Kapten Romli adalah pejuang yang jadi Garong Cikampek pada tahun 1949. Tentara Divisi Siliwangi berhasil menangkap pengkhianat Republik berpangkat Kapten di daerah Tjikampek (Cikampek, Jawa Barat) pada 20 Mei 1949.
Pejuang republik yang berkhianat dan berpangkat Kapten itu tidak lain merupakan seorang pria asal Bandung bernama Romli.
Sebelum tertangkap oleh satuan Divisi Siliwangi, Kapten Romli sempat melarikan diri ke berbagai titik di daerah Jawa Barat. Keterampilannya dalam menggunakan taktik gerilya membuat rekan kerja kesulitan mencarinya.
Bahkan satuan Divisi Siliwangi sempat membuka sayembara untuk menangkap Kapten Romli –buron akibat berkhianat dari tentara dan memilih menjadi garong di Cikampek.
Baca Juga: Kisah Tentara Belanda Culik Kuli di Garut Tahun 1949
Berpuluh-puluh korban Kapten Romli berserakan. Mereka mengadu pada tentara Siliwangi dan berharap agar si garong tersebut bisa tertangkap secepatnya.
Adapun beberapa kasus yang timbul akibat peristiwa perampokan oleh Kapten Romli menimbulkan kerugian beberapa harta milik penduduk Cikampek berupa emas, perhiasan, uang, dan sepeda motor.
Lantas bagaimana proses pencarian Kapten Romli oleh Divisi Siliwangi, apakah mereka berhasil menangkap buronan tersebut? Selengkapnya simak penjelasan di bawah ini.
Pejuang yang Jadi Garong Cikampek, Kapten Romli Ditembak Mati Divisi Siliwangi
Menurut surat kabar milik kelompok Tionghoa, Sinpo pada Jum’at, 20 Mei 1949 bertajuk, “Kapitein Romli di Hoekoem Tembak oleh Siliwangi”, setelah beberapa bulan buron pria ex- Kapten Batalyon VI Divisi Siliwangi tertangkap sedang bersembunyi di hutan perbatasan antara Cikampek dan Indramayu.
Namun ketika satuan Siliwangi hendak membawa Kapten Romli ke markas terdekat pria berjuluk garong Cikampek ini berontak hingga memancing emosi yang lainnya untuk melepaskan pelatuk senapan mengarah tepat ke dada sebelah kiri.
Baca Juga: Kasus Korupsi Serikat Kretek Semarang 1949, Pemicu Bentrok Tionghoa Vs Pribumi
Alhasil Kapten Romli tewas ditempat. Ia ditembak mati oleh rekannya sendiri akibat perilaku yang telah mencemari integritas Divisi Siliwangi. Adapun peristiwa tragisnya kematian Kapten Romli tergambar dalam kutipan Sinpo (1949) berikut ini:
“Tanggal 15 Mei 1949 jang laloe waktoe sore, diloear Tjikampek telah dilakoeken hoekoeman atas dirinja Kapitein TNI dari divisie Siliwangi, Bataljon VI jg bernama Romli”.
Menurut keterangan lanjutan dari wartawan Sinpo di atas, mendiang Kapten Romli ditembak oleh atasannya sendiri yang tak disebutkan namanya dari Brigade Comandant Siliwangi.
Kapten Romli Tewas, Harta Rampokan Tertimbun Tanah
Ketika Kapten Romli tewas di tengah hutan, beberapa rekan yang mengenal dekat mengantar jasad ke tempat tinggalnya. Romli ternyata hidup sebatang kara di tengah hutan yang hanya ada satu sampai tiga bangunan rumah saling berjauhan.
Setelah pasukan Siliwangi mengantar jasad Romli ke rumahnya tak disangka ternyata ada lobang bawah tanah yang mencurigakan.
Setelah mereka membuka pintu lubang yang cukup sulit itu akhirnya menemukan bongkahan perhiasan dan barang berharga lainnya hasil perampokan.
Melihat hal tersebut pasukan Siliwangi mencari orang terdekat Romli. Mereka mencurigai bapak mertua mendiang istrinya bernama Amat. Konon Romli telah bekerjasama dengan Amat untuk menggarong harta orang kaya di daerah Cikampek.
Kedudukan Amat dalam kasus perampokan ini adalah penadah. Ia menampung segala barang hasil rampokan Romli untuk dijual kembali ke orang-orang yang biasa jual beli emas dan perhiasan.
Pasukan Siliwangi menemukan Amat yang tengah duduk santai depan teras rumah. Ketika tentara Siliwangi mendatangi Amat terbirit melarikan diri. Akibatnya nasib sama dengan menantunya Romli, timah panas bersarang di tangan kiri yang menembus dada tepat ke arah jantung –Amat tewas ditempat.
Divisi Siliwangi Terkenal Sebagai Satuan Militer yang Keras
Peristiwa penembakan Kapten Romli dan mertuanya Amat merupakan gambaran umum Divisi Siliwangi yang terkenal sebagai satuan militer keras dan ketat.
Banyak orang segan dengan pasukan tersebut akibat dari rekam jejaknya sebagai kombatan perang yang bisa menghabisi musuh tanpa ampun. Maka dari itu untuk membunuh rampok macam Romli dan Amat bukanlah hal yang sulit bagi pasukan Siliwangi.
Baca Juga: De Waarheid, Koran Komunis Belanda yang Serang Wapres Hatta
Surat kabar Sinpo (1949) memberitakan bahwa Divisi Siliwangi terkenal sering menjatuhkan hukuman mati pada anggotanya yang berkhianat. Sama halnya seperti yang dilakukan kepada si pejuang yang jadi Garong Cikampek tersebut.
Artinya tidak hanya kasus Kapten Romli saja, sebelum itu ada pula peristiwa eksekusi mati anggota divisi tersebut yang diperlakukan sama seperti si garong Cikampek.
Biasanya hukuman mati itu disebut dengan “Hoekoem Revolutie”. Harus merelakan anggotanya yang berkhianat seperti jadi mata-mata Belanda atau merampok layaknya si Kapten Romli. Sebab jika tidak dibantai penyakit ini bisa memperburuk situasi militer republik yang saat itu masih dalam rongrongan Sekutu.
Kendati kasus Romli agak sukar dicari, sampai-sampai Divisi Siliwangi menggunakan sayembara untuk siapapun yang mendapatkan Romli akan memperoleh imbalan, namun tetap saja nyawa Romli berada di tangan pasukan Siliwangi.
Konon kesulitan mencari Romli tersebut karena si garong Cikampek menyamar. Ia mengubah seluruh penampilan badan dan namanya menjadi orang sakti (dukun) yaitu, “Bima Naga Merah”. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)