Tidak seperti halnya strategi pembangunan di zaman Orde Lama Sukarno yang menghindari intervensi bantuan Amerika untuk perekonomian negara, Presiden Suharto melalui strategi pembangunan Orde Baru justru berlawanan arah.
Suharto memiliki pandangan distorsi dari orientasi pembangunan Nasional yang disepakati oleh pemerintahan Sukarno. Ia justru mempercayai gagasan sendiri tidak ingin sama dengan mantan atasannya tersebut.
Barangkali ide meminta pertolongan negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat karena Suharto disukai oleh negara tersebut akibat telah berhasil memusnahkan PKI dari dunia perpolitikan di Indonesia.
Karena hal ini Amerika patut berterima kasih pada Suharto dan menolongnya dengan beberapa permintaan sang presiden baru ini untuk pembangunan ekonomi di negaranya. Suharto meminta bantuan ekonomi untuk kesejahteraan rakyat bersama.
Baca Juga: Peristiwa Kudatuli 1996, Cikal Bakal Pemicu Lengsernya Suharto
Strategi Pembangunan Orde Baru, Sistem Ekonomi yang Kapitalis
Menurut Sritua Arief dalam tulisannya yang terbit di Majalah Prisma Edisi Februari 1997 berjudul, “Perjalanan Nasionalisme Ekonomi Indonesia: Sebuah Tinjauan Kritis”, strategi pembangunan Orde Baru telah berkiblat pada negara-negara kapitalisme seperti Amerika.
Banyak kebijakan pemerintah yang memihak kepentingan perseorangan (swasta) dan memijak orang-orang kecil. Peraturan itu tentu menjadi masalah dan dekonstruksi dengan tujuan awal strategi pembangunannya dengan Amerika: Menyejahterakan Rakyat.
Karena Amerika Serikat merasa dihargai oleh pemerintahan Suharto, negara berlambang bintang ini lalu memperlakukan Indonesia seenaknya. Mereka ‘menindas’ Orde Baru dengan perjanjian Freeport (tambang emas) di Papua yang menjadi sumber kekayaan mereka.
Amerika Serikat telah berhasil membuat Indonesia terhipnotis oleh strategi gelap untuk melipatgandakan keuntungan dengan cara melabelkan Orde Baru sebagai pemerintahan yang kapitalis.
Mereka bangga dengan gelar itu, padahal ini jadi media Amerika Serikat meninabobokan pemerintahan Suharto agar diam saat kekayaan Indonesia disedot sebanyak-banyaknya.
Baca Juga: Sejarah Swasembada Pangan Zaman Orba: Padi Melimpah, Kesejahteraan Rendah
Menciptakan Kesejahteraan Rakyat yang “Sekilas”
Memang betul dengan bantuan Amerika Serikat sebagai bagian strategi pembangunan ekonomi saat pemerintah Orde Baru terbit pada tahun 1966 rakyat menjadi sejahtera. Ekonomi rakyat semakin membaik, barang pokok murah, swasembada pangan pun mulai terealisasi.
Menurut berbagai ahli Ekonomi seperti Sritua, bantuan Amerika Serikat dalam rangka menopang ekonomi rakyat merupakan langkah utama yang tepat bagi mulusnya rencana menguasai negara-negara kaya seperti Indonesia.
Dengan kata lain Indonesia telah terancam oleh Amerika Serikat. Selain menguasai Freeport Amerika Serikat juga telah memegang beberapa kendali atas politik di Indonesia zaman Suharto. Bahkan dalam suatu percakapan di Talkshow Total Politik, Yusril Ihza Mahendra mengatakan Suharto sempat menyesali dekat dengan Amerika.
Ia mengatakan karena Amerika Indonesia bangkrut pada masa akhir pemerintahannya di tahun 1998. IMF (Bank Dunia) memperlakukan Indonesia sebagai orang yang berhutang banyak.
Mereka harus membayar bunga itu berlipat ganda. Parahnya Amerika lah yang memperkenalkan Indonesia dengan IMF. Itulah kerugian Suharto dekat dengan Amerika Serikat.
Melahirkan Kelompok Anti Kramanisasi
Demi menutup kesalahan Suharto mengambil langkah diplomasi ekonomi dengan Amerika Serikat, Presiden RI kedua asal Yogyakarta ini melahirkan konsep budaya Kramanisasi sebagai tameng pelindung agar tidak disalahkan oleh rakyatnya.
Kramanisasi adalah sistem budaya Mikhul Dhuwur Mendem Njero yang berarti yang paling benar paling disorot dan yang paling salah paling ditutupi. Biasanya perumpamaan ini dipakai untuk proteksi jitu para “pembesar” dari suatu kesalahan.
Baca Juga: Pemuda Zaman Orba, Hidup Manja dan Gemar Menghisap Ganja?
Menurut Benedict Anderson dalam buku berjudul “Sembah-Sumpah” (1984), dari fenomena ini lahirlah beberapa kelompok yang ingin membebaskan negara dari sesuatu hal yang paradoks. Salah satunya adalah kelompok Anti Kramanisasi.
Kira-kira mereka lahir pada tahun 1980-1998. Rata-rata anggota kelompok ini berasal dari para ilmuwan budaya, sastrawan, seniman, dan para agent of change lainnya.
Namun kebanyakan Ilmuwan budaya dan sastrawan. Salah satunya WS. Rendra (Sastrawan) dan Romo Mangunwijaya (Ilmuwan Budaya).
Mereka berdua terkenal sebagai dua tokoh penentang Anti Kramanisasi. Baginya aliran Kramanisasi merupakan ajaran suci umat Jawa yang tidak etis apabila Suharto gunakan untuk menutupi kesalahannya dalam bekerja.
Tidak gentleman dan menunjukan kepengecutan. Tentu ini merupakan hinaan bagi orang-orang Jawa yang paham budaya.
Romo Mangun Wijaya dan WS. Rendra mengkritik Suharto melalui berbagai tulisan. Rendra melalui puisi dan Romo Mangun menggunakan kolom surat kabar berisi opini publik.
Bukannya tersadar dan memperbaiki kesalahan, sebagaimana ciri khas negara fasis Suharto justru mengintimidasi dua tokoh ini sampai Rendra keluar masuk penjara. (R7/HR-Online/Editor-Ndu)