Medan Prijaji erat kaitannya dengan sejarah Hari Pers Nasional. Tanggal kelahiran surat kabar (koran) pribumi pertama tersebut mengilhami peringatan Hari Pers Nasional.
Surat kabar Medan Prijaji lahir pada tanggal 9 Februari 1907. Tepat satu tahun sebelum kelahiran organisasi pertama pelopor Pergerakan Nasional: Boedi Oetomo.
Pengusaha pribumi bernama Tirto Adji Soerja mendirikan koran bergenre politik, ekonomi, sosial, dan budaya tersebut. Ia merupakan sosok pengusaha sukses sekaligus orang yang revolusioner.
Tindakan revolusioner Tirto tercermin dari kiprahnya sebagai jurnalis dalam kolom berita surat kabar milinya sendiri: Medan Prijaji.
Tirto Adhi Soerjo kerap mengisi kolom-kolom berita yang mengarah pada propaganda politik. Mungkin ini terjadi karena ia seorang mantan aktivis pergerakan Nasional dalam organisasi Sarekat Prijaji.
Baca Juga: Priyayi Jawa Tahun 1870 dan Rahasia Kesuksesannya
Konon Medan Prijaji merupakan nama perubahan dari organisasi Sarekat Prijaji. Saat itu aktualisasi pergerakan Nasional mulai menggunakan corong surat kabar sebagai peluru perjuangan.
Maka dari itu Tirto dan kawan-kawan dalam Sarekat Prijaji mendirikan koran Medan Prijaji. Hasilnya bikin menohok, Medan Prijaji banyak mendapat sorotan dari pembaca karena sering melemparkan isu hangat terkait kontroversial kebijakan-kebijakan kolonial.
Sejarah Hari Pers Nasional dan Medan Prijaji, Surat Kabar Pribumi yang Memihak Wong Cilik
Menurut Andi Suwirta dalam Jurnal Mimbar, No. 4, 1999 berjudul “Zaman Pergerakan Pers dan Nasionalisme di Indonesia”, selain sering mengungkit skandal kolonial yang pecundang, Medan Prijaji juga terkenal sebagai surat kabar yang memihak wong cilik.
Tirto Adhi Soerjo sering menulis tentang pergerakan wong cilik. Ia menuturkan kisah para pejuang petani yang menuntut keadilan, bahkan mengungkapkan keinginan mereka yang ingin merdeka, terlepas dari jerat penjajahan.
Selain itu dalam catatan sejarah Hari Pers Nasional, surat kabar Medan Prijaji juga sering menentang perlawanan kelas. Setiap kolom opini koran penuh dengan propaganda politik yang bertujuan mendidik rakyat supaya peka terhadap kepentingan licik orang-orang Belanda di Jawa.
Tirto sering menyebut orang Belanda sebagai dalang dibalik penindasan kaum tani, buruh, dan pelajar.
Baca Juga: Sekolah Pengrajin Tahun 1909, Industri Kreatif Zaman Belanda
Lebih beraninya lagi, Tirto Adhi Soerjo pernah menerbitkan tulisan yang agak tajam. Ia menentang pemerintah kolonial agar menurunkan beberapa kebijakan yang dianggapnya telah melenceng dari sifat-sifat manusiawi.
Seperti penuntutan upah yang setimpal (artinya; tidak kurang dan tidak juga berlebihan) para buruh yang bekerja begitu berat. Terutama buruh pabrik gula di beberapa tempat yang ada di pulau Jawa.
Selain itu Medan Prijaji juga pernah “mengkritik habis” kebijakan kolonial yang diskriminatif seperti, kebijakan restoran khusus orang Eropa: “selain manusia berkulit putih dilarang masuk dan makan di restoran tersebut”.
Sebagai pelopor koran milik Inlanders (pribumi) pertama, Medan Prijaji yang dinakhodai oleh Tirto Adhi Soerjo jelas, ia memihak pada golongan wong cilik. Golongan para petani, buruh, pelajar pribumi, dan orang-orang miskin nan terlantar.
Membiasakan Pribumi Menyampaikan Aspirasi Secara Intelektual
Surat kabar Medan Prijaji mendidik setiap pembacanya (orang pribumi) agar mampu menyampaikan aspirasi secara intelektual. Karena itu dalam sejarah, tak heran hari pertama terbitnya Medan Prijaji diperingati sebagai Hari Pers Nasional, yaitu 9 Februari.
Sebagaimana orang-orang terpelajar, Tirto ingin merubah struktur sosial masyarakat Inlanders menjadi rakyat yang terdidik. Salah satu cara untuk mendidik mereka dengan tepat dan sederhana yaitu melalui surat kabar.
Tirto sengaja membuat tulisan-tulisan yang menyeringai dan membakar api semangat para pembaca. Ia ingin memancing para pribumi berlatih menulis dan mengirimkan aspirasinya itu pada kolom opini Medan Prijaji.
Pengusaha pribumi pendiri Medan Prijiaji tersebut ingin membuktikan pada pemerintah kolonial kalau ternyata perasaan tertindas itu nyata. Mereka datang langsung dari suara rakyat, terlebih suara para buruh yang merintih kelaparan.
Kiprah Tirto dalam hal ini nampaknya berhasil. Namun sebagai risiko yang harus ia terima, Medan Prijaji dijadikan oleh para buruh sebagai kayu pembakar revolusi. Mereka (buruh) melakukan beberapa aksi pemogokan akibat tulisan-tulisan di Medan Prijaji. Dalam sejarah Hari Pers Nasional, peran Tirto sangat dominan.
Medan Prijaji Berubah Nama Menjadi Koran Harian
Menurut Tjokrosiswojo dalam buku berjudul “Kenangan Kilas Perdjuangan Surat Kabar” (1958), Medan Prijaji telah mengubah namanya menjadi koran Harian tatkala Tirto Adhi Soerjo ingin pola perjuangan rakyat dari golongan terjajah semakin massif.
Baca Juga: Sistem Penjualan Pacht, Cara Kolonial Belanda Membendung Pengusaha Asing
Lebih tepatnya pergantian nama dari Medan Prijaji menjadi Harian karena keinginan kawan-kawan eks-Sarekat Prijaji lebih radikal lagi mengkritik pemerintah kolonial Belanda.
Hal ini tercermin dari slogan motto koran Harian sebagai berikut, “Orgaan (organisasi) boeat Bangsa jang Terprentah di H.O (Hinda Olanda). Tempat akan Memboeka Swaranja Anak Hindia”.
Slogan koran Harian menuai banyak perhatian, terutama dari para kalangan buruh dan petani di tanah Jawa. Sedangkan pemerintah kolonial sendiri khawatir dengan slogan tersebut.
Akibatnya koran Harian pernah dibredel oleh pemerintah kolonial. Namun tetap berjalan dan semangat menyebarkan beribu-ribu oplah ke berbagai daerah secara sembunyi-sembunyi.
Konon koran Harian sering bertikai dengan Sinar Soematra. Koran terbitan Padang, Sumatera Barat itu hampir tiap saat beradu wacana dengan koran Harian karena Tirto tidak senang dengan slogan mottonya.
Sinar Soematra memiliki motto sebagai berikut, “Kekal Lah Keradjaan Wolanda.. Sampai Mati Setia Kepada Kerajaan Wolanda”.
Itulah latar belakang sejarah Hari Pers Nasional yang diperingati setiap tahun. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)