Sejarah musik keroncong di Indonesia ternyata tak lepas dari peran Bangsa Moor yang mempengaruhi budaya bermusik orang Portugis.
Bangsa Portugis menyebarkan budaya musik keroncong melalui jalur pelayaran, salah satu yang diwariskan Portugis untuk tempat-tempat yang pernah disinggahinya –termasuk Indonesia adalah instrumen tradisional bangsa Moor alias keroncong.
Menurut Agnes Sri Widjajadi dalam buku berjudul, “Mendayung di Antara Tradisi dan Modernitas: Sebuah Penjelajahan Ekspresi Budaya terhadap Musik Keroncong” (2007), musik keroncong di Indonesia merupakan hasil enkulturasi budaya berbagai negara. Seperti budaya Jawa, Portugis, Bangsa Moor di Afrika Utara, dan Belanda.
Agnes menyangkal para sejarawan yang menyebut musik keroncong berasal dari Portugis asli. Sebab di Portugis sendiri musik ini memiliki perbedaan bunyi dengan keroncong yang ada di Indonesia.
Baca Juga: Pangeran Notokusumo: Raja Pakualam I Pemberantas Gerombolan Kecu
Sedangkan pengamat musik Barat, Ernest Heins memperluas pandangannya soal musik keroncong sebagaimana yang Agnes kemukakan.
Ernest menganggap musik keroncong tidak hanya terpaut oleh beberapa negara, tetapi musik ini ada akibat dari multiras culture tercampur unsur-unsur budaya Eropa Utara, Afrika, dan Nusantara.
Sejarah Musik Keroncong di Indonesia, Keroncong Merupakan Musik Hibrida
Menurut Ririn Darini dalam Jurnal Sejarah UNY, Vol. 6, No. (1) (2012) berjudul, “Keroncong: Dulu dan Kini”, Victor Ganafi, ahli budaya lintas dunia meyakini keroncong merupakan musik hibrida.
Artinya, musik keroncong merupakan komponen budaya yang menyatu melalui proses perjalanan sejarah yang panjang dengan segala keunikannya.
Musik keroncong menemukan identitas dirinya akibat dari benturan-benturan budaya yang berasal dari berbagai negara termasuk Indonesia.
Oleh sebab itu musik ini melahirkan berbagai istilah unik, salah satunya seperti keroncong mooresco, keroncong toegoe, dan lain sebagainya.
Penamaan keroncong mooresco berkaitan erat dengan pertanda bahwa musik ini dipengaruhi oleh budaya bangsa Moor di Afrika Utara.
Mereka merupakan bangsa Afrika yang didominasi oleh orang Islam. Konon bangsa Moor mendatangi Portugis di abad ke8-13, kedatangan mereka membawa perubahan budaya di sana. Salah satunya budaya berkesenian –menciptakan musik keroncong mooresco.
Sedangkan keroncong toegoe adalah jenis aliran musik hibrida dari bangsa Moor yang tumbuh di sekitar kampung Toegoe, Batavia –sekarang Jakarta. Penamaan komunitas keroncong jadi penanda bahwa musik tersebut bukan berasal dari satu wilayah tertentu.
Musik Keroncong Masuk ke Indonesia
Sejarah musik keroncong masuk ke Indonesia dibawa oleh para pelaut Portugis pada abad ke-16 masehi. Mereka berlayar dari Portugis dan mendarat di Goa, Malaka, dan kepulauan Maluku.
Sesaat mendarat untuk melanjutkan penjelajahannya di Nusantara, orang-orang Portugis menghibur diri dengan bermain musik keroncong mooresco. Aktivitas ini rutin mereka lakukan kala sore menjelang matahari terbenam.
Baca Juga: Allen Dulles, Agen CIA Pemicu Kerusuhan G30S Tahun 1965
Kenikmatan melodi yang timbul dari gitar kecil (ukulele) bangsa Portugis mengundang perhatian masyarakat setempat. Mereka lalu mencontoh bagaimana cara orang Portugis bermain musik. Sejak saat itu lahir beberapa orang Maluku yang bisa memainkan keroncong mooresco.
Hiburan bermain keroncong mendadak berubah tatkala VOC datang dan menguasai Nusantara pada tahun 1602.
Mereka fokus pada pelayaran dagang dan kurang memperhatikan kepentingan estetika. Oleh sebab itu orang-orang VOC tidak mewariskan kesenian bermusik sebagaimana yang bangsa Portugis lakukan dahulu.
Para pemain keroncong mooresco dari orang Portugis menghindari dominasi VOC di Maluku dan lari menuju Batavia. Mereka juga tinggal di satu perkampungan bernama Kampung Togoe. Permainan keroncong mereka mulai dari sana, menghibur masyarakat kampung hingga disukai oleh para bangsawan Eropa.
Aktivitas bermain musik keroncong di tempat itu membentuk penamaan musik keroncong tugu. Selain itu asal-usul penamaan keroncong juga mulai terkenal luas sejak orang-orang Batavia tertarik dengan suara ukulele yang berbunyi, crong-crong-crong.
Baca Juga: Kegagalan John F Kennedy Menguasai Gunung Emas di Indonesia
Jakarta Sentral Musik Keroncong
Perkembangan musik keroncong di Indonesia terpusat berada di Jakarta. Hal ini terjadi karena pada saat itu Portugis membawa musik keroncong lari dari Maluku ke Batavia. Mereka di sana mengagendakan secara rutin pertunjukan musik keroncong.
Antara lain agenda pemain keroncong tugu yang sering manggung di pasar Gambir. Setiap malam minggu dan hari tertentu biasanya penampilan keroncong tersebut akan padat pengunjung.
Para pemain keroncong yang berasal dari Portugis meregenerasi kepiawaiannya bermain musik pada komunitas orang Banda yang berdomisili di kampung Bandan.
Di tempat tersebut lahir pula peminat lain yang mengimitasi keroncong dari komunitas Indo-Belanda di Kemayoran dan komunitas tentara Belanda di Weltevreden.
Hingga pada puncaknya musik keroncong yang terpusat di Batavia menyebar ke Surabaya. Di kota bersimbol hiu dan buaya tersebut musik keroncong mengalami pembaruan. Selain tampil solo instrumen, biasanya orang Surabaya memadukan musik keroncong dengan penampilan teater.
Musik keroncong juga menjadi instrumen tradisional pengiring pertunjukan Sandiwara Komedi para bangsawan bernama Komedie Stamboel. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)