Tidak seperti kebanyakan kerajaan agraris lain yang pernah berjaya di Nusantara, sejarah Mataram menunjukkan tanah leluhur orang Jawa ini sebagai sumber pemasok kebutuhan pangan bagi seluruh rakyat kerajaan maritim di Nusantara.
Kerajaan Mataram dahulu punya peran penting dalam pembangunan pangan bagi wilayah selain kerajaan agraris yaitu kerajaan Maritim.
Setelah ditelusuri lebih dalam oleh para begawan sejarah salah satunya Ong Hok Ham, Mataram menunjukan fakta pernah menjadi kerajaan pusat ekspor padi di Jawa ke beberapa kerajaan maritim yang ada di Nusantara.
Kerajaan Mataram yang lahir pada tahun 1587 berhasil menggantikan kejayaan Majapahit yang telah usang dua abad sebelumnya.
Baca Juga: Sejarah Malaka, Kerajaan Maritim yang Kaya Tanpa Hasil Produksi
Ketika VOC datang ke Nusantara pada tahun 1602, kerajaan Mataram menjadi tempat penting bagi mereka. Salah satunya Mataram adalah kerajaan yang mengeluarkan persetujuan dagang dan memperoleh komoditas rempah bagi orang asing di tanah Jawa.
Pencapaian-pencapaian inilah yang membuat nama kerajaan Mataram terkenal hingga ke berbagai pelosok negeri. Terutama kerajaan-kerajaan Maritim yang butuh pasokan pangan karena daerahnya tidak punya lahan besar untuk memproduksi padi.
Mataram kemudian muncul menjadi penguasa besar yang mungkin sebelum abad ke-15 sukses melebihi capaian Majapahit dan Sriwijaya.
Sejarah Mataram dan Monopoli Perdagangan Padi di Kerajaan Maritim
Semenjak berdirinya kerajaan Mataram, tanah Kasultanan peninggalan leluhur Sultan Agung ini telah memfokuskan pendapatan daerah dari hasil panen padi. Mereka kemudian menetapkan puncak kejayaanya sebagai kerajaan agraris.
Penetapan itu berlangsung dari pemandangan luas kekuasaan Mataram yang kebanyakan wilayahnya merupakan ladang padi (sawah).
Begitupun dengan masyarakat di sekitarnya yang notabene bermata pencaharian sebagai petani.
Semakin yakin menetapkan Mataram sebagai kerajaan agraris datang dari keajaiban di awal abad ke-15. Hampir setiap tahun ladang di sana tak pernah mengalami kekeringan yang bisa menyebabkan gagal panen.
Kendatipun mereka mengalami kekeringan panjang, tak jadi masalah bagi pertanian di Mataram. Sebab mereka memiliki cadangan beras yang banyak karena Mataram memiliki luas ladang pertanian lima kali lipat dari kepadatan penduduknya.
Alhasil jumlah padi stabil bahkan mengalami peningkatan panen apabila cuaca sedang mendukung untuk pertumbuhan si padi itu sendiri.
Baca Juga: Menu Makan Orang Jawa Abad 18: Takut Kutukan, Hindari Daging Merah
Hal ini membuat kerajaan-kerajaan maritim melirik Mataram. Mereka ingin bekerjasama dengan Mataram terutama dalam hal pengadaan padi guna memenuhi kebutuhan pangan di negara masing-masing.
Kerajaan-kerajaan maritim tersebut terdiri dari Malaka, Banten, dan Aceh. Mereka semua impor beras kepada Mataram.
Bahkan selain kepada kerajaan-kerajaan maritim di atas, Mataram juga pernah mendapatkan permintaan impor beras dari kekerajaan Ayuthia di Muangthai, sekarang Thailand.
Mataram Bersaing dengan Penguasa Pesisir Jawa Penghasil Padi
Seiring dengan menyebarluasnya berita Mataram sebagai kerajaan agraris terbesar di tanah Jawa, beberapa penguasa pesisir Jawa yang juga punya lahan untuk bercocok tanam padi tergugah.
Mereka ingin meniru Mataram dan bisa menyaingi perdagangan padi ke negara-negara maritim yang ada di Barat pulau Jawa.
Menurut ahli sejarah Ong Hok Ham, terdapat dua penguasa pesisir Jawa yang berambisi melakukan persaingan dagang beras dengan Mataram antara lain, penguasa kerajaan di Gresik dan Surabaya.
Selain menemukan fakta sejarah bahwa Gresik dan Surabaya (yang sama-sama berasal dari penguasa kerajaan maritim di Jawa TImur) nekad bersaing dengan Mataram dalam perdagangan beras, sejarawan Ong juga menduga persaingan akan monopoli perdagangan inilah yang menyebabkan konflik antar pedalaman (agraris) dan pesisiran (maritime).
Gresik dan Surabaya berhasil menciptakan kerusuhan untuk meredam eksistensi Mataram sebagai daerah pemasok beras ke negara maritim.
Mereka ingin menunjukkan kerajaan maritim juga bisa mandiri mendapatkan beras tanpa impor dari Mataram. Caranya memonopoli perdagangan rempah yang ada di wilayah bagian Mataram.
Peristiwa tersebut kemudian ditiru oleh kerajaan-kerajaan maritim yang ingin terbebas dari impor beras Mataram. Mereka sadar jika terus menerus impor, negerinya tak akan berkembang, yang ada hanya menimbulkan kebangkrutan.
Salah satu kerajaan maritim yang terinspirasi oleh gerakan Gresik dan Surabaya dan menyabotase Mataram adalah Aceh.
Menurut Denys Lombard dalam buku berjudul, “Le Sultant d’ Atjeh au Temps D’ Iskandar Muda 1607-1636” (1967), Iskandar Muda (penguasa kerajaan Aceh) memonopoli rempah dan menghindari penjualan rempah Mataram di pelabuhannya.
Mereka menutup hubungan dagangan ini sebagai bentuk protes pada Mataram karena kerajaan tersebut telah membentuk struktur ekonomi ketergantungan kerajaan-kerajaan maritime di Nusantara.
Aceh mengambil langkah yang tepat. Mataram kesulitan memasarkan rempah, karena perannya sebagai kota pelabuhan di Nusantara terletak di sana. Maka mau tidak mau Mataram ikut tunduk pada aturan yang dinginkan oleh daerah berjuluk Si Serambi Makkah ini.
Banten Menjadi Pesaing Baru Mataram
Setelah bekerjasama dengan Aceh, Mataram sepakat mengatur pengadaan beras untuk kerajaan maritim yang terjangkau.
Hal ini bukan berarti Mataram terbebas dari persoalan besar. Sebab tak selang lama setelah mereka bersepakat bekerjasama dalam perdagangan tersebut, tiba-tiba Banten muncul menjadi pesaing baru bagi Mataram.
Baca Juga: Upacara Pemakaman Kejawen dan Kisah Arwah Gentayangan Tahun 1980-an di Yogyakarta
Banten berkaca pada penguasa Gresik dan Surabaya. Meskipun mereka merupakan kerajaan maritim, tetapi bisa mengembangkan sawah untuk memenuhi kebutuhan pangan negerinya.
Banten mencoba berswasembada pangan tatkala mundur dari perdagangan rempah. Kerajaan di Banten bangkrut setelah perdagangan rempah mereka berhasil dimonopoli oleh penguasa Sumatera Selatan (Lampung).
Seperti halnya Mataram yang tunduk oleh Aceh gara-gara bisnis beras, Banten pun luluh oleh Sumatera Selatan karena mereka berhasil menguasai industri rempah secara mandiri.
Tak ingin kehilangan eksistensi, Banten beralih fokus menjadi negara agraris. Para penguasa di Banten mengusulkan rakyatnya berprofesi menjadi petani.
Hasilnya menakjubkan, dalam sejarah tercatat Banten bisa berswasembada pangan dan tak lagi tergantung pada Mataram. Bahkan mereka juga menjual (mengimpor) sebagian hasil panennya pada negara tetangga yang membutuhkan. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)