Jumat, April 18, 2025
BerandaBerita TerbaruKisah Tentara Belanda Culik Kuli di Garut Tahun 1949

Kisah Tentara Belanda Culik Kuli di Garut Tahun 1949

Pada hari Jumat tanggal 20 Mei 1949, tentara Belanda melancarkan aksi culik paksa kuli di Garut untuk menjadi kerja rodi membantu kepentingan militer di markas Sekutu.

Peristiwa ini terjadi di daerah Onderdistrict, Bajongbong dan Tjikadjang, Garut. Tentara belanda bertindak kasar pada kuli yang menolak ajakannya. Sebagian ada yang terluka akibat dipopor senapan laras panjang.

Selain kuli tentara Belanda juga menculik paksa orang-orang yang lewat secara sembarang.

Tak heran dalam satu kamp militer Sekutu banyak masyarakat sipil berbagai profesi mendadak berubah menjadi kuli –membantu memasukkan dan mengeluarkan logistik perang.

Baca Juga: Sejarah TNI Berantas DI/TII di Cirebon Tahun 1949

Walaupun pada kenyataannya diculik dan dipaksa oleh tentara Belanda supaya kerja rodi, para kuli dan masyarakat sipil sembarang profesi tetap menerima upah secukupnya.

Tentara Belanda tetap memberikan uang untuk kepentingan mereka ketika waktu kerja selesai. Tentara Belanda juga memberikan logistik makanan, kendati demikian para kuli terjebak oleh posisi kerja paksa, sebab tak sedikit kaum republik menyangka mereka sebagai mata-mata dan kaum penghianat para pejuang.

Sejarah Tentara Belanda Culik Paksa Kuli di Stasiun Cibatu Garut

Menurut surat kabar milik orang Tionghoa, Sinpo pada tanggal 20 Mei 1949 bertajuk, “Kuli-kuli paksahan Militair: Pertanjahan anggauta parlement Pasoendan”, beberapa korban culik paksa kuli oleh Belanda terjadi di Stasiun Kereta Api Cibatu.

Uniknya bukan hanya kuli sungguhan yang Belanda culik dan dinaikan secara paksa ke atas truk-truk militer, melainkan beberapa penumpang dari berbagai daerah yang turun di Stasiun Ci Batu. Peristiwa ini sebagaimana tergambar dalam kutipan surat kabar Sinpo (1949) berikut ini:

“Belanda membawa orang-orang jang mereka djoempai dengan tida memperdoelikan apa marika itoe tjakep mendjalanken pekerdjahan seperti kuli biasa, atawa tida? Bahkan beberapa diantaranja poen orang-orang jang baroe toeroen dari kereta api di St. Tjibatoe”.

Adapun orang-orang yang Belanda culik saat itu antara lain masyarakat sipil yang berprofesi sebagai berikut: pekerja pasar, pedagang, pemilik toko, guru dan mantri gudang garam.

Baca Juga: De Waarheid, Koran Komunis Belanda yang Serang Wapres Hatta

Penculikan ini bertujuan untuk membantu tentara Belanda mengurus logistik dan amunisi persenjataan yang berada di markas-markas Sekutu Jawa Barat.

Selain itu mereka kadang bertugas jadi pembawa senjata, memikul box amunisi ke gunung-gunung tempat para pejuang republik bersembunyi.

Mendapat Upah dari Tentara Belanda

Kuli korban penculikan oleh tentara Belanda di Garut mengaku mendapatkan upah dari perwira urusan logistik yang saat itu bergabung dengan tentara Sekutu.

Meskipun tak banyak namun nominal upah yang mereka berikan pada si kuli bisa membuatnya pulang dengan selamat sampai tujuan. Paling tidak cukup untuk ongkos pulang dan makan hingga satu pekan ke depan.

Sebagaimana wawancara jurnalis Sinpo dengan ex-kuli korban penculikan di Garut, mereka mengatakan “korban penculikan kuli secara paksa di Garut mendapat upah F. 1. 50 perhari”.

Dengan upah itu mereka harus bekerja 3 hari 3 malam full tanpa istirahat. Jika melanggar akan dapat imbalan berbentuk siksaan. Paling banyak siksa cambuk dan tempeleng. Selain itu, Belanda juga kerap memotong upah mereka.

Fenomena paling menyedihkan dari cerita kuli paksa adalah menjadi sasaran amuk para pejuang republik. Mereka mengira para kuli paksa ini bekerja untuk Belanda secara cuma-cuma. Padahal pekerjaan ini penuh dengan tekanan dan ancaman.

Tak jarang ketika para kuli ikut ke medan tempur, tentara Belanda menumbalkan mereka dengan menaruhnya di front paling depan.

Para kuli paksa itu kadang tewas akibat mortir dan granat yang para pejuang republik lemparkan ke arah barisan Belanda. Tentara Belanda dan Sekutu memanfaatkan para kuli sebagai alat untuk adu domba supaya mereka terlihat jadi penghianat bangsa.

Baca Juga: Mogok Buruh Sarbupri Tahun 1950, Tokohnya Dipenggal di Banten

Isu Penculikan Paksa Belanda jadi Momok bagi Warga Garut

Terutama bagi warga Onderdistrict Bajongbong dan Tjikadjang Garut, isu penculikan kuli secara paksa menjadi momok yang paling menakutkan mereka.

Akibatnya tidak ada orang yang berani berkeliaran ke tempat-tempat umum meskipun keadaan pagi menjelang siang –waktu aktivitas normal.

Warga garut memilih diam di rumah, menghindari bepergian ke pasar, stasiun, dan jalan-jalan utama di Kota Garut. Konon tempat-tempat umum seperti itu mengundang Belanda untuk menculik masyarakat sipil jadi kuli paksa di markas militer Sekutu.

Peristiwa ini sebagaimana tergambar dalam kutipan tulisan wartawan Sinpo (1949) sebagai berikut:

“Berhoeboeng dengan itoe, sekarang rajat di daerah tersebut menjadi gelisah dan guntjang. Sehingga banjak orang jang tidak berani lagi dating ka pasar atawa ka St. dan djalan-djalan besar di kota Garoet, kerna takoet kaloe-kaloe ada paksaan lagi dari millitair Belanda”.

Melihat persoalan ini, Anggota Parlemen Republik di Garut melaporkan pada pemerintah pusat di Jakarta. Pemerintah pusat menindaklanjuti kasus ini dengan mengirim surat pada pemerintah Pasoendan untuk menyelesaikan ketakutan warga Garut.

Namun pemerintah pusat tidak mendapatkan tanggapan, konon hal ini yang membuat rakyat Garut menduga pemerintah Pasoendan turut kerjasama dengan Belanda untuk memanfaatkan tenaga masyarakat sipil di Garut secara paksa. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Harga Kedelai Stabil, Pengusaha Tahu Sumedang Justru Keluhkan Naiknya Minyak Goreng

Harga Kedelai Stabil, Pengusaha Tahu Sumedang Justru Keluhkan Naiknya Minyak Goreng

harapanrakyat.com,- Di tengah isu terkait naiknya harga kedelai impor, para pengusaha tahu di Sentra Tahu Sari Bumi, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, tetap bisa bernapas...
Hasil Autopsi Jasad Perempuan di Kamar Kosan Ciamis, Dicurigai Ada Tanda-Tanda Kekerasan

Hasil Autopsi Jasad Perempuan di Kamar Kosan Ciamis, Dicurigai Ada Tanda-Tanda Kekerasan

harapanrakyat.com,- Jasad perempuan yang ada di dalam kamar kosan di Lingkungan Pabuaran, Kelurahan/Kecamatan  Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, saat ini telah menjalani autopsi di...
Kepala Unit BRI Banjarsari Ciamis

Kepala Desa Keluhkan Buruknya Pelayanan Kepala BRI Banjarsari Ciamis 

harapanrakyat.com,- Kepala Desa Banjarsari, Ropik Hikmayana mengeluhkan buruknya pelayanan Kepala BRI Unit Banjarsari, Kecamatan Banjasari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Menurutnya, Kepala Unit BRI Banjarsari...
Identitas korban dokter cabul di Garut

Polisi Minta Konten Kreator Tak Sebar Identitas Korban Dokter Cabul di Garut

haraparakyat.com,- Banyak konten kreator yang aktif membagikan informasi kasus dugaan pelecehan seksual oleh oknum dokter cabul di Garut, Jawa Barat. Jajaran Polda Jabar pun...
RT Ungkap Sosok Perempuan yang Ditemukan Tewas Mengenaskan di Kosan Ciamis

RT Ungkap Sosok Perempuan yang Ditemukan Tewas Mengenaskan di Kosan Ciamis

harapanrakyat.com,- Warga Lingkungan Pabuaran, Jalan Iwa Kusuma Soemantri, Kelurahan Kertasari, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat geger. Pasalnya seorang perempuan ditemukan tewas dalam kondisi...
Penemuan Jasad Perempuan di Kamar Kosan Ciamis

Misteri Penemuan Jasad Perempuan di Kosan Ciamis, Polisi: Korban Terbungkus Sepre, Kepala Terlilit Lakban

harapanrakyat.com,- Polres Ciamis saat ini masih mendalami penemuan jasad perempuan di kamar kosan di Lingkungan Pabuaran, Kelurahan Ciamis, Kecamatan Ciamis, Jawa Barat, Kamis (17/4/2025)...