Sabtu, April 5, 2025
BerandaBerita TerbaruSejarah Sinterklaas Hitam, Upaya Sukarno Usir Belanda Tahun 1957

Sejarah Sinterklaas Hitam, Upaya Sukarno Usir Belanda Tahun 1957

Romo Katolik, Frans Magnis Suseno dalam tulisannya berjudul, “Kuasa dan Moral” (1986), menyebut peristiwa Sinterklaas hitam adalah sejarah kelam bagi orang Belanda yang masih bertahan di Indonesia pada tahun 1957.

Sebab sejak tanggal 29 November 1957, Sukarno marah dan mewacanakan pemulangan serentak orang-orang Belanda yang masih ada di Indonesia. Hal ini terjadi karena Sukarno tak puas dengan keputusan PBB yang berat sebelah dan memihak Belanda.

Menurut kongres PBB tahun 1957, Irian Barat jatuh pada kekuasaan Belanda. Maka dari itu Indonesia tidak punya hak untuk menguasai negara bagian Timur tersebut secara de facto dan de jure.

Pada puncaknya Sukarno merealisasikan wacana pemulangan orang Belanda pada tanggal 27 Desember 1957. Realisasi pemulangan mereka bertepatan dengan hari raya Natal dan kebanyakan keluarga Belanda sedang bersiap merayakan malam Sinterklaas.

Baca Juga: Mientje, Kekasih Bule Sukarno dan Kisah Cintanya yang Tragis

Sejarah Sinterklaas Hitam, Pengusiran Kolektif Warga Belanda di Indonesia

Menurut Menteri Kehakiman Orde Lama, Maengkom, meskipun Sukarno telah mengultimatum agar orang Belanda hengkang dari Indonesia sejak tanggal 29 November 1957, setidaknya sampai tanggal 5 Desember 1957 masih ada sekitar 50.000 jiwa yang bandel.

Mereka tidak mau kena deportase, orang-orang Belanda betah tinggal di Indonesia. Namun Sukarno kekeuh ingin memulangkan orang-orang Belanda setahap demi setahap. Akibatnya beberapa cara non-halal Sukarno lakukan: menindak secara represif.

Istilah represif bagi warga Belanda yang bandel ingin tetap tinggal di Indonesia, merupakan istilah wartawan asing yang memojokkan nama Sukarno di dunia Internasional.

Mereka sengaja membuat kabar miring Sukarno telah keras dan memancing peperangan orang sipil Belanda dengan para pribumi bersenjata.

Peristiwa ini bermula ketika Sukarno menerbitkan peraturan Nasionalisasi –mengambil alih perusahaan-perusahaan Belanda.

Tindakan ini bermaksud menekan orang Belanda agar pemerintah mereka bisa berunding dan melepaskan Irian Barat dari genggamannya.

Namun Belanda menolak gertakan ini. Pemerintah Belanda merelakan ribuan warganya pulang ke negeri induk, bahkan jika situasi tak memungkinkan keselamatan mereka, Belanda tidak peduli dan lebih memilih Irian Barat ketimbang rakyatnya sendiri.

Kendati demikian Belanda tetap berusaha tanggung jawab. Pemerintah mereka menyiapkan transportasi kapal penumpang dari Italia. Kapal ini parkir di pelabuhan Jakarta dan mengangkut warganya pulang ke negeri induk.

Baca Juga: Meneer Both, Guru Debat Sukarno yang Pro Kemerdekaan

Kehilangan Nuansa Bahagia di Hari Raya Natal

Seorang mantan pegawai Jawatan Kereta Api di Deli, Sumatera –Hendrik Bouwer menuturkan, Sukarno begitu kejam terhadap orang-orang Belanda yang menolak pulang ke negeri Induk.

Orang nomor satu di republik Indonesia tersebut mengedarkan larangan resmi untuk orang-orang Nasrani merayakan tradisi Sinterklaas saat hari raya Natal tiba. Ia mengganti kebahagiaan orang Belanda Nasrani kala itu dengan surat pemulangan.

Peristiwa ini terjadi pada tanggal 27 Desember 1957. Untuk mengenang peristiwa kelam dalam sejarah ini, Hendrik Bouwer dan teman-teman Belanda lain menamainya dengan sebutan peristiwa Sinterklaas Hitam –hari gelap tidak menyenangkan: Berduka.

Dalam edaran melarang warga Belanda merayakan tradisi Sinterklaas pada malam Natal juga diiringi oleh perintah resmi Republik tentang pengusiran orang Belanda 1×24 Jam dari hari tersebut.

“Tidak ada demokrasi dalam perintah ini, inilah awal mula Sukarno berubah jadi seorang diktator yang represif,” tutur Hendrik Bouwer.

Sukarno mengintimidasi orang-orang Belanda dengan menggerakkan para tentara bersenjata lengkap. Mereka patroli di perumahan orang-orang Belanda di berbagai daerah, seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

Sedangkan pekerja minyak di perusahaan Shell bernama Constance Huydecoper melihat segerombol orang Belanda lari terbirit-birit ke pelabuhan. Mereka menunggu kapal tumpangan pemerintah Belanda pulang ke negeri induk.

Situasi saat itu sungguh menegangkan, pabrik-pabrik Belanda tutup tak beroperasi. Mereka (orang Belanda) tak punya tempat lagi bergaul dengan orang pribumi seperti dahulu.

Baca Juga: Kisah Bung Karno Meramal Kemerdekaan RI Melalui Naskah Toniel

Orang Pribumi Mengasingkan Warga Belanda

Selain Sukarno menugaskan tentara bersenjata lengkap mengintimidasi orang-orang Belanda di berbagai daerah di pulau Jawa dan Sumatera, rupanya masyarakat sipil pribumi ikut mendukung kebijakan tersebut.

Menurut Walentina Waluyanti de Jonge dalam tulisannya berjudul, “Bung Karno dan Sinterklaas Hitam” (2013), orang-orang pribumi mengasingkan orang Belanda melalui berbagai cara yang menyedihkan.

Antara lain seperti, tidak melayani pembelian bahan pokok: beras, gula, minyak, dan sembako lainnya, dan tidak membuka pelayanan surat menyurat di kantor Pos.

Semua konsulat tutup, komunikasi orang Belanda nyaris putus kena sabotase masyarakat sipil yang emosi dan mengasingkan mereka dengan kejam.

Suasana lebih mencekam dari sebelumnya ketika beberapa orang Belanda ada yang disiksa oleh masyarakat pribumi. Akibat orang Belanda tidak berani berkeliaran di jalan-jalan.

Kesaksian saksi bisu sejarah Sinterklaas Hitam yang saat itu melihat situasi ini menuturkan, “rumah-rumah orang Belanda banyak yang kosong. Lingkungan mereka mendadak sepi penghuni. Orang Belanda terpaksa mengosongkan rumah tanpa sempat membawa apa-apa”. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Sejarah Tumenggung Kopek, Jejak yang Penuh Misteri

Sejarah Tumenggung Kopek, Jejak yang Penuh Misteri

Tidak semua tokoh besar mendapat tempat dalam buku sejarah Indonesia. Beberapa nama tetap hidup melalui cerita lisan yang diwariskan turun-temurun. Sejarah Tumenggung Kopek adalah...
Nissan Micra EV 2025, Transformasi Ikonik ke Era Listrik

Nissan Micra EV 2025, Transformasi Ikonik ke Era Listrik

Nissan baru saja memperkenalkan generasi terbaru dari Nissan Micra EV 2025. Mobil Nissan terbaru tersebut kini bertransformasi menjadi kendaraan listrik sepenuhnya. Nissan Micra atau...
Pemandian Air Panas

Menikmati Wisata Pemandian Air Panas Cileungsing Sumedang Saat Libur Lebaran

harapanrakyat.com,- Obyek wisata Pemandian Air Panas Cileungsing di Cilangkap, Kecamatan Buahdua, Sumedang, Jawa Barat, kembali menarik ribuan wisatawan pada libur Lebaran 2025. Destinasi wisata ini...
Obyek Wisata Sepi Pengunjung

Obyek Wisata Sepi Pengunjung Saat Libur Lebaran, Wali Kota Banjar: Perlu Ada Perubahan

harapanrakyat.com,- Wali Kota Banjar, Jawa Barat, Sudarsono, menanggapi perihal sejumlah obyek wisata sepi pengunjung pada momen libur Lebaran 2025. Sudarsono mengatakan, Pemerintah Kota Banjar ke...
Ulefone Armor 30 Pro Rilis dengan Inovasi dan Fitur Canggih

Ulefone Armor 30 Pro Rilis dengan Inovasi dan Fitur Canggih

Ulefone baru saja merilis Armor 30 Pro, sebuah smartphone tangguh yang menggabungkan daya tahan luar biasa dengan teknologi terkini. Dirancang khusus untuk pengguna yang...
Pergerakan Tanah di Neglasari

Pergerakan Tanah di Neglasari Ciamis, Sejumlah Rumah dan Jalan Desa Alami Kerusakan

harapanrakyat.com,- Akibat adanya pergerakan tanah di Neglasari, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, beberapa rumah warga mengalami kerusakan. Selain itu, ruas jalan desa juga mengalami...