Profil Suryadi Suryadarma merupakan pendiri AURI yang hidup sederhana hingga akhir hayatnya. Di balik jabatannya sebagai pejabat publik, ia masih memegang teguh sikap jujur dan sederhana.
Meskipun lahir dari kalangan keluarga bangsawan, tidak membuat Suryadi Suryadarma suka hidup berfoya-foya.
Justru ia terkenal karena kepribadiannya yang sederhana, tidak hanya di kalangan teman sejawatnya bahkan di kalangan para stafnya.
Suryadi Suryadarma pernah memiliki jabatan mentereng, seperti menjadi KSAU AURI yang pertama pada tahun 1946.
Baca Juga: Achdiat Karta Mihardja, Penulis Novel Atheis dari Garut
Berikut kisah Suryadi Suryadarma, pendiri AURI yang hidup sederhana hingga akhir hayatnya.
Profil Suryadi Suryadarma dan Kisah Hidupnya yang Menginspirasi
Suryadi Suryadarma lahir dengan nama Elang Suryadi Suryadarma. Ia merupakan anak dari seorang pegawai Bank di Banyuwangi yang bernama Suryaka Suryadarma.
Nama Elang yang melekat pada namanya merupakan gelar kebangsawanan dari Keraton Cirebon yang memiliki arti Raden. Namanya itu sesuai dengan ejaan baru menjadi Raden Suryadi Suryadarma.
Secara garis keturunan Suryadi Suryadarma merupakan keturunan langsung dari Sunan Gunung Jati. Anka berdarah biru kelahiran Banyuwangi tanggal 6 Desember 1912 itu adalah keturunan Pangeran Jakaria dari Keraton Kanoman, Cirebon.
Pernyataan tersebut ada dalam buku yang berjudul, “Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Pejuangan AURI 1945-1950” (2008).
Profil Pendidikan Suryadi Suryadarma
Pada tahun 1918 ketika Suryadi Suryadarma menginjak usia 6 tahun, ia masuk ke sekolah khusus orang-orang Eropa yaitu ELS (Europeesche Lagere School).
Tidak semua orang-orang pribumi bisa masuk sekolah setingkat Sekolah Dasar ini. Hanya anak-anak asing dari bangsa Eropa, Tiongkok, dan keturunan bangsawan atau pejabat saja yang bisa. Bahasa pengantarnya juga tentu menggunakan bahasa Belanda.
Setelah menyelesaikan studi di ELS, ia melanjutkan pendidikannya di HBS (Hoogere Burgerschool te Bandoeng). Walaupun, sebelum lulus ia harus pindah ke studi Koning Willem III School te Batavia – HBS. Tepat tahun 1931 ia pun berhasil menyelesaikan masa studinya.
Ketertarikannya terhadap dunia penerbangan memang sudah ia pupuk sejak lama. Inilah yang membawa Suryadi Suryadarma selepas lulus dari KW III School melanjutkan pendidikan penerbangan.
Demi menggapai cita-citanya sejak dulu, ia harus menjalani pendidikan perwira di KMA (Koninklijke Militaire Academie) yang ada di Belanda.
Meskipun pada awalnya ia tidak mendapatkan restu dari kakeknya, Dr. Boi Suryadarma. akhirnya ia mendapatkan izin dari kakeknya setelah memberikan penjelasan.
Sebagai seorang pribumi yang bersekolah di Belanda, tentu ada banyak tantangan yang harus dihadapi oleh Suryadi Suryadarma.
Terutama berkaitan dengan politik diskriminasi oleh Belanda yang sebenarnya tidak mengizinkan seorang pribumi menjadi penerbang.
Baca Juga: Sintua Nathanael Nababan, si Pemburu Kerbau Liar dari Tapanuli Utara
Ketika melanjutkan pendidikan di Belanda ini ia mendapatkan julukan sebagai Browne Baron yang memiliki arti Pangeran Berkulit Coklat.
Selama menjalani masa pendidikannya banyak buku bacaan yang ia lahap terutama yang berbau sejarah penerbangan. Salah satu tokoh yang ia kagumi adalah Giulio Douhet.
Mendirikan AURI
Perjalanan Indonesia sebagai sebuah bangsa tentu mendapatkan berbagai tantangan dan hambatan. Setelah Belanda takluk di tangan Jepang, Suryadi yang sebelumnya memiliki latar belakang militer mendapat tawaran menjadi polisi Jepang.
Selama menjalani tugasnya sebagai polisi Suryadi Suryadarma terkenal sebagai profil pribadi yang rajin, disiplin, dan suka bekerja.
Ketika mendapatkan panggilan perjuangan dari pejuang revolusi Indonesia, Suryadi tanpa ragu turut berjuang. Meskipun ia sempat mendapatkan banyak kecaman.
Ketika Indonesia merdeka, kebutuhan akan angkatan udara tidak bisa dihindari. Suryadi Suryadarma mengajukan saran untuk membentuk pasukan khusus angkatan udara.
Melalui berbagai usaha yang sudah dilakukan akhirnya pasukan khusus angkatan udara yang sebelumnya bernama TRI AU atau Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara berganti menjadi AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia).
AURI resmi ditetapkan pada tanggal 9 April 1946. Tanggal itu juga ditetapkan sebagai hari jadi TNI Angkatan Udara nantinya hingga hari ini.
Sebagai KSAU AURI tentu tanggung jawab Suryadi Suryadarma sangatlah berat. Ia harus mampu menyelesaikan berbagai konflik yang terjadi di dalam tubuh AURI waktu itu.
Keadaan persenjataan AURI pun masih serba terbatas. Bahkan Indonesia hanya memiliki beberapa pesawat bekas peninggalan Jepang yang sudah rusak. Namun, berkat usaha para teknisi yang handal, mereka berhasil memperbaiki pesawat-pesawat tersebut.
Menjadi Tahanan
Pada tanggal 27 Februari 1948 profil Suryadi Suryadarma yang menjadi Komondor Udara merangkat tugas sebagai KSAP RI. Bersamaan dengan adanya Agresi Militer Belanda II ia pun turut menjadi tahanan yang diasingkan ke Pulau Bangka.
Selepas konflik dengan Belanda, Suryadi Suryadarma aktif event-event kedirgantaraan. Ia menjadi salah satu tokoh yang mempelopori pendirian Aeroclub dan mengadakan pendidikan dasar penerbangan militer di beberapa landasan udara.
Ia juga orang yang menyadari betapa pentingnya keberadaan pasukan penerjun payung (paratrooper). Apalagi mengingat kondisi Indonesia yang terdiri dari gugusan pulau-pulau.
Kondisi ini yang membuat Suryadi Suryadarma mengirimkan para kader-kader ke luar negeri untuk menempuh pendidikan penerbangan.
Menurut Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara dalam “Majalah Kedirgantaraan Diterbitkan Sejak Tahun 1950” (1974), pendidikan penerbangan tersebut sudah dimulai sejak tahun 1950 dengan mengirimkan 60 kader calon penerbang ke Amerika Serikat.
Sejak tahun itu pula ia mulai merintis pasukan penerjun payung khusus yang bernama Pasukan Gerak Cepat (KOPASGAT).
Pejabat yang Memilih Hidup Sederhana
Setelah pensiun dari Militer, profil Suryadi Suryadarma diangkat menjadi Menteri Pos dan Telekomunikasi pada tahun 1965.
Menurut sebuah buku yang ditulis oleh Dinas Penerangan Angkatan Udara yang berjudul, Sejarah Angkatan Udara Indonesia Jilid III, selama masa pengabdiannya banyak sekali penghargaan yang diraih Suryadi Suryadarma.
Baca Juga: KH Muhammad Yusuf Hasyim: Paman Gusdur, Mantan Kombatan Perang Kemerdekaan
Beberapa tanda jasa yang pernah ia terima seperti, Bintang Maha Putra Adipradana, Bintang Sakti, Bintang Dharma, Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama dan beberapa tanda kehormatan dari negara asing seperti Medal of Yugoslav People Army 1st Class, The Grnad Gordon of The Orde of The Republic Thai, Order of The Crown 1 st Class Thai dan Orde of White Elephant 2Nd Class Thai.
Dibalik banyaknya jumlah penghargaan yang ia terima tidak membuat Suryadi Suryadarma tidak tumbuh sebagai pribadi yang menyukai kemewahan. Bahkan ia cenderung menjadi pribadi yang sederhana.
Hidup Sederhana dan Jujur
Salah satu bukti kesederhanaan dan kejujurannya adalah ketika Suryadi Suryadarma lebih memilih membawa bekal sendiri ketimbang makan di rumah makan atau restoran.
Ia juga seringkali membawa alat tidur sendiri baik dalam perjalanan dinas atau pun perjalanan-perjalanan lainnya.
Agaknya perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku menjadikan ia sebagai orang yang sederhana. Memang Suryadi Suryadarma adalah orang yang unik. Hal ini tentu saja karena perjuangan sebagai salah satu angkatan udara lulusan Belanda.
Sangat jarang sekali waktu itu orang pribumi yang menjadi pasukan khusus angkatan udara Belanda.
Kesederhanaan dan kejujuran lainnya dari Suryadi Suryadarma adalah ketika ia mengembalikan uang hasil perjalanan dinasnya.
Bahkan petugas yang menangani hal tersebut merasa heran dan geleng-geleng, karena jarang sekali ada pejabat yang waktu itu mengembalikan uang biaya perjalanan dinas.
Suryadi Suryadarma memang profil figur pejabat publik yang unik. Meskipun mendapatkan jabatan yang mentereng ia tidak pernah membuat ia tergoda untuk korupsi. Bahkan hingga akhir hayatnya Suryadi Suryadarma masih memiliki tanggungan hutang dari rumah yang ditempatinya. (Azi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)