Pembiasan cahaya serta sejarah penemuannya menjadi teori. Sejarah penemuan pembiasan dari cahaya ini sangat penting. Refraksi sendiri merupakan teori dasar fisika yang perlu Anda kuasai.
Materi pembiasan ini bahkan sudah ada dipelajari oleh siswa di bangku SMP. Itulah kenapa, teori ini sangat penting.
Secara pengertian, ilmu dasar optik ini bisa Anda ketahui sebagai refraksi. Ini merupakan peristiwa belok arah sinar.
Pembelokan arah sinar tersebut dapat terjadi karena perbedaan medium. Simak penjelasan lebih lanjut di sini!
Baca Juga: Teori Kecepatan Cahaya: Pengertian dan Cara Menghitungnya
Pengertian dan Sejarah Pembiasan Cahaya
Mungkin Anda pernah memahami secara sekilas mengenai proses refraksi atau pembiasan ini. Materi ini bahkan ada di bangku sekolah.
Salah satu contoh pembiasan ini yang sangat terkenal adalah pelangi. Pelangi sendiri memiliki warna yang sangat menarik.
Cahaya sendiri adalah suatu gelombang elektromagnetik yang merambat lurus ke berbagai arah dengan kecepatan 3 x 108 m/s dan panjang gelombang sekitar 380 hingga 750 nm.
Secara sederhana, refraksi merupakan peristiwa pembelokan cahaya ketika melewati dua zat atau medium. Ketika proses tersebut terjadi, maka terdapat dua kecepatan optic cahaya yang berbeda.
Proses juga dapat terjadi karena pengaruh dari kecepatan cahaya ketika memasuki medium yang berbeda. Oleh karena itu, suatu kecepatan cahaya berubah dan menyebabkan gelombang cahaya berbelok.
Siapa Penemu Pembiasan dari Pembiasan Cahaya?
Di dalam materi fisika, penemu dari teori refraksi ini adalah Willebrord Snellius (1580-1626), bahkan disebutkan bahwa ia juga menjadi pencetus dasar optika ini.
Perkembangan yang terjadi pada masa Renaissance atau zaman pencerahan Eropa membuat banyak ilmu pengetahuan berkembang. Snellius yang merupakan seorang ahli matematika berkebangsaan Belanda sekaligus astronom menjelaskan mengenai proses refraksi cahaya dengan metode trigonometri.
Selain Snellius, ilmuwan lain juga meneliti dan mengembangkan teori refraksi atau pembiasan cahaya ini, di antaranya adalah Harriot (1560-1621), Kepler (1571-1626), serta Descartes (1596-1650).
Penemuan mereka sangat berjasa. Bahkan hampir semua pelajaran di bidang ini mendasar pada penemuan tersebut, terlebih penemuan yang Snellius lakukan.
Baca Juga: Pengertian Intensitas Cahaya dan Alat Penghitungnya
Proses Terjadinya Refraksi
Ada dua hukum yang menjelaskan teori ini, yaitu sinar datang garis normal, serta cahaya bias yang terletak di suatu bidang datar.
Teori yang kedua adalah pembagian sudut segitiga atau sinus cahaya datang dan juga bisa yang menghasilkan nilai bernama indeks bias.
Pada dasarnya, setiap medium memiliki indeks yang berbeda. Maksud dari medium di sini adalah sesuatu yang menjadi perambatan cahaya.
Adanya perbedaan indeks bias menghasilkan pensil di dalam gelas dengan air terlihat berbelah. Tentu cahaya pada medium udara dan medium air berbeda.
Cahaya memiliki karakter tersendiri, yakni merambat lurus di kondisi normal. Arah rambat cahaya adalah A – B – C. Berbeda jika cahaya melewati indeks bias lainnya, seperti udara sehingga rambatnya menjadi A-B-D.
Contoh lainnya adalah proses pembiasan pada air laut dangkal dan pembiasan cahaya pada lensa serta berlian yang terlihat berkilau.
Alhasil, proses refraksi akan terjadi ketika sinar datang dan membentuk sudut tertentu cahaya yang datang tidak tegak lurus, yakni terhadap bidang batas atau sudut datang yang lebih kecil dari 900.
Penemu Teori Refraksi yang Pertama
Meski di dalam fisika Snellius dan ilmuwan lain menjadi penemu pembiasan cahaya atau refraksi, tetapi diyakini bahwa penemu sebenarnya adalah seorang muslim bernama Abu Sa’ad Al-‘Ala Ibu Sahal.
Ibu Sahal melakukan penelitian mengenai sinar sejak 673 tahun sebelum Snellius. Hasil penelitiannya telah ia abadikan di dalam kitab al-Harraqat (benda yang membakar).
Ia sendiri merupakan seorang ahli matematika asal Persia yang berjasa dalam ilmu pengetahuan pada masa keemasan Islam di Baghdad dalam bidang sains ini.
Sayangnya pengetahuan tersebut jarang diketahui, bahkan seiring runtuhnya masa kejayaan Islam. Meski demikian, sejarah ini menjadi perdebatan panjang di Eropa.
Berawal dari Rashed Roshid, Peneliti asal Perancis yang meneliti kitab sahal pada 1990. Ia menemukan sebuah diagram yang menjelaskan perbandingan indeks pembiasan dengan hasil sebuah konstanta.
Baca Juga: Proses Terbentuknya Awan Cumulonimbus, Penyebab Badai dan Petir
Konstanta tersebut Ibnu Sahal gunakan untuk menjelaskan proyeksi arah pembiasan dari sebuah berkas sinar melalui lensa secara akurat.
Hingga saat ini teori pembiasan cahaya masih menggunakan dasar pada penemuan Snellius, meski lebih mengacu pada penemuan Ibnu Sahal. (R10/HR-Online)