Jumat, April 4, 2025
BerandaBerita TerbaruSejarah Musik Keroncong di Indonesia, Instrumen Tradisional Bangsa Moor

Sejarah Musik Keroncong di Indonesia, Instrumen Tradisional Bangsa Moor

Sejarah musik keroncong di Indonesia ternyata tak lepas dari peran Bangsa Moor yang mempengaruhi budaya bermusik orang Portugis.

Bangsa Portugis menyebarkan budaya musik keroncong melalui jalur pelayaran, salah satu yang diwariskan Portugis untuk tempat-tempat yang pernah disinggahinya –termasuk Indonesia adalah instrumen tradisional bangsa Moor alias keroncong.

Menurut Agnes Sri Widjajadi dalam buku berjudul, “Mendayung di Antara Tradisi dan Modernitas: Sebuah Penjelajahan Ekspresi Budaya terhadap Musik Keroncong” (2007), musik keroncong di Indonesia merupakan hasil enkulturasi budaya berbagai negara. Seperti budaya Jawa, Portugis, Bangsa Moor di Afrika Utara, dan Belanda.

Agnes menyangkal para sejarawan yang menyebut musik keroncong berasal dari Portugis asli. Sebab di Portugis sendiri musik ini memiliki perbedaan bunyi dengan keroncong yang ada di Indonesia.

Baca Juga: Pangeran Notokusumo: Raja Pakualam I Pemberantas Gerombolan Kecu

Sedangkan pengamat musik Barat, Ernest Heins memperluas pandangannya soal musik keroncong sebagaimana yang Agnes kemukakan.

Ernest menganggap musik keroncong tidak hanya terpaut oleh beberapa negara, tetapi musik ini ada akibat dari multiras culture tercampur unsur-unsur budaya Eropa Utara, Afrika, dan Nusantara.

Sejarah Musik Keroncong di Indonesia, Keroncong Merupakan Musik Hibrida

Menurut Ririn Darini dalam Jurnal Sejarah UNY, Vol. 6, No. (1) (2012) berjudul, “Keroncong: Dulu dan Kini”, Victor Ganafi, ahli budaya lintas dunia meyakini keroncong merupakan musik hibrida.

Artinya, musik keroncong merupakan komponen budaya yang menyatu melalui proses perjalanan sejarah yang panjang dengan segala keunikannya.

Musik keroncong menemukan identitas dirinya akibat dari benturan-benturan budaya yang berasal dari berbagai negara termasuk Indonesia.

Oleh sebab itu musik ini melahirkan berbagai istilah unik, salah satunya seperti keroncong mooresco, keroncong toegoe, dan lain sebagainya.

Penamaan keroncong mooresco berkaitan erat dengan pertanda bahwa musik ini dipengaruhi oleh budaya bangsa Moor di Afrika Utara.

Mereka merupakan bangsa Afrika yang didominasi oleh orang Islam. Konon bangsa Moor mendatangi Portugis di abad ke8-13, kedatangan mereka membawa perubahan budaya di sana. Salah satunya budaya berkesenian –menciptakan musik keroncong mooresco.

Sedangkan keroncong toegoe adalah jenis aliran musik hibrida dari bangsa Moor yang tumbuh di sekitar kampung Toegoe, Batavia –sekarang Jakarta. Penamaan komunitas keroncong jadi penanda bahwa musik tersebut bukan berasal dari satu wilayah tertentu.

Musik Keroncong Masuk ke Indonesia

Sejarah musik keroncong masuk ke Indonesia dibawa oleh para pelaut Portugis pada abad ke-16 masehi. Mereka berlayar dari Portugis dan mendarat di Goa, Malaka, dan kepulauan Maluku.

Sesaat mendarat untuk melanjutkan penjelajahannya di Nusantara, orang-orang Portugis menghibur diri dengan bermain musik keroncong mooresco. Aktivitas ini rutin mereka lakukan kala sore menjelang matahari terbenam.

Baca Juga: Allen Dulles, Agen CIA Pemicu Kerusuhan G30S Tahun 1965

Kenikmatan melodi yang timbul dari gitar kecil (ukulele) bangsa Portugis mengundang perhatian masyarakat setempat. Mereka lalu mencontoh bagaimana cara orang Portugis bermain musik. Sejak saat itu lahir beberapa orang Maluku yang bisa memainkan keroncong mooresco.

Hiburan bermain keroncong mendadak berubah tatkala VOC datang dan menguasai Nusantara pada tahun 1602.

Mereka fokus pada pelayaran dagang dan kurang memperhatikan kepentingan estetika. Oleh sebab itu orang-orang VOC tidak mewariskan kesenian bermusik sebagaimana yang bangsa Portugis lakukan dahulu.

Para pemain keroncong mooresco dari orang Portugis menghindari dominasi VOC di Maluku dan lari menuju Batavia. Mereka juga tinggal di satu perkampungan bernama Kampung Togoe. Permainan keroncong mereka mulai dari sana, menghibur masyarakat kampung hingga disukai oleh para bangsawan Eropa.

Aktivitas bermain musik keroncong di tempat itu membentuk penamaan musik keroncong tugu. Selain itu asal-usul penamaan keroncong juga mulai terkenal luas sejak orang-orang Batavia tertarik dengan suara ukulele yang berbunyi, crong-crong-crong.

Baca Juga: Kegagalan John F Kennedy Menguasai Gunung Emas di Indonesia

Jakarta Sentral Musik Keroncong

Perkembangan musik keroncong di Indonesia terpusat berada di Jakarta. Hal ini terjadi karena pada saat itu Portugis membawa musik keroncong lari dari Maluku ke Batavia. Mereka di sana mengagendakan secara rutin pertunjukan musik keroncong.

Antara lain agenda pemain keroncong tugu yang sering manggung di pasar Gambir. Setiap malam minggu dan hari tertentu biasanya penampilan keroncong tersebut akan padat pengunjung.

Para pemain keroncong yang berasal dari Portugis meregenerasi kepiawaiannya bermain musik pada komunitas orang Banda yang berdomisili di kampung Bandan.

Di tempat tersebut lahir pula peminat lain yang mengimitasi keroncong dari komunitas Indo-Belanda di Kemayoran dan komunitas tentara Belanda di Weltevreden.

Hingga pada puncaknya musik keroncong yang terpusat di Batavia menyebar ke Surabaya. Di kota bersimbol hiu dan buaya tersebut musik keroncong mengalami pembaruan. Selain tampil solo instrumen, biasanya orang Surabaya memadukan musik keroncong dengan penampilan teater.

Musik keroncong juga menjadi instrumen tradisional pengiring pertunjukan Sandiwara Komedi para bangsawan bernama Komedie Stamboel. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Kisah Polisi Jujur di Garut, Kembalikan Dompet Berisi Uang Rp 5 Juta Milik Pemudik

Kisah Polisi Jujur di Garut, Kembalikan Dompet Berisi Uang Rp 5 Juta Milik Pemudik

harapanrakyat.com,- Sikap jujur Ipda Hadiansyah, salah seorang perwira polisi dari Polres Garut, Jawa Barat, patut diapresiasi. Pasalnya, Hadiansyah mengembalikan uang pemudik yang hilang di...
Atap Ruang Kelas MI di Sukanagara Ciamis Ambruk Usai Hujan Deras

Atap Ruang Kelas MI di Sukanagara Ciamis Ambruk Usai Hujan Deras

harapanrakyat.com,- Atap ruang kelas Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Desa Sukanagara, Kecamatan Jatinagara, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, ambruk pada Kamis (3/4/2025) sekitar  pukul 17.45 WIB....
Banjir Lumpur Terjang Pemukiman Warga di Sumedang

Banjir Lumpur Terjang Pemukiman Warga di Sumedang, 22 Rumah Terdampak

harapanrakyat.com,- Hujan deras yang mengguyur wilayah Sumedang, Jawa Barat, pada Kamis (3/4/2025) petang kemarin, memicu terjadinya banjir lumpur. Bencana alam tersebut melanda pemukiman warga...
Tim SAR Temukan Wisatawan Asal Garut Terseret Arus di Pantai Pangandaran

Tim SAR Temukan Wisatawan Asal Garut Terseret Arus di Pantai Pangandaran, Ini Kondisinya

harapanrakyat.com,- Tim SAR akhirnya menemukan wisatawan asal Kabupaten Garut yang hilang terseret arus Pantai Pangandaran, Jawa Barat, Jumat (4/4/2025). Setelah dilakukan pencarian dalam kurun...
Nadin Amizah Tuai Hujatan Pasca Akui Menyesal Ikut Ajang Pencarian Bakat

Nadin Amizah Tuai Hujatan Pasca Akui Menyesal Ikut Ajang Pencarian Bakat

Nadin Amizah tuai hujatan pedas dari warganet. Ini merupakan buntut panjang pasca pengakuan Nadin yang menegaskan jika ia menyesal pernah ikut ajang pencarian bakat...
Penampakan Kepadatan Arus Balik Lebaran di Jalur Selatan Garut Hari Ini

Penampakan Kepadatan Arus Balik Lebaran di Jalur Selatan Garut Hari Ini

harapanrakyat.com,- Kepadatan arus balik lebaran di jalur selatan Garut, Jawa Barat, kembali terlihat pada Jumat (4/4/2025) pagi ini. Arus balik kendaraan dari arah Tasikmalaya,...