serangan-serangan DI/TII yang tak kompak dan terlihat janggal. Mereka tidak jalan sesuai dengan arahan Kamran, meskipun ada 1000 laskar simpatisan DI/TII di Cirebon, gerakan selalu gagal dan menimbulkan korban.
Pada puncaknya ketidak kompakan gerakan DI/TII mengorbankan Kamran. Pemimpin DI/TII di Cirebon itu tertangkap TNI begitupun dengan berbagai laskar simpatisannya, karena bingung dan panik, TNI mudah membekuk mereka dalam beberapa menit saja.
TNI berhasil memadamkan api perjuangan DI/TII di Cirebon, akan tetapi belum di Jawa Barat secara utuh dan keseluruhan. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)