Sosok dr. Tjipto Mangoenkoesoemo merupakan seorang pejuang tak kenal pamrih yang mampu membebaskan warga Malang dari wabah pes tahun 1910.
Konon hanya dr. Tjipto Mangoenkoesoemo sendiri lah yang berani menangani wabah pes tersebut. Sebab banyak dokter-dokter Belanda yang enggan mengobati orang-orang bumiputera karena takut tertular wabah pes.
Menurut Belanda orang bumiputera merupakan sarang penyakit. Mereka adalah tempat dimana wabah pes berasal, rumahnya saja jadi tempat tikus berkeliaran.
Maka dari itu dokter Belanda menyarankan agar membakar perkampungan mereka untuk menghindari wabah berkelanjutan.
Baca Juga: Sejarah Jembatan Panus, Jalur Utama Jakarta-Bogor Tahun 1917
Selain itu sukarnya dokter-dokter Belanda menangani wabah pes yang terjadi di Malang disebabkan pula oleh wacana rasial. Orang kulit putih enggan melayani pribumi karena memiliki kasta paling rendah dalam stratifikasi sosial zaman kolonial.
Dokter-dokter Belanda hanya melayani sesama kulit putih. Artinya faktor rasial justru menyebabkan wabah pes di Malang semakin membludak karena telat penanganan.
dr. Tjipto Mangoenkoesoemo adalah satu-satunya orang bumiputera yang terjun menolong pasien-pasien pes sampai mereda pada tahun 1920-an. Atas keberanian itu ia diberikan bintang penghargaan oleh Ratu Belanda.
Namun menariknya bintang itu dipakai di bokong oleh dr. Tjipto. Menurutnya itu adalah cara terbaik untuk mengkritik Belanda atas kepengecutannya menangani wabah pes di Malang yang menewaskan ribuan orang bumiputera.
Kisah dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Pembebas Wabah Pes di Malang
Selain menjadi seorang dokter dengan segudang prestasi di belakangnya, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo juga merupakan seorang pejuang yang anti feodalisme.
Menurut Takashi Shiraishi dalam buku berjudul, “Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926” (1997), anti feodalisme yang ditunjukan dr. Tjipto antara lain, ia pernah menekan raja di Surakarta untuk mundur menjadi rakyat biasa.
Dengan kata lain dr. Tjipto ingin menghilangkan birokrasi feodal: kerajaan (Kasunanan dan Mangkunegaran di Surakarta). Kala itu banyak yang menganggap perjuangan tersebut cukup nekad karena penuh risiko.
Baca Juga: Sejarah Pengangguran Zaman Hindia Belanda dan Praktik Kolusi Anak Pejabat
Selain bisa membuat dr. Tjipto mendekam di penjara juga bisa mengantarkannya menemui ajal akibat barisan feodal yang sakit hati atas pernyataan tersebut.
Kendati begitu dr. Tjipto terus memperjuangkan rakyat yang teraniaya oleh sistem feodalisme. Menurutnya feodalisme telah membelenggu rakyat dalam kemiskinan, kelaparan, dan penderitaan penyakit.
Hal ini terjadi akibat sistem feodal menerapkan pajak yang tinggi pada rakyat (buruh) dan mengupahnya dengan jumlah yang kecil. Harapan dr. Tjipto apabila struktur feodalisme hancur bisa memperbaiki nasib mereka. Paling tidak mampu memperbaiki keadaan ekonomi yang berdampak pada positif pada kesehatan rakyat.
Memperjuangkan Kesehatan Rakyat Melalui Meja Volksraad
Meja Volksraad adalah tempat dimana suara bumiputera ditampung oleh pemerintah kolonial.
Sekarang bisa disamakan dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Saat itu dr. Tjipto menjadi anggota Volksraad dan sering memberikan aspirasi untuk memperjuangkan kesehatan rakyat.
Salah satu yang menjadi sorotan dr. Tjipto di meja Volksraad adalah kemiskinan yang menyebabkan kelaparan dan menjadi sarang penyakit. Ia kemudian mengkritik ini pada salah seorang anggota Volksraad yang berasal dari kalangan elit tradisional (feodalis) Surakarta.
Saat itu, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo sering adu debat dengan anggota feodalis akibat mereka menolak aspirasinya dalam memperjuangkan kesehatan rakyat di Jawa.
Menurut anggota Volksraad dari kalangan feodalis, kemiskinan tidak menyebabkan penyakit. Penyakit justru yang berasal dari makanan import.
Namun dr. Tjipto menolak pernyataan itu, baginya makanan impor yang terkontaminasi oleh virus itu soal lain, di sini yang sedang ia bicarakan adalah soal kemiskinan penyebab kelaparan.
Manusia itu akan menjadi pesakitan akibat busung lapar, jadi seharusnya pemerintah bertanggung jawab akan hal ini.
Jika pemerintah feodal tak sanggup menyelesaikan masalah ini, dr. Tjipto menawarkan solusi yang tepat.
Menurutnya mengundurkan diri jadi raja adalah solusi terbaik yang bisa meminimalisir kesengsaraan rakyat. Pernyataan ini membuat kuping anggota Volksraad dari feodalis Surakarta memerah. Pedas.
Saat dr. Tjipto Mangoenkoesoemo Menangani Wabah Pes Tanpa APD
Keberanian dr. Tjipto Mangoenkoesoemo nampaknya tidak berhenti saat ia menentang struktur kerajaan (feodal) saja. Melainkan tercermin pula dari tata caranya yang nekad menangani wabah pes di Malang tahun 1910 tanpa pakaian hazmat atau APD (Alat Pelindung Diri).
Baca Juga: Kisah Redaktur Koran Diseret ke Pengadilan karena Pencemaran Nama Baik Tahun 1935 di Batavia
Kala itu, dr. Tjipto tidak takut terjangkit wabah pes yang berbahaya. Sebagai seorang kejawen sejati ia menyerahkan hidup dan matinya pada penguasa jagat dengan ikhlas. Bahkan hal ini ia cerminkan dengan menolong pasien pes secara sukarela.
Kisah lain yang heroik dari dr. Tjipto adalah ketika ia pernah menyelamatkan bayi yang ibu dan bapaknya sudah meninggal akibat wabah pes. dr. Tjipto merawat bayi perempuan tersebut sampai dewasa dan menamakannya dengan Pesjati.
Atas tekad dan keberaniannya memperjuangkan rakyat Malang terbebas dari wabah Pes membuat nama dr. Tjipto besar di berbagai sudut pulau Jawa.
Rakyat semakin percaya bahwa dr. Tjipto adalah pahlawan pejuang bangsa yang tak mengharapkan balas jasa. Semua perjuangannya ia abdikan untuk kepentingan rakyat bersama.
Prestasinya sebagai pembebas wabah pes di Malang 1910 menjadi salah satu pembuktian golongan bumiputera juga adalah orang yang hebat dan tangguh. Bahkan mengalahkan dokter-dokter Belanda yang takut tertular wabah berbahaya ini. Bagi Tjipto mereka semua itu pengecut. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)