Romo Katolik, Frans Magnis Suseno dalam tulisannya berjudul, “Kuasa dan Moral” (1986), menyebut peristiwa Sinterklaas hitam adalah sejarah kelam bagi orang Belanda yang masih bertahan di Indonesia pada tahun 1957.
Sebab sejak tanggal 29 November 1957, Sukarno marah dan mewacanakan pemulangan serentak orang-orang Belanda yang masih ada di Indonesia. Hal ini terjadi karena Sukarno tak puas dengan keputusan PBB yang berat sebelah dan memihak Belanda.
Menurut kongres PBB tahun 1957, Irian Barat jatuh pada kekuasaan Belanda. Maka dari itu Indonesia tidak punya hak untuk menguasai negara bagian Timur tersebut secara de facto dan de jure.
Pada puncaknya Sukarno merealisasikan wacana pemulangan orang Belanda pada tanggal 27 Desember 1957. Realisasi pemulangan mereka bertepatan dengan hari raya Natal dan kebanyakan keluarga Belanda sedang bersiap merayakan malam Sinterklaas.
Baca Juga: Mientje, Kekasih Bule Sukarno dan Kisah Cintanya yang Tragis
Sejarah Sinterklaas Hitam, Pengusiran Kolektif Warga Belanda di Indonesia
Menurut Menteri Kehakiman Orde Lama, Maengkom, meskipun Sukarno telah mengultimatum agar orang Belanda hengkang dari Indonesia sejak tanggal 29 November 1957, setidaknya sampai tanggal 5 Desember 1957 masih ada sekitar 50.000 jiwa yang bandel.
Mereka tidak mau kena deportase, orang-orang Belanda betah tinggal di Indonesia. Namun Sukarno kekeuh ingin memulangkan orang-orang Belanda setahap demi setahap. Akibatnya beberapa cara non-halal Sukarno lakukan: menindak secara represif.
Istilah represif bagi warga Belanda yang bandel ingin tetap tinggal di Indonesia, merupakan istilah wartawan asing yang memojokkan nama Sukarno di dunia Internasional.
Mereka sengaja membuat kabar miring Sukarno telah keras dan memancing peperangan orang sipil Belanda dengan para pribumi bersenjata.
Peristiwa ini bermula ketika Sukarno menerbitkan peraturan Nasionalisasi –mengambil alih perusahaan-perusahaan Belanda.
Tindakan ini bermaksud menekan orang Belanda agar pemerintah mereka bisa berunding dan melepaskan Irian Barat dari genggamannya.
Namun Belanda menolak gertakan ini. Pemerintah Belanda merelakan ribuan warganya pulang ke negeri induk, bahkan jika situasi tak memungkinkan keselamatan mereka, Belanda tidak peduli dan lebih memilih Irian Barat ketimbang rakyatnya sendiri.
Kendati demikian Belanda tetap berusaha tanggung jawab. Pemerintah mereka menyiapkan transportasi kapal penumpang dari Italia. Kapal ini parkir di pelabuhan Jakarta dan mengangkut warganya pulang ke negeri induk.
Baca Juga: Meneer Both, Guru Debat Sukarno yang Pro Kemerdekaan
Kehilangan Nuansa Bahagia di Hari Raya Natal
Seorang mantan pegawai Jawatan Kereta Api di Deli, Sumatera –Hendrik Bouwer menuturkan, Sukarno begitu kejam terhadap orang-orang Belanda yang menolak pulang ke negeri Induk.
Orang nomor satu di republik Indonesia tersebut mengedarkan larangan resmi untuk orang-orang Nasrani merayakan tradisi Sinterklaas saat hari raya Natal tiba. Ia mengganti kebahagiaan orang Belanda Nasrani kala itu dengan surat pemulangan.
Peristiwa ini terjadi pada tanggal 27 Desember 1957. Untuk mengenang peristiwa kelam dalam sejarah ini, Hendrik Bouwer dan teman-teman Belanda lain menamainya dengan sebutan peristiwa Sinterklaas Hitam –hari gelap tidak menyenangkan: Berduka.
Dalam edaran melarang warga Belanda merayakan tradisi Sinterklaas pada malam Natal juga diiringi oleh perintah resmi Republik tentang pengusiran orang Belanda 1×24 Jam dari hari tersebut.
“Tidak ada demokrasi dalam perintah ini, inilah awal mula Sukarno berubah jadi seorang diktator yang represif,” tutur Hendrik Bouwer.
Sukarno mengintimidasi orang-orang Belanda dengan menggerakkan para tentara bersenjata lengkap. Mereka patroli di perumahan orang-orang Belanda di berbagai daerah, seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya.
Sedangkan pekerja minyak di perusahaan Shell bernama Constance Huydecoper melihat segerombol orang Belanda lari terbirit-birit ke pelabuhan. Mereka menunggu kapal tumpangan pemerintah Belanda pulang ke negeri induk.
Situasi saat itu sungguh menegangkan, pabrik-pabrik Belanda tutup tak beroperasi. Mereka (orang Belanda) tak punya tempat lagi bergaul dengan orang pribumi seperti dahulu.
Baca Juga: Kisah Bung Karno Meramal Kemerdekaan RI Melalui Naskah Toniel
Orang Pribumi Mengasingkan Warga Belanda
Selain Sukarno menugaskan tentara bersenjata lengkap mengintimidasi orang-orang Belanda di berbagai daerah di pulau Jawa dan Sumatera, rupanya masyarakat sipil pribumi ikut mendukung kebijakan tersebut.
Menurut Walentina Waluyanti de Jonge dalam tulisannya berjudul, “Bung Karno dan Sinterklaas Hitam” (2013), orang-orang pribumi mengasingkan orang Belanda melalui berbagai cara yang menyedihkan.
Antara lain seperti, tidak melayani pembelian bahan pokok: beras, gula, minyak, dan sembako lainnya, dan tidak membuka pelayanan surat menyurat di kantor Pos.
Semua konsulat tutup, komunikasi orang Belanda nyaris putus kena sabotase masyarakat sipil yang emosi dan mengasingkan mereka dengan kejam.
Suasana lebih mencekam dari sebelumnya ketika beberapa orang Belanda ada yang disiksa oleh masyarakat pribumi. Akibat orang Belanda tidak berani berkeliaran di jalan-jalan.
Kesaksian saksi bisu sejarah Sinterklaas Hitam yang saat itu melihat situasi ini menuturkan, “rumah-rumah orang Belanda banyak yang kosong. Lingkungan mereka mendadak sepi penghuni. Orang Belanda terpaksa mengosongkan rumah tanpa sempat membawa apa-apa”. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)