Sejarah Gedung Jasindo menarik untuk ditelusuri bersama. Karena ternyata bangunan tua zaman kolonial ini dahulu merupakan kantor urusan dagang daerah Jawa Barat (Jabar). Pusat berkumpulnya rempah-rempah dari wilayah Priangan sebelum berlayar ke benua Eropa.
Gedung Jasindo terletak di kawasan cagar budaya Kota Tua Jakarta. Pada zaman kolonial Hindia Belanda wilayah tersebut terkenal dengan sebutan Oude Batavia.
Saat ini bangunan Gedung Jasindo menjadi Kantor PT. Asuransi Jasa Indonesia (Persero). Tempat tersebut masih beroperasi dan menjadi salah satu bangunan berkategori dilindungi undang-undang cagar budaya sejak tahun 2019 lalu.
Bangunan penuh narasi historis ini menjadi bukti nyata bahwa Jakarta merupakan pusat perdagangan Nusantara.
Baca Juga: Pameran Pasar Gambir Tahun 1933, Cikal Bakal Jakarta Fair
Oleh sebab itu narasi ini perlu dilestarikan melalui berbagai kebijakan. Salah satunya menggunakan aturan pemerintah yang mengacu pada perlindungan nilai sejarah dan budaya bangsa. Lantas bagaimana sejarah utuh dari Gedung Jasindo, berikut ulasannya.
Sejarah Gedung Jasindo: Eks- Kantoorgerbouw West Java (WEVA)
Menurut arkeolog senior, Andrian Attahiyat dalam majalah Tempo (2019) berjudul, “Sejarah Pengelolaan Kota Tua DKI Jakarta: Jilid II”, Gedung Jasindo awalnya merupakan kantor urusan dagang Jawa Barat bernama Kantoorgerbouw West Java (WEVA) Handel Maatschappij.
Bangunan tua nan megah ini berdiri pada tahun 1920. Namun belakangan ada beberapa sejarawan yang menyebut Gedung Jasindo sudah ada sejak tahun 1912.
Walaupun demikian, silang pendapat mengenai tahun pembangunan Gedung Jasindo memunculkan fakta bahwa bangunan ini sudah ada sejak abad ke-20 masehi.
Gedung Jasindo menjadi kantor urusan dagang wilayah Jawa Barat artinya, menjadi tempat administrasi pusat perdagangan komoditi ekspor seperti rempah.
Gedung Jasindo juga sebagian besar mengurus distribusi keluar masuk rempah dari daerah Priangan ke Benua Eropa. Semacam badan cukai rempah yang mengurus izin ekspor.
Narasi tersebut sedikit banyak menyampaikan betapa besarnya nilai historis yang terkandung dalam Gedung Jasindo.
Bahkan sebagian sejarawan Indonesia menyatakan gedung ini menjadi gudang yang berdiri di titik pusat peradaban rempah yang ada di Hindia Belanda.
Oleh sebab itu Gedung Jasindo kaya akan nilai historis yang menyimpan memori kolektif bangsa. Maka dari itu gedung tersebut kini menjadi bagian dari warisan kolonial yang tak terlupakan. Gedung Jasindo dilindungi Undang-Undang Cagar Budaya.
Baca Juga: Sejarah Museum Fatahillah, Eks Balai Kota Batavia
Sejarah Arsitektur Gedung Jasindo Bergaya Art Deco
Menurut buku panduan kota tua Jakarta berjudul, “Guidelines Kota tua” (2007), Gedung Jasindo memiliki arsitektur bergaya Art Deco. Jenis bangunan ini sama dengan rumah, perkantoran, dan museum-museum yang ada di Benua Eropa sebelum tahun 1800.
Gaya arsitektur Art Deco merupakan strategi sang arsitek untuk membuat bangunan yang cocok (tidak membuat gerah/panas) di wilayah beriklim tropis seperti Hindia Belanda.
Sebab bangunan Art Deco punya peluang mengalirkan udara panas dari luar ke atas atap. Sehingga menimbulkan udara dingin ke dalam ruangan kendati cuaca di luar panas.
Arsitektur jenis Art Deco menginspirasi beberapa warga kolonial untuk membangun hunian pribadi. Mereka membangun rumah di daerah Weltevreden (Sekarang Jakarta sekitar Monas) dengan gaya Art Deco.
Tujuannya agar penghuni rumah nyaman tinggal di daerah Batavia yang notabene punya cuaca panas.
Selain Gedung Jasindo dan peninggalan rumah-rumah zaman Belanda yang berada di sekitar Weltevreden, jejak arsitektur Art Deco bisa kita temukan di gaya bangunan stasiun Tandjong Priok.
Ada pula beberapa bangunan lain di luar Batavia seperti Gedung de Javasche Bank (gedung BNI), dan komplek perumahan Kotabaru di Yogyakarta.
Hingga saat ini Gedung Jasindo masih mempertahankan orisinalitas gaya Art Deco. Jika kita bertandang ke komplek kota tua Jakarta, akan kita temui Gedung Jasindo masih berdiri kokoh dan terasa nyaman saat berada di bawah atap bangunan tersebut.
Gedung Jasindo jadi Destinasi Wisata Bersejarah
Saat ini Gedung Jasindo menjadi salah satu destinasi wisata bersejarah di Jakarta yang popular. Banyak selebgram-selebgram yang datang ke tempat tersebut untuk membuat konten. Sebagian besar lainnya para pengunjung dharma wisata dari anak-anak sekolah.
Kendati menjadi destinasi wisata sejarah, Gedung Jasindo masih aktif menjadi kantor PT. Asuransi Jasa Indonesia (Persero). Biasanya para wisatawan hanya bisa berswa foto di depan teras gedung tersebut.
Baca Juga: Razia PSK di Batavia Tahun 1936, Menteng Jadi Pusatnya
Apabila penasaran ingin masuk ke dalam Gedung Jasindo, silahkan hubungi terlebih dahulu pimpinan kantor PT. Asuransi Jasa Indonesia (Persero) dan sampaikan maksud dan tujuan.
Selain karena gaya arsitektur yang indah dan kaya akan nilai historis, bangunan Gedung Jasindo juga nyaman dan diidolakan para seniman Jakarta. Mereka kerap melukis bangunan tua di depan Gedung Jasindo yaitu Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta).
Karena diapit oleh pepohonan yang rindang dan tingginya Gedung Jasindo, para seniman biasa berteduh dan melukis di tempat tersebut.
Jika bulan Ramadhan tiba, komplek Gedung Jasindo jadi tempat pilihan masyarakat Jakarta bertamasya. Ada pula yang datang ke sana untuk ngabuburit menunggu waktu berbuka tiba. Lingkungan kota tua Jakarta selalu ramai, jarang sepi pengunjung pada bulan Ramadhan. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)