Dewi Sartika merupakan pejuang emansipasi wanita yang berasal dari keturunan menak Sunda yang revolusioner. Ia lahir dari pasangan R. Rangga Soemanegara dan R. A. Rajapemas pada tanggal 4 Desember 1884 di Cicalengka, Kabupaten Bandung.
Sejak kecil Dewi Sartika sudah terdidik secara intelektual oleh ibu dan ayahnya. R. Rangga Soemanegara selalu menanamkan jiwa kemandirian untuk putrinya. Sebab jiwa mandiri kelak akan menjadi pembebas rakyat Sunda dari belenggu penjajahan Belanda.
Ayah Dewi Sartika juga selalu memberikan wejangan akan masa depan sebagai jendela kehidupan bangsa. Artinya untuk memperoleh kebebasan suatu bangsa perlu membuat jendela kehidupan yang baru. Caranya tidak lain dilakukan dengan mempertajam kecerdasan melalui pendidikan.
Baca Juga: Raden Ayu Lasminingrat, Pejuang Emansipasi Wanita Asal Garut
Tak heran sejak usia masih belia Dewi Sartika surah memerankan sosok wanita keibuan layaknya seorang guru. Ia ingin membuat wanita sebangsanya menjadi cerdas, tidak tergantung pada siapapun untuk mewujudkan sebuah kemerdekaan.
Maka dari itu gagasan Dewi Sartika membuatnya terkenal sebagai pejuang emansipasi wanita.
Pejuang Emansipasi Wanita Dewi Sartika dari Keluarga Menak
Menurut Gamal Komandoko dalam buku berjudul, “Kisah 124 Pahlawan dan Pejuang Nusantara” (2006), ayah Dewi Sartika, R. Rangga Soemanegara merupakan seorang menak Sunda yang anti penjajah.
R. Rangga Soemanegara pernah melakukan beberapa aksi sabotase yang melambangkan ketidaksetujuannya pada kebijakan kolonial. Salah satu aksi sabotase yang ia lakukan kemudian membuat ia dan istrinya diasingkan Belanda ke Ternate (Maluku Timur) pada tahun 1893.
Konon R. Rangga Soemanegara telah dituduh sebagai pelaku utama sabotase yang ingin mencelakai Bupati Bandung Ke-10, R. A. A. Martanegara akibat pro pada Belanda.
Kendati begitu R. A. A. Martanegara sampai saat ini dianggap sebagai bapak pembangunan Kota Bandung. Bagi ayah Dewi Sartika ia adalah Sekutu Belanda.
Permusuhan ini membuat R. Rangga Soemanegara harus menanggung hukum pengasingan dan meninggalkan seorang putri yang masih kecil. Akibatnya Dewi Sartika diurus oleh pamannya, pejabat Patih Cicalengka bernama, Rd. Demang Suria Kartahadiningrat.
Baca Juga: Kesederhanaan Bung Hatta dan Kisah Sepatu Impian yang Tak Terbeli
Selama menjadi anak angkat Demang Suria, Dewi Sartika menderita dan hidup dalam tekanan. Sebab ayah angkatnya yang juga merupakan paman dari garis ayah telah memperbudaknya.
Dewi Sartika ditempatkan di kamar belakang sama seperti pembantu dan sehari-hari harus mengerjakan tugas rumah tangga.
Walaupun begitu Dewi Sartika tak putus semangat, ia terus melanjutkan tekadnya untuk menjadi guru dan punya sekolah khusus untuk kaum perempuan. Ia ingin membebaskan perempuan dari struktur penjajahan laki-laki, sebagaimana perlakuan pamannya kala itu.
Dewi Sartika Tumbuh Jadi Pejuang Emansipasi Wanita
Ketika usianya genap 15 tahun, Dewi Sarti nekad pindah dari Cicalengka ke Bandung Kota. Ia tidak lagi tinggal bersama pamannya tetapi berpetualang mencari dukungan tokoh-tokoh terkemuka di Tanah Sunda untuk mendirikan sekolah wanita.
Konon Dewi Sartika bertemu dengan Raden Ayu Lasminingrat, istri dari Bupati Garut, R. A. A. Wiratanudatar VIII dan berpadu sama untuk membangun sekolah wanita bernama Kautamaan Istri.
Dewi Sartika kemudian meminta musuh sang ayah untuk mendukung pendirian sekolah tersebut. Tak disangkat R. A. A. Martanegara dan pejabat kolonial bernama Den Hamer menyetujui gagasan pembangunan sekolah Kautamaan Istri.
Tak lama setelah itu terjadi Bupati Bandung ke-10 mengeluarkan izin pendirian sekolah pada 16 Januari 1904.
Gedung sekolah Kautamaan Istri pertama di komplek Pendopo Kabupaten Bandung. Bentuknya sederhana hanya ada papan tulis dan beberapa papan sabak untuk belajar para murid.
Kendati begitu atensi anak-anak di sekitar begitu tinggi bahkan sempat memenuhi kuota yang telah disediakan sebelumnya.
Dewi Sartika telah membantu kaum wanita di Tanah Sunda menjadi melek pengetahuan. Ia telah mengubah citra perempuan bumiputera yang lemah menjadi kritis, kuat, dan selalu berfikir cerdas.
Paling tidak mereka telah mengerti hak dan kedudukannya sebagai manusia tidak selamanya harus kalah dari kaum lelaki.
Baca Juga: Kisah Ki Hadjar Dewantara Diasingkan karena Pamflet Politik
Anak Menak Sunda Revolusioner Pemilik Bintang Emas Belanda
Meskipun ayah Dewi Sartika dianggap sebagai penghianat oleh Belanda, pemerintah kolonial menghargai kiprah Dewi Sartika dalam dunia pendidikan wanita.
Mereka memberi penghargaan bintang emas Orde van Oranje Nassau untuk keberanian Dewi Sartika mewujudkan emansipasi wanita di tanah Hindia.
Bintang emas penghargaan Belanda ini begitu bergengsi dan tak sembarang tokoh masyarakat punya waktu itu.
Hanya golongan orang dengan sumbangsih dan menemukan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat saja yang boleh menerimanya. Lainnya tidak; sekaligus tanda kekaguman Belanda pada wanita bumiputera.
Dewi Sartika meninggal pada tanggal 11 September 1947. Tepatnya pada masa agresi militer Belanda, bahkan ketika tutup usia hingga dikebumikan sedang mengungsi dari Bandung ke Cineam, Kabupaten Tasikmalaya.
Tokoh emansipasi wanita yang lahir dari keluarga Menak Sunda Revolusioner ini selama hidup sampai akhir hidupnya penuh dengan perjuangan. Figur yang patut diteladani untuk generasi sekarang dan yang akan datang.
Setelah stabilitas kedaulatan Republik Indonesia tercapai, makam Dewi Sartika di Cineam dipindahkan ke Bandung. Sejak tahun 1966 nama Dewi Sartika diresmikan oleh pemerintah RI menjadi Pahlawan Nasional. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)