Sejarah pabrik tebu di Yogyakarta pada tahun 1930 memiliki narasi menarik yang memperlihatkan sifat asli dari para aristokrat keraton saat itu.
Keberadaan pabrik tebu membuat petani merugi, para aristokrat keraton sengaja memiskinkan petani supaya mereka mau bekerja menjadi pegawai pabrik dan beralih profesi sebagai petani tebu.
Melalui dukungan gubernemen para aristokrat keraton berhasil membentuk pola demikian. Mereka menjadikan para petani menurut karena terdesak.
Meskipun dibayar rendah dan tak sepadan dengan beratnya pekerjaan, para petani ikhlas menjalani karena biaya kebutuhan sehari-hari rumah tangga yang kekurangan.
Mindset mereka (petani) saat itu lebih baik bekerja diupah sedikit daripada sama sekali tidak bekerja yang bisa mengakibatkan keluarga jadi kelaparan.
Baca Juga: Peristiwa Kudatuli 1996, Cikal Bakal Pemicu Lengsernya Suharto
Alhasil para petani tebu terpaksa menjalani kehidupan di pabrik karena takut keluarga mereka kelaparan. Para aristokrat keraton tak menghiraukan hal ini.
Mereka bersama para gubernemen malah menjaring terus pegawai pabrik lain untuk menjadi pekerja di kebun tebu mereka.
Sejarah Pabrik Tebu di Yogyarakta, Aristokrat Pemilik Pabrik Tebu Memihak Belanda
Menurut William Joseph O’ Malley dalam tulisannya yang dimuat oleh Majalah Prisma Edisi 8 Agustus 1983 berjudul, “Indonesia di masa Malaise: Suatu studi terhadap Sumatera Timur dan Yogyakarta di tahun 1930-an”, masuknya perkebunan tebu menimbulkan masalah bagi petani.
Mereka tidak senang karena alasan tanah, tenaga kerja, dan modal. Semula pabrik tebu memang membuka lapangan kerja untuk orang Yogyakarta, namun kemudian para pengelola pabrik tersebut menekan nasib para pekerjanya yang berasal dari golongan petani.
Sejarah mencatat, saat itu pengelola pabrik tebu di Yogyakarta tengah memperbesar produksi gula sehingga menarik seluruh jumlah pegawai dari para petani. Namun mereka agak memaksa karena para petani itu ada yang menolak sebab upahnya rendah.
Peristiwa ini menjadi beban petani karena imbalan (gaji) mereka tidak sepadan dengan beratnya pekerjaan.
Akhirnya para petani menderita, kesakitan akibat lelah kerja berkepanjangan. Mereka juga miskin karena tidak bisa menghasilkan upah yang setimpal dengan harga kebutuhan rumah tangga saat itu yang ikut melambung.
Bukanya menolong rakyat, para aristokrat berdarah biru ini justru memihak kaum penguasa (Belanda).
Baca Juga: Sejarah Hari Pers Nasional dan Koran Pertama di Hindia Belanda
Mereka membangun relasi untuk memonopoli industri gula di Jawa. Sebab untungnya besar. Bagi para aristokrat keuntungan gula bisa membuat dahaga duniawinya terpenuhi, sedangkan bagi gubernemen keuntungan tersebut bisa mereka terbebas dari Malaise.
Sejarah Pabrik Tebu di Yogyakarta, Rakyat Semakin Dekat dengan Penindasan
Meskipun percikan penindasan sudah terjadi di awal rekrutmen pegawai pabrik tebu, seiring berjalannya waktu tindakan-tindakan memaksa ini semakin dekat pada para petani di pedalaman Yogyakarta.
Mereka dipaksa bekerja di pabrik tebu terdekat milik aristokrat. Akibatnya para penggarap sawah menjadi sedikit karena para petaninya bekerja di pabrik tebu.
Selain itu hampir seluruh ladang sawah dekat perkotaan Yogyakarta beralih fungsi menjadi ladang tebu yang panennya lama, bisa sampai 17-18 bulan tumbuhan penyimpan air ini bisa menghasilkan gula.
Irigasi pertanian pun ikut beralih fungsi. Hampir 50 persen dari perairan untuk ladang padi berpindah ke ladang-ladang tebu. Belanda memfasilitasi dana pembangunan irigasi yang kemudian ditindaklanjuti oleh kaum aristokrat rakus.
Ladang petani ikut tergusur. Sebab sepanjang tahun 1930, para aristokrat berlomba mendirikan pabrik gula.
Sedangkan tempatnya berasal dari ladang petani yang statusnya Tanah Bengkok atau tanah pinjaman dari Keraton yang setiap tahunnya ditarik pajak.
Sebagian ladang yang masih berfungsi jadi sawah padi terancam gagal panen. Bahkan ada beberapa lain yang sudah gagal panen akibat kekurangan jumlah pasokan air untuk pertumbuhan padi.
Akibatnya para petani miskin. Mereka kelaparan, sekeluarga pasti ada yang menderita busung lapar. Perutnya membuncit akibat kekurangan makan terutama asupan gizi yang seimbang.
Perlawanan petani pun tidak ada. Pada tahun 1930-an revolusi di Vorstenlanden (Tanah Kerajaan) nampaknya padam karena dunia saat itu sedang mengalami Malaise.
Kelesuan ekonomi (Malaise) itulah yang mengakibatkan para aktivis pemberontak Raja memilih diam tanpa perlawanan. Mereka sadar untuk menggerakkan para petani tentu butuh biaya yang tak sedikit.
Baca Juga: Sejarah Ndoro Bakulan, Raja Pedagang di Jawa Tengah Abad 17
Petani Melakukan Sabotase di Ladang Tebu
Pada akhirnya karena sudah muak dengan tindakan represif aristokrat dan gubernemen, para petani hanya bisa melakukan sabotase di ladang tebu milik mereka.
Para petani membakar tanaman tebu yang hampir dipanen. Dengan harapan tanah mereka akan segera dikembalikan.
Akibatnya sungguh besar, terror mempecundangi aristokrat rakus dan gubernemen licik ini kehilangan aset panen yang mengganggu statistik pendapatan mereka pertahunnya. Sebab panen tebu itu tak sebentar, bisa lebih dari satu tahun baru bisa dipanen.
Menurut berbagai catatan sejarah, aksi teror para petani yang bekerja di pabrik tebu Yogyakarta ini terinspirasi oleh perilaku-perilaku Ketju atau Bandit yang hobi membunuh para penguasa pada tahun 1860-1870.
Seperti aksi-aksi Robinhood, para petani tebu memposisikan dirinya sebagai penjahat penolong kaum yang lapar.
Karena aksi ini mereka (petani peneror pabrik tebu) berhasil membuat golongan aristokrat miskin. Mereka tak lagi berdaulat dan punya kewenangan memaksa kaum tani. Begitu juga dengan gubernemen.
Barisan petani tebu sakit hati ini berhasil mempecundangi keraton dan Belanda yang dalam waktu dekat kemarin telah membuat mereka miskin dan kelaparan. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)