Al-Mawaidz merupakan nama majalah mingguan milik Nahdlatul Ulama (NU) yang berdiri di Tasikmalaya sebelum tahun 1930-an.
Dalam perkembangannya, majalah Al-Mawaidz telah membawa perubahan cukup signifikan terhadap kemajuan umat Islam di Tasikmalaya. Selain itu majalah tersebut juga kerap melahirkan rasa persatuan yang kuat antar umat Islam.
Isi majalah Al-Mawaidz selalu sinkron dengan keadaan zaman yang sedang happening. Atau selalu up to date dan aware terhadap keadaan sosial pada zamannya.
Kebetulan kelahiran Al-Mawaidz berada pada zaman kolonialisme, dimana kehidupan rakyat saat itu penuh tekanan.
Baca Juga: Geger Bongkahan Emas di Gunung Sawal Ciamis Tahun 1963
Selain memiliki peran mempersatukan umat Islam di Tasikmalaya, Al-Mawaidz juga memiliki tujuan mencerdaskan kehidupan golongan bumiputera. Hal ini jelas terlihat dari model liputan berita untuk majalah mingguan yang berisi sorotan terhadap pendidikan.
Majalah Al-Mawaidz selalu membahas pola pendidikan yang ideal untuk mendorong kemajuan bumiputera. Salah satunya mendukung agar NU mendirikan sekolah formal (modern) seperti Muhammadiyah.
Pada akhirnya majalah Al-Mawaidz merupakan media milik NU ranting Tasikmalaya yang terkenal pula dengan sikap toleransi. Media Al-Mawaidz adalah alat kontrol dan mobilisasi pemuda NU di Tasik untuk mengawal generasi menghadapi masa depan.
Sejarah Majalah Al-Mawaidz, Mengikat Persatuan Umat Islam di Tasikmalaya
Menurut suratkabar Sinar Pasoendan yang terbit pada hari Senin, 19 November 1934 bertajuk, “Tasikmalaja Nahdlatoel Oelama”, majalah Al-Mawaidz memiliki peran yang mulia bagi perkembangan umat Islam di Tasikmalaya.
Corong media milik NU di Tasikmalaya ini telah mengikat persatuan umat Islam menggunakan narasi-narasi yang menyejukan. Seluruh isi dari bahan bacaan yang disediakan Al-Mawaidz terkesan mendamaikan, mentoleransi, dan membahagiakan.
Narasi-narasi itulah yang membuat masyarakat Islam di Tasikmalaya berhasil terikat dalam satu tarikan nafas: persatuan. Mereka menyongsong Al-Mawaidz sebagai alat perdamaian dari perselisihan umat Islam yang berbeda tarekat. Al- Mawaidz mempersatukan Ulama.
Pernyataan ini sebagaimana yang dikutip dari Sinar Pasoendan (1934) sebagai berikut: “Al-Mawaidz ngoroeskeun kajaning ngabeungkeut para Kiai, Moeslimin, Moeslimat, soepaja djadi sabeungketan”.
Baca Juga: Kesederhanaan Bung Hatta dan Kisah Sepatu Impian yang Tak Terbeli
Selain itu fungsi berikutnya dari majalah mingguan Al-Mawaidz adalah membiasakan supaya para santri berdiskusi. Terutama melatih kemampuan berpikir yang kritis sehingga bisa menanggapinya dengan cara intelektual: mendebat melalui tulisan.
Peran Al-Mawaidz sebagai media kontrol milik NU membentuk dua pola positif. Antara lain yaitu mempererat persatuan umat Islam dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Keduanya saling berkaitan, saling melengkapi, dan saling mengisi satu sama lainnya. Pada intinya majalah Al-Mawaidz telah mempersiapkan generasi masa depan untuk menghadapi perubahan zaman. Menuju kemerdekaan bangsa.
Majalah Al- Mawaidz Mendukung NU Miliki Sekolah Modern
Untuk mempersiapkan masa depan maju dan generasi intelektual yang kuat, menurut narasi-narasi yang termuat dalam majalah Al-Mawaidz disebutkan agar NU segera miliki sekolah modern (formal) seperti sekolah milik Muhammadiyah.
Mengingat saat itu NU masih menjalankan sistem pendidikan informal (pesantren) dengan ilmu-ilmu agama Islam yang kuat dan mengesampingkan pelajaran ilmu-ilmu formil: matematika, astronomi, sains, teknologi, dst.
Dalam narasi-narasi mingguannya, majalah Al-Mawaidz kemudian mendorong NU segera memiliki sekolah formal seperti Muhammadiyah. Mengingat pada saat itu sekolah-sekolah formal berbasis Islam cukup banyak peminatnya di kalangan masyarakat Tasikmalaya.
Pernyataan berikut sebagaimana mengutip Sinar Pasoendan (1934) sebagai berikut:
“Tapi naha Nahdatoel Oelama moal bisa ngajakeun sakola modern seperti Moehammadijah. Pikeun ra’jat pada resep oge kana sakola-sakola noe pangadjaranana ditjampoer agama tjara HIS met de Qur’an. Geuning pikeun ra’jat Tasik oge loba pisan noe ngasoepkeun anakna ka Bahrain School, da di eta sakola diajaan pangadjaran Arab, English, Nederlandsch, Soenda djeung roepa-roepa pangadjaran biasa serta pangadjaran agama”.
Adapun pernyataan yang keluar dari narasi majalah Al-Mawaidz demikian, akhirnya menginspirasi NU untuk mendirikan pondok pesantren berbasis modernitas school. Paling tidak memasukan kurikulum pelajaran formal di pondok-pondok pesantren.
Baca Juga: Kisah Kapten Romli, Pejuang yang Jadi Garong Cikampek Tahun 1949
Al-Mawaidz Memupuk Perkembangan Sekolah Modern
Setelah majalah Al-Mawaidz menarasikan dukungannya agar NU segera mendirikan sekolah modern, maka perkembangan sekolah-sekolah Islam modern sejak tahun 1934 mulai menjalar ke berbagai kota.
Di Tasikmalaya sendiri ada beberapa pesantren yang mulai memasukkan mata pelajaran formil pada proses pengajaran siswa seperti ilmu sains, teknologi, sosial, dan lain sebagainya.
Bahkan akibat narasi optimis Al-Mawaidz terhadap sistem pendidikan modern NU, sebagian orang tua siswa semakin sadar pendidikan. Mereka bahkan tertarik menyekolahkan anaknya ke pesantren modern supaya bisa melanjutkan pendidikan tingginya hingga ke luar negeri –Mesir: Universitas Al-Azhar.
Saat itu popularitas Universitas Al-Azhar sedang berada pada puncaknya di Tasikmalaya. Siapapun yang pergi ke sana untuk belajar agama Islam, ketika pulang mendapat prestis istimewa dari masyarakat. Masyarakat menganggapnya sebagai intelektual Islam modern, lebih terbuka dan moderat.
Sebagaimana yang tercantum melalui tinta Al-Mawaidz, setiap orang tua yang berhasil menyekolahkan anaknya di Universitas Al- Azhar Mesir, maka mereka dianggap telah berhasil melahirkan “Godsdienstleelaar” (Guru Agama). (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)