Wartawan Majalah Gatra, Dwitri Waluyo dalam tulisannya berjudul, “Giliran Motor Nasional: Jatayu Mengincar Penggemar Motor Besar, Berbagai Jenis Motor Segera Menyusul” pada 5 April 1997, menuturkan sejarah motor Jatayu berawal dari ide industri transportasi Nasional.
Motor Jatayu merupakan transportasi roda dua dengan bentuk seperti motor Harley Davidson. Konon produksi motor ini bertujuan untuk menyaingi pasar transportasi roda dua buatan Jepang yang saat itu sudah meraja di Indonesia.
Antara lain seperti motor buatan Jepang bermerek Honda, Suzuki dan Yamaha. Selain Jepang motor buatan Itali bermerek Vespa ikut membuat produk transportasi Nasional –Motor Jatayu, ikut bersaing.
Baca Juga: Sejarah Petisi 50, Kala Para Jenderal Gugat Filsafat Pancasila Versi Suharto
Pemerintah Orde Baru sempat merespon produk motor Jatayu dengan baik. Bahkan Presiden Suharto ikut membranding motor tersebut sebagai transport Nasional yang punya kualitas taraf Internasional. Suharto juga mengoleksi beberapa motor Jatayu.
Sejarah Motor Jatayu, Inisiatif Pensiunan Bankir
Masih menurut Dwitri Waluyo, wartawan majalah Gatra itu mengklaim motor Jatayu lahir dari inisiatif cerdas pensiunan banker di Bank Niaga bernama Robby Djohan.
Robby merakit motor Jatayu dan membrandingnya jadi produksi Nasional pada tahun 1996. Melalui anak perusahaannya bernama PT. Nusa Cipta Jatayu, Robby memproduksi motor berkapasitas 1.600 cc dan 1.340 cc secara massal.
Awal tujuan memproduksi motor Jatayu adalah pasar penghobi, namun seiring dengan berjalannya waktu, Robby nekad memproduksi massal motor Jatayu untuk pasar Nasional. Ia bahkan menawarkan produknya ke beberapa stakeholder dan pejabat publik.
Permulaan menjual motor ini ke pasar Nasional terhitung sejak tahun 1997. Robby membanting stir bisnis transportasi roda duanya itu menjadi lebih luas konsumen. Ia ingin memasarkan produknya hingga ke lapisan sosial menengah.
Sebab tidak seperti harga motor Harley Davidson pada umumnya, motor yang punya spesifikasi mirip tunggangan artis Hollywood ini bisa dibeli dengan harga yang terjangkau.
Tidak sampai Rp 100 juta, hanya dengan harga Rp 60-75 juta motor Jatayu bisa langsung parkir di halaman rumah si pembeli. Maka dari itu Robby semakin optimis jualan motor produksi miliknya laris di pasar konsumen Nasional.
Sukses Memasarkan Motor Jatayu 10 Unit Setiap Bulannya
Priandhi Satria Juzar, Direktur Utama Nusa Cipta Jatayu menuturkan, perusahaannya sukses memasarkan motor Jatayu 10 unit setiap bulannya. Hal itu tercatat dalam sejarah motor Jatayu.
Baca Juga: Peristiwa Kudatuli 1996, Cikal Bakal Pemicu Lengsernya Suharto
Peristiwa ini menjadi titik terang Robby untuk terus memproduksi motor Nasional. Ia juga mempropagandakan bisnisnya itu dengan framing ekonomi “cintailah produk-produk dalam negeri”. Dengan itu ekonomi pendapatan negara akan bertambah setiap pembeliannya.
Robby sempat mengaku pesimis dengan bisnis motor Jatayu. Pasalnya motor Jatayu di design sesuai dengan motor besar yang menyerupai Harley Davidson. Saat itu tak banyak orang yang minat dengan motor ini, oleh karena itu ia hanya menjual pada penghobi.
Namun Robby tak menyangka, ternyata grafik penjualan motor Jatayu semakin hari semakin meningkat. Ia bahkan menetapkan target pemasaran setiap bulan harus terjual 10 unit. Target ini akan membuat perusahaan terus berkembang dan maju di kemudian hari.
Mengutip pernyataan Priadhi Satria Juzar, konon para konsumen yang membeli motor Jatayu karena harganya terjangkau. Apalagi motor ini punya kualitas yang sama dengan Harley Davidson tipe Soft Tail Heritage, sebab 70 persen onderdil dari Amerika dan 30 persen lainnya dari Eropa.
Rasa motor ini mirip dengan Harley Davidson. Bahkan jika orang tidak jeli melihat kelengkapan motor ini sekilas tak ada yang menyangka kalau ternyata motor tersebut bermerk Jatayu.
Belakangan orang-orang anti merk lokal kerap mengganti emblem motor Jatayu menjadi merk Harley Davidson untuk mengelabui orang atau penghobi moge.
Menginspirasi Beberapa Pembuat Pasar Motor Nasional
Tommy Mandala Putra, anak kelima Presiden Suharto turut mengumumkan produksi industri motor Nasional dari perusahaannya bermerek Timori.
Tommy menyebut akan memproduksi motor kecil berkapasitas 100 cc sampai dengan 125 cc atau setara dengan motor Honda, Suzuki, dan Yamaha berjenis bebek. Motor Timori tersebut nantinya akan dijual ke konsumen publik untuk menyaingi pasar roda dua di Indonesia.
Baca Juga: Sejarah Swasembada Pangan Zaman Orba: Padi Melimpah, Kesejahteraan Rendah
Untuk merealisasikan motor Timori, Adik Titiek Suharto ini bekerjasama dengan perusahaan transportasi asal Italia bernama Cagiva –perusahaan motor yang sudah berdiri sejak tahun 1950-an.
Perusahaan asing itu menyetujui agenda pembuatan motor Timori untuk konsumen Nasional menyaingi pabrikan Jepang yang sudah merajai pasar sepeda motor di Indonesia. Tujuannya baik, mereka ingin membiasakan rakyat mencintai produk dalam negeri.
Selain Timori, perusahaan motor yang terinspirasi dari pabrik motor Jatayu ini antara lain adalah PT. Lippo Industries. Perusahaan Indonesia tersebut bekerjasama dengan perusahaan motor di Taiwan bernama Kwang Yang untuk memproduksi motor matic pertama bernama Cymco.
Motor ini merupakan roda dua tanpa transmisi (gigi) alias matic yang laku di pasaran Nasional. Meskipun bekerjasama dengan perusahaan Taiwan dan bermerk Cymco, motor ini diproduksi langsung di Indonesia sama seperti motor Jatayu dan Timori. Tiga perusahaan ini mendukung program mencintai produk dalam negeri. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)