Bung Karno mewariskan sejarah Nasakom sebagai sebuah jembatan emas bagi bangsa Indonesia untuk menyeberangi lautan badai perpecahan ideologi. Namun kesempatan itu disia-siakan oleh rakyatnya hingga saat ini, Nasakom Bung Karno tak pernah terwujud.
Nasakom yang berarti Nasionalis, Agamis, dan Komunis adalah sebuah konsep yang lahir dari pemikiran Bung Karno sejak tahun 1927.
Saat itu Bung Karno masih belia dan sedang jadi anak muda yang hobi diskusi dan berpidato. Menurut Bung Karno muda, rakyat di dunia yang ia pijak itu dapat dibagi kedalam 3 kelompok berdasarkan ideologi besar dunia: Nasionalis, Agamis, dan Komunis.
Maka dari itu Bung Karno mencoba mewadahi mereka dalam satu ruang. Tujuannya agar saling bersatu dan menelurkan ide-ide brilian untuk kemajuan bangsa.
Namun konsep ini ditolak oleh rakyatnya. Sejak Bung Karno melahirkan gagasan tersebut Nasakom tak pernah diterima oleh kalangan Agamis. Begitupun dengan orang-orang Nasionalis –terlepas dari Bung Karno sebagai bapak Nasionalis bangsa Indonesia.
Baca Juga: Pemberantasan Buta Huruf 1962 dan Kisah Sukarno Sindir Wartawan Asing
Pada akhirnya konsep Nasakom Bung Karno tinggal kenangan kelam sejarah Indonesia yang belum selesai. Namun satu hal yang perlu kita ketahui dari Nasakom, Bung Karno punya keyakinan besar bahwa Nasakom merupakan kunci untuk merekatkan persatuan.
Dengan Nasakom, bangsa Indonesia yang multikultural bisa menyatu dalam konsep tersebut. Namun apa daya kesadaran pada masa depan kala itu masih ragu, Nasakom pun tak terjadi. Bung Karno kecewa sampai hari wafatnya pada 21 Juni 1970.
Sejarah Nasakom, Rakyat Indonesia Menolaknya
Meskipun Bung Karno gencar mempromosikan konsep Nasakom berkali-kali di hadapan ribuan rakyat, mereka tetap menolak dan melupakan ajaran universal Bung Karno tersebut.
Konon rakyat Indonesia menuduh Bung Karno terlalu naif dan narsis dengan konsep Nasakom. Percaya diri berlebihan Bung Karno membuat bangsanya jadi hilang respect. Apalagi menjelang tahun 1960-an, rakyat Indonesia benar-benar menolak Nasakom.
Adapun kelompok dominan yang rajin mempropagandakan anti Nasakom yaitu golongan Islamisme. Mereka menolak disatukan dengan golongan komunis sebab orang-orang komunis adalah atheis. Tidak percaya Tuhan, kafir, dan menyesatkan bangsa.
Selain datang dari golongan Islamisme penolakan selanjutnya juga hadir dari golongan Nasionalis. Mereka lebih menentang sikap Bung Karno yang lama kelamaan cenderung berperilaku layaknya pemimpin otoriter.
Sebagaimana dengan kasus Nasakom, Bung Karno seolah-olah menghalalkan segala cara supaya gagasan itu bisa terwujud. Oleh sebab itu golongan Nasionalis mengkritik tajam, termasuk menolak dan tidak bersedianya untuk menyetujui penerapan Nasakom tahun 1963.
Begitu pun dengan rakyat sipil biasa. Dalam catatan sejarah, akibat dua golongan tak menyetujui Nasakom menjadi ideologi birokrasi, mereka tidak mengindahkan kehendak orang nomor satu di Indonesia itu yang tersimpan sejak usianya masih muda.
Baca Juga: Allen Dulles, Agen CIA Pemicu Kerusuhan G30S Tahun 1965
Rakyat menolak Nasakom, terlebih rakyat yang anti pada Partai Komunis Indonesia (PKI). Mereka menjauhkan diri dari pengaruh Nasakom Bung Karno, seolah-olah apatis dengan keadaan politik kala itu, dan mereka selamat.
Nasakom Ditolak, Bung Karno Kritik Golongan Islam
Sebagaimana yang tertera dalam surat kabar Harian Pagi Duta Masjarakat yang terbit pada Kamis, 1 Januari 1963 bertajuk, “Adjaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno: Islamisma! Ke-Islam-an! (No.12)”, menyebut Bung Karno telah mengkritik golongan Islam karena menolak konsep Nasakom.
Dalam kritiknya Bung Karno menyayangkan mengapa ideologi Islam dan Marxisme (Komunis) tidak bisa bersatu. Padahal dua kekuatan super ini punya kesamaan yang kuat untuk membangun negara menjadi maju dan sejahtera.
Adapun kritik tersebut Bung Karno sampaikan berdasarkan pada kutipan surat kabar Harian Pagi Duta Masjarakat (1963) berikut ini:
“Pergerakan Islam dan pergerakan Marxis itu belum pernahlah di negeri kita ini ada pergerakan jang begitu menggentarkan sampai ke dalam urat sungsumnja rakjat. Alangkah hebatnja djikalau dua pergerakan ini dengan mana rakjat itu tidur dan dengan mana rakjat itu bangun bersatu mendjadi satu bandjir, satu bandjir jang sekuasa-kuasanja”.
Bung Karno menyampaikan uneg-unegnya supaya golongan Islamisme insyaf dan segera bersatu –melegalkan Nasakom untuk sama-sama berjuang membuat bangsa dan negara maju. Pernyataan ini sebagaimana mengutip Harian Pagi Duta Masjarakat (1963) sebagai berikut:
“Bagaimanalah kaum pergerakan Islam jang insjaf dan mana akan pertuan. Bagialah mereka oleh karena merekalah jang sesungguhnja mendjalankan perintah2 agamanja!”.
Memaksakan Nasakom, Bung Karno Tumbang dari Jabatannya
Banyak yang mensinyalir Bung Karno telah memaksakan konsep Nasakom secara berlebihan, para ahli sejarah menilai hal itu sebagai penyebab mendasar dari tumbangnya Bung Karno sebagai Presiden.
Peristiwa penumbangan Presiden Seumur Hidup Bung Karno terjadi ketika ia terlibat kerusuhan G30 S pada tahun 1965. Dua tahun setelah Bung Karno gagal terus menerapkan konsep Nasakom pada rakyat Indonesia.
Baca Juga: Kisah Sukarno Pilih Jalan Oposisi dengan Pemerintah Kolonial Belanda
Konon kerusuhan tersebut membuat rakyat Indonesia tidak percaya lagi pada pemerintahan Bung Karno. Kesalahan dan kesesatan Nasakom semakin jelas terlihat, golongan Islam tampaknya telah menyelamatkan rakyat luas dari jebakan tersebut.
Bung Karno ketar-ketir pasca G30 S 1965 berlangsung. Ia semakin panik tatkala demonstrasi terjadi di berbagai sudut jalan Ibu Kota Jakarta.
Apalagi ketika sidang kabinet di Istana Merdeka terdapat unidentified forces menuju ke tempat Bung Karno rapat. Peristiwa ini membuat Bung Karno melarikan diri ke istana Bogor menggunakan helikopter.
Adapun demonstrasi itu melahirkan tiga tuntutan yang disebut dengan Tritura. Antara lain menuntut agar Bung Karno segera membubarkan PKI –termasuk ideologinya tentang Nasakom, membersihkan kabinet Dwikora dari kekuatan komunis, dan menurunkan harga pangan –stabilisasi ekonomi bangsa.
Sampai Bung Karno jatuh pada tanggal 11 Maret 1966, Nasakom tidak pernah terwujud. Bahkan hingga Bung Karno meninggal dunia pada tahun 1970, konsep Nasakom tinggal cerita. Pemerintah Orde Baru menjauhkannya dari konsep bernegara di Indonesia.
Pemerintahan Orde Baru yang dikomandoi oleh Presiden Suharto mencap Nasakom adalah gagasan terlarang. Bagi Orde Baru Nasakom merupakan konsep absolut yang tak bisa diterapkan dalam masyarakat pemilik budaya timur yang kuat. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)