Sejarah Malaka mencatat kerajaan ini merupakan kerajaan maritim yang kaya raya. Namun, ternyata kerajaan Malaka tidak punya hasil produksi.
Malaka merupakan sebuah wilayah berbasis maritim berbentuk kerajaan. Di sana orang mengenal pertama kali istilah kota pelabuhan. Pemandangan gemilang yang penuh gemerlap lampu dan kemegahan kapal-kapal besar bersandar menambah nuansa Malaka menjadi kerajaan yang kaya.
Namun siapa sangka, kerajaan yang dahulu itu kita anggap sebagai kerajaan kaya ternyata pada kenyataannya mereka tidak punya basis produksi yang kuat seperti Nusantara.
Malaka tidak punya Sumber Daya Alam yang berlimpah seperti kerjaan di Nusantara, namun bisa survive sebagai kerajaan megah yang bersaing dengan kerajaan Bahari lainnya.
Baca Juga: Menu Makan Orang Jawa Abad 18: Takut Kutukan, Hindari Daging Merah
Kerajaan Malaka tidak punya apa-apa kecuali sumber kekayaan kontinuitas (ilmu pengetahuan dalam perdagangan). Sebelum abad ke-14 orang-orang Barat sudah mengenalnya dengan kerajaan maritim termegah yang ada di Asia Tenggara. Lantas apa yang sebenarnya dilakukan Malaka untuk menjadi kerajaan kaya?
Sejarah Malaka, Kerajaan Bahari Termegah di Asia Tenggara
Sebetulnya sudah banyak kerajaan-kerajaan bahari yang kaya dan megah di Nusantara. Akan tetapi belum ada satupun yang berhasil menyamai prestasi kerajaan Malaka dalam hal memperoleh kekayaan.
Menurut Ong Hok Ham dalam Majalah Prisma Edisi Agustus 1985 berjudul, “Merosotnya Peranan Pribumi dalam Perdagangan Komoditi”, kerajaan Malaka seperti halnya kerajaan maritim di Aceh, Makassar, Tidore, Banten, Demak, Tuban, Surabaya, dan Pesisir Utara Jawa. Semua itu kerajaan bahari yang kaya dan megah.
Namun Ong juga mengatakan, kerajaan Malaka berbeda dengan kerajaan lain di Nusantara yang notabene memang punya sumber daya alam sebagai daya tarik perdagangan luas.
Kerajaan Malaka cenderung tak memiliki itu semua namun bisa mendapatkan cap sebagai kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara.
Kendati kerajaan Malaka cenderung tak punya hasil produksi untuk diekspor, akan tetapi mereka punya letak yang strategis. Barat menggunakan Malaka sebagai perlintasan dagang yang menjanjikan. Orang Belanda menyebut Malaka sebagai kota pelabuhan/ pelabuhan transit.
Pendapatan kerajaan Malaka berasal dari bea cukai (pajak perdagangan). Mereka menarik uang dan upeti dari para penjelajah Barat.
Begitupun dengan para pedagang rempah dari berbagai wilayah termasuk Nusantara. Karena Malaka adalah kota transit, maka barang-barang ekspor mereka disimpan sementara di pelabuhan Malaka.
Baca Juga: Sejarah Swasembada Pangan Zaman Orba: Padi Melimpah, Kesejahteraan Rendah
Masa penyimpanan barang inilah yang membuat kerajaan Malaka kaya raya. Hampir 50-60 persen pajak yang didapat dari izin gudang eksportir. Artinya meskipun Malaka tidak punya sumber daya alam yang kuat untuk menghidupi kerajaan, tetapi Malaka punya peran penting dalam pengiriman komoditi ekspor Barat yang menguntungkan.
Kerajaan Malaka Sekarang Bagian dari Negara Tetangga Singapura
Saat ini kerajaan Malaka berada di wilayah negara tetangga Singapura. Dahulu pada masa kejayaan Sriwijaya, Malaka adalah bagian dari Nusantara.
Namun setelah abad ke-13 seiring dengan ambruknya Sriwijaya karena pengaruh Islam, wilayah kekuasaan Sriwijaya di Malaka sudah tak berfungsi lagi.
Selain itu jauh sebelum kedatangan Islam di abad ke-13, Sriwijaya sebenarnya sudah kurang memperhatikan Malaka sebagai bagian dari kekuasaanya. Hal ini disebabkan oleh karena keadaan Malaka itu sendiri yang tidak punya apa-apa alias wilayah tanpa hasil produksi yang menguntungkan.
Oleh sebab itu Kerajaan Sriwijaya tidak memfokuskan pembangunan di Malaka. Salah satu bukti dari pernyataan berikut adalah, tidak adanya pendirian bangunan suci yang agung seperti Borobudur dan Prambanan di Nusantara.
Malaka hanya dijadikan sebagai tempat persinggahan para penjelajah Barat sejak abad ke 10. Namun seiring dengan berkembangnya waktu pada abad ke-13, Malaka berdiri sebagai kerajaan yang merdeka. Malaka tumbuh menjadi wilayah yang penting bagi perjalanan bangsa Barat berburu harta karun (rempah).
Kerajaan Malaka Terkenal Jadi Gudang Komoditi Berkualitas
G. J. Vink dalam buku sejarah berjudul “Bedrijfseconomie van den Bevolking Landbouw: De Landbouw in de Indische Archipel” (1950), kerajaan Malaka terkenal sebagai kota pelabuhan yang dijadikan gudang penyimpanan komoditi rempah berkualitas.
Orang-orang Barat yang datang dari berbagai belahan negara di Eropa tidak pernah kecewa dengan barang (rempah) yang ditawarkan di kota pelabuhan Malaka. Mereka percaya dengan sistem perdagangan jujur para penyedia rempah di sana.
Selain karena Barat menganggap Malaka profesional sebagai penyedia rempah, besar kemungkinan orang-orang Belanda, Portugis, Inggris, dan Spanyol percaya pada Malaka akibat tahu kalau ternyata kerajaan tersebut tidak punya Sumber Daya Alam.
Mereka menggantungkan pendapatan dari (tempat). Kota pelabuhan Malaka terdiri dari lalu lalang para penjelajah dunia yang sedang mencari rempah.
Baca Juga: Sejarah Kristenisasi di Yogyakarta 1920, Tanah Sultan Dimasuki Misionaris Barat
Lalu mereka juga butuh itu (rempah) untuk dijual kembali di negaranya. Jadi secara tidak langsung Malaka sama seperti tempat pengepul pertama yang kemudian menjual ulang rempah tersebut ke orang-orang Eropa yang mendatanginya.
Mereka memilih datang ke Malaka untuk mencari rempah murah berkualitas ketimbang harus datang ke Nusantara (pusat rempah).
Menurut Ong Hok Ham, kualitas rempah di kerajaan Malaka lebih baik dari Nusantara meskipun harganya murah. Antara lain berikut kutipannya:
“Orang (bangsa Barat) mengira bahwa sebagian besar perdagangan zaman itu (kejayaan Malaka) terdiri dari barang-barang mewah yang rendah (di Nusantara) dalam kualitas tetapi sangat tinggi dalam kualitas (di Malaka)”.
Dalam catatan sejarah, rupanya Malaka menyediakan fasilitas bersandar kapal yang terjamin, tanpa perompakan, dan letaknya dekat dengan jalur utama mereka untuk kembali ke negeri asalnya.
Tiupan angin di perairan Malaka relatif kencang sehingga bisa mengantarkan para penjelajah rempah pulang lebih cepat. Hal itu berbeda dengan kapal yang berangkat dari kota pelabuhan kerajaan Maritim lain yang ada di Asia Tenggara yang cenderung lebih lambat. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)