Sejarah Kristenisasi di Yogyakarta berawal pada tahun 1920 saat tanah Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat dimasuki oleh Misionaris Barat. Mereka (misionaris) menyebarkan agama Kristen ke beberapa tempat di Yogyakarta.
Sri Sultan Hamengkubuwono VIII pernah marah akibat hal ini. Ia tidak ingin ajaran Kristen mempengaruhi rakyat di wilyahnya. Bukan berarti Hamengkubuwono VIII tidak mencerminkan intoleransi beragama, lebih tepatnya ia ingin meneruskan kejayaan Mataram Islam.
Belakangan kristenisasi yang dilakukan oleh para misionaris Barat juga disinyalir merupakan bagian dari kepentingan politik kolonial Belanda.
Baca Juga: Sejarah Pergerakan Nasional 1900-an, Pemuda adalah Koentji
Pemerintah kolonial sengaja mengirim beberapa misionaris Kristen di Yogyakarta untuk menghimpun kelompok yang berguna mendominasi massa menentang titah raja.
Fenomena sosial tersebut terjadi di sebuah desa bernama Kerto (nama samaran sebuah desa di Yogyakarta) yang masih menjadi bagian dari kecamatan Tentrem (nama samaran sebuah kecamatan di Selatan Yogyakarta).
Mukjizat Kristus Belanda Mengawali Sejarah Kristenisasi di Yogyakarta Tahun 1920
Menurut Hyung-Jun Kim dalam buku berjudul, “Revolusi Perilaku Keagamaan di Pedesaan Yogyakarta” (2017), kristenisasi misionaris Belanda di Yogyakarta berawal dari kepentingan kolonial.
Mereka menggunakan isu mukjizat atau sebuah keajaiban Tuhan yang menolong kesulitan seseorang.
Kepercayaan masyarakat pribumi di desa Kerto berawal dari penduduk di sana yang berprofesi menjadi sipir Belanda. Konon ia menderita sakit yang sulit sembuh. Setiap hari berobat ke dukun namun hasilnya belum juga sembuh.
Hingga suatu ketika, ia bertemu dengan misionaris Belanda yang tidak disebutkan namanya. Ia kemudian mengajak si sipir tadi ke rumah klinik milik Belanda.
Dulu hanya segelintir orang penting saja yang bisa menikmati fasilitas kesehatan seperti ini. Maka dari itu si sipir pesakitan tersebut merasa diistimewakan oleh sang misionaris Belanda.
Pengobatannya gratis. Ia sembuh dan bisa bekerja kembali sebagai sipir atau penjaga penjara di lembaga permasyarakatan Belanda yang terletak dengan sekolah Tamansiswa di Yogyakarta. Kisah ini dianggapnya sebagai mukjizat, keajaiban dari Tuhan.
Baca Juga: Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC Pencetus Perbudakan di Batavia
Ketika bekerja ia menceritakan pertolongan itu kepada teman-teman sesama pribumi di rumah penjara. Karena merasa mukjizat itu adalah faktor utama kesembuhan, tak selang beberapa lama ia memeluk agama Kristen Protestan.
Setelah itu teman-teman pribuminya terpengaruh. Waktu itu mereka belum beragama, mereka berasal dari golongan masyarakat abangan atau orang yang tak percaya Tuhan.
Sejarah kristenisasi di Yogyakarta berlanjut saat misionaris Belanda dipanggil kembali oleh si petugas sipir. Ia mengundang penginjil tersebut datang ke rumahnya.
Ketika si penginjil tiba di rumah orang yang dulu pernah diselamatkan itu, ia kaget. Terdiam beberapa menit karena merasa tertegun. Ya, di rumah itu sudah ada banyak orang yang ingin memeluk agama Kristen.
Mereka ingin dibaptis dan disucikan menjadi seorang Kristen agar mendapatkan pertolongan serta mukjizat dari Tuhan.
Misionaris Keturunan Belanda Jawa Melanjutkan Kristenisasi di Yogyakarta
Setelah peristiwa kristenisasi massal terjadi di desa Kerto, beberapa tahun kemudian sang misionaris kembali ke Belanda. Namun, sebagai gantinya ia menunjuk misionaris baru keturunan Belanda-Jawa yang berasal dari Yogyakarta.
Untuk melancarkan kegiatan misionaris tersebut, ia mendapatkan bantuan finansial dari Serikat Misionaris Protestan. Tak tanggung-tanggung uang dari bantuan tersebut memiliki jumlah yang cukup besar.
Bantuan finansial itu kemudian digunakan oleh sang Misionaris Belanda-Jawa untuk membangun sebuah gereja kecil. Letaknya tak jauh dari desa Kerto, mungkin ada 4 km jarak tempuh dari desa tersebut.
Hyun-Jun Kim mengatakan gereja tersebut dekat dengan sebuah pabrik gula satu-satunya yang saat ini masih tersisa di Yogyakarta.
Pada tahun 1926, pastur Protestan membaptis dua orang di gereja tersebut. Ini tandanya agama Kristen berkembang dan terus mengalami kemajuan di desa Kerto.
Bahkan pada tahun 1950-1960-an, catatan gereja di sana mengklaim berhasil merangkul ribuan warga desa Kerto menjadi Kristen melalui pembaptisan Gereja Kristen Jawa (GKJ).
Terjebak oleh Partai Politik
Sejak tahun 1930-1965 orang-orang Kristen di Yogyakarta mengalami perebutan menjadi anggota Partai Politik (Parpol). Rata-rata orang Protestan masuk dalam Partai Nasional Indonesia (PNI) pimpinan Sukarno.
Baca Juga: Bila Anggrek Mulai Berbunga, Lagu Keroncong Populer di Hindia Belanda
Sedangkan kelompok Katolik tidak bergabung dengan PNI. Mereka sempat kebingungan memilih partai karena Katolik ragu dengan 3 partai besar yang saat itu sangat menonjol (PNI, PKI, Masjumi).
Jika ia memilih Masjumi tidak bisa karena itu partai Islam, namun kalau Katolik memilih gabung dengan PNI pemandangan tidak nyaman karena selalu bentrok dengan anggota Protestan lain, sedangkan PKI terkenal sebagai partai yang kontradiksi, tidak Bertuhan.
Namun karena keadaan tidak memungkinkan pilih PNI dan Masjumi, orang-orang Katolik terpaksa memilih PKI.
Sebagian dari orang Katolik yang ada di Yogyakarta memperjuangkan aspirasi politiknya melalui partai kiri. Perjuangan mereka berhenti tatkala PKI terlibat peristiwa G30S tahun 1965.
Akibatnya pemerintah Orde Baru memenjarakan mereka yang terlibat G30S PKI. Bertahun-tahun tanpa peradilan yang jelas mereka mendekam di jeruji penjara. Hingga pada suatu ketika hari pembebasan itu tiba.
Menurut Kim, ketika orang-orang Katolik eks-PKI bebas dari penjara, mereka berkumpul dan mengadakan konsolidasi ulang dengan para jemaatnya dulu.
Setelah terkumpul mereka membangun sebuah Kapel pada pertengahan tahun 1970-an. Seluruh anggota Katolik di desa Kerto menjadikan Kapel ini sebagai tempat mempererat solidaritas Kristen (Katolik dan Protestan). (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)