Kantor Berita Nasional Antara pada 19 Desember 1945 memberitakan tentang aksi Daily Worker, serikat buruh di Inggris yang mendukung perdamaian Belanda-Indonesia. Melalui surat terbukanya pada pemerintah kerajaan Inggris, Daily Worker menghimbau gencatan senjata tentara Sekutu di Jawa.
Perkumpulan buruh berideologi kiri ini menentang segala kekerasan yang dilakukan Sekutu di Indonesia. Salah satunya peristiwa pembakaran desa-desa terpencil di Jawa. Daily Worker mengutuk konflik ini karena banyak korban tewas secara mengenaskan.
Organisasi Buruh kontra kerajaan Inggris ini merasa tentara Sekutu yang bertugas jadi mediator Indonesia-Belanda tidak menjalankan kewajibannya sebagai negara yang netral. Mereka malah kong-kalikong dengan Belanda hingga menyebabkan kehancuran.
Baca Juga: Profil Fidel Castro, Pemimpin Komunis Kuba yang Anti Amerika Serikat
Melalui ajaran komunisme yang Daily Worker anut, para pemimpin organisasi kiri ini mengajak seluruh anggota dan simpatisan komunisme dunia mengutuk aksi tentara Sekutu di Jawa. Mereka harus menghentikan itu semua sebelum korban lain berjatuhan.
Daily Worker, Serikat Buruh Menuntut Inggris Mendamaikan Belanda-Indonesia
Koran Kedaulatan Rakyat yang terbit pada 20 Desember 1945 bertajuk, “Hentikanlah Pemboenoehan di Djawa –Andjoeran “Daily Worker” kepada Inggris”, mengatakan organisasi Daily Worker menuntut Inggris agar segera mendamaikan Belanda-Indonesia.
Mereka memberikan beberapa solusi untuk menyelesaikan sengketa dua negara agar tidak saling mengakibatkan korban berjatuhan. Antara lain memperbaiki netralitas tentara Sekutu yang bertugas di Jawa.
Hal ini sebagaimana catatan wartawan Kedaulatan Rakyat sebagai berikut: “Daily Worker” menoentoet soepaja tindakan2 pembalasan jang dilakoekan oleh tentara Inggris (sekutu) di Djawa dengan membakar Kampoeng diganti dengan peroendingan dan memperbaiki sifat netralitasnja”.
Para anggota Daily Worker menilai kelakuan Belanda dan Sekutu di Jawa telah keluar batas perikemanusiaan. Militer mereka kejam, membunuh orang tak bersalah dan membakar perkampungan tempat tinggal orang Jawa seperti model sabotase konflik zaman kegelapan di negara Barat.
Daily Worker membuat petisi kesepakatan bersama mengecam pemerintah Inggris. Jika tidak segera menghentikan gencatan senjata di Jawa, mereka akan menyiarkan kabar pembakaran tak berperikemanusiaan ini pada dunia Internasional.
Baca Juga: Sejarah Bubarnya Marxisme di China, Akhir Idelogi Komunis
Kelompok ini juga mengecam akan mempersatukan beberapa kelompok komunis di Eropa untuk menuntut pertanggungjawaban kerajaan Inggris akan peristiwa tersebut.
Aktivis Daily Worker tak habis-habisnya mengutuk pemerintahan Inggris dan meminta maaf pada rakyat Indonesia atas kejadian kejam pembakaran beberapa distrik pedesaan di pulau Jawa.
Daily Worker Mengkritik Negaranya Sendiri
Salah satu kehebatan orang Barat adalah tak malu mengakui kesalahan dan meminta maaf pada orang atau kelompok yang mereka dzalimi. Hal ini sesuai dengan apa yang Daily Worker lakukan kala tentara Sekutu berbuat kerusuhan di pedesaan Jawa pada masa Agresi Militer tahun 1945.
Selain menuntut pemerintah Inggris menghentikan aksi-aksi agresi yang kejam di Indonesia, kelompok Daily Worker juga turut mengkritik negaranya dengan pedas karena membiarkan tindak kekerasan tentara Nazi terhadap masyarakat sipil di Czechoslovakia.
Konon sebelum kejadian pembakaran beberapa desa di Jawa yang dilakukan tentara Sekutu, para tentara Inggris di Czechoslovakia –sebagai negara netral membiarkan aksi tentara fasis Jerman mengabisi masyarakat sipil di sana secara keji.
Akibat peristiwa ini ratusan warga di dusun Lidice, Czechoslovakia tewas secara mengenaskan. Kebanyakan korban tewas berprofesi sebagai buruh dan petani. Konon karena satu ideologi –komunisme membuat Daily Worker ikut menyuarakan tragedy tersebut.
Karena kritikan Daily Worker di sepanjang tahun 1945, pemerintah Inggris sempat tertekan. Sebab gerakan Daily Worker yang turun ke jalan (massa aksi) mempengaruhi stabilitas sosial, politik, dan ekonomi negara perdana menteri Winston Churchill berikut.
Gerakan Daily Worker Mengecam India
Dari peristiwa berdarah yang terjadi di Jawa dan pedesaan Lidice, Czechoslovakia memicu timbulnya gerakan dari Serikat Buruh Inggris yang mengecam India. Mengapa bisa India jadi sasaran kecaman serikat buruh tersebut?
Baca Juga: Pesanggrahan Menumbing dan Wisma Ranggam, Saksi Bisu Sejarah Indonesia
Hal ini terjadi karena India menyediakan sumber daya manusia untuk direkrut menjadi tentara Sekutu. Mereka bertugas di Indonesia dan beberapa negara konflik di Barat seperti di Czechoslovakia.
Konon hampir 40 persen pemerintah Inggris merekrut orang India jadi tentara Sekutu. Mereka terpaksa menuruti permintaan ini karena Inggris sendiri saat itu bagian dari negara yang menjajah India.
Namun aktivis Daily Worker mengecam India agar mereka mengadakan gerakan perlawanan. Setidaknya mogok atau menolak ajakan tentara Inggris untuk ikut jadi bagian mereka mengamankan negara-negara konflik.
Seperti ciri khas kelompok kiri di mana pun berada, serikat buruh Inggris, Daily Worker ini mengecam akan mempublikasikan artikel kebencian pada India yang akan disebarkan ke beberapa negara komunis terbesar di dunia, seperti Rusia dan Tiongkok. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)