Sabtu, April 5, 2025
BerandaBerita TerbaruProfil S Sudjojono, Bapak Seni Lukis Modern Indonesia

Profil S Sudjojono, Bapak Seni Lukis Modern Indonesia

Sindoedarsono Soedjojono adalah seniman besar yang lahir di Sumatera Utara pada tanggal 14 Desember 1913. Ia dikenal sebagai bapak seni Lukis modern di Indonesia.

Menurut W. Setya R dalam buku berjudul, “Aliran Seni Lukis Indonesia” (2020), S. Soedjojono dini sudah menyukai lukisan sebagai objek yang menyenangkan. Hal ini tercermin dari masa kecilnya yang tak jauh dengan kanvas, cat, dan kuas.

Melihat bakat S. Soedjojono melukis ayah angkatnya yang bernama Yudhokusumo membawa S. Soedjojono remaja ke Yogyakarta.

Di sana S. Soedjojono belajar melukis pada dua tokoh pelukis terkemuka di Yogyakarta bernama Mas Pringadie dan Chiyoji Yazaki (pelukis asal Jepang) pada tahun 1935.

Dari dua seniman itu S. Soedjojono mulai terlatih dan disiplin dalam melukis. Bakatnya melukis semakin terasah dan membuat ia percaya diri bercita-cita sebagai seorang seniman.

Baca Juga: Sapardi Djoko Damono, Puisinya Menyihir Peserta KTT Non Blok 1992

Pada puncaknya nama S. Soedjojono terkenal sebagai pendiri PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) bersama Agus Djaya.

Sastrawan sekaligus seniman lukis, Trisno Soemardjo memberinya julukan sebagai Bapak Seni Lukis Modern Indonesia.

Bapak Seni Lukis Modern S Soedjojono  Mendirikan PERSAGI

S. Soedjojono mendirikan PERSAGI pada tahun 1937. Ia bersama Agus Djaya memiliki pandangan lain tentang orientasi seni rupa pada zaman tersebut.

Agus dan Soedjojono ingin mendekonstruksi seni rupa kolonial menjadi sebuah aliran seni yang berpihak pada realita ke-Indonesiaan.

Dengan kata lain PERSAGI berniat untuk menciptakan “pembaharuan penanda” dari seni rupa kolonial ke seni rupa modern yang bersifat ke-Indonesiaan.

Sebab pada zaman kolonial, seni rupa Belanda hanya menekankan pada Mooi Indie atau objek lukisan yang bersifat indah saja, tidak sesuai fakta dengan realita yang ada.

Mereka (para seniman Belanda) tidak melukis kemiskinan, kesenjangan sosial, dan hal-hal yang bersifat diskriminatif lainnya.

S. Soedjojono merupakan orang pertama yang mempunyai gagasan tersebut. Ia bersama Agus Djaya berhasil mendobrak stigma Mooi Indie dan menciptakan aliran baru yang menekankan objek lukisnya pada sesuatu hal yang nyata (realitas).

Baca Juga: Le Mayeur de Merpres, Saat Pelukis Belgia Tergila-gila pada Wanita Bali

Maka dari itu nama S. Soedjojono terkenal sebagai bapak seni lukis modern Indonesia. Intinya S. Soedjojono dan anggota PERSAGI lainnya ingin menghindarkan sifat bias seni rupa di Indonesia yang terlanjur masuk dalam pengaruh kolonial.

Sebab seni rupa kolonial bersifat membatasi, para seniman Belanda saat itu bekerja tidak sesuai dengan fakta. Oleh karena itu aliran seni rupa pada zaman tersebut terlihat dominan menggambar keindahan alam, kejayaan kolonial, dan kekayaan orang Eropa.

Tetapi jarang yang menggambar sebaliknya: konflik sosial, diskriminasi golongan antara Inlanders, Timur Asing, dan Eropa, menarik pajak secara paksa, dan penjajahan.

Selain Seniman, S. Soedjojono juga Pemikir yang Intelek

Masih menurut W. Setya R, selain menjadi sosok seniman terkenal, nama S. Soedjojono dikalangan beberapa akademisi Indonesia juga dikenal sebagai pemikir yang intelek.

Hal ini tercermin dari buah karya S. Soedjojono berbentuk buku berjudul, “Seni Loekis, Kesenian, dan Seniman” yang terbit pertama kali pada tahun 1946.

Saat itu jarang bahkan hampir tidak ada seniman yang juga bisa menulis. S. Soedjojono melakukan keduanya, selain melukis juga menulis sebagai bentuk dialektika antara diri dan karyanya.

S. Soedjojono benar-benar seorang pemikir yang tak sederhana ditafsirkan setiap gagasan-gagasan dalam berkeseniannya.

Selain membuat tulisan, laku pikir seorang akademisi yang lahir dalam diri S. Soedjojono juga terwakilkan oleh upaya S. Soedjojono meregenerasi seniman realis melalui pembentukan sanggar seni bernama SIM (Seniman Moeda Indonesia).

Sanggar seni tersebut berdiri di Madiun, Jawa Timur pada tahun yang sama dengan kelahiran buku pertamanya. Lalu pada tahun 1947 S. Soedjojono memindahkan sanggar keseniannya ke Jakarta.

S. Soedjojono mengumpulkan seniman-seniman muda untuk jadi pelukis yang bisa mengembangkan seni rupa modern ke berbagai pelosok di Indonesia.

Melalui SIM S. Soedjojono juga bergabung dengan LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat). Ia percaya pada LEKRA jika pengembangan seni rupa modern di Indonesia perlu wadah yang lebih besar dari pada SIM.

LEKRA menjadi organisasi seniman. Selain pelukis, LEKRA mewadahi, penyair, penari, seniman pertunjukan, sastrawan, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Profil Ridwan Saidi, Peminat Sejarah yang Kontroversial

Tokoh Pelukis Realisme Dunia

Selain menjadi bspsk seni lukis modern Indonesia, nama S. Soedjojono juga tercatat sejarah sebagai pelukis realisme bertaraf Internasional.

Nama S. Soedjojono disejajarkan dengan beberapa pelukis realisme Barat sepert, Jean Francois, Millet, Gustav, C. Courbert Honoder Daumer, dan Rembrant.

Sedangkan di Indonesia sendiri nama S. Soedjojono disejajarkan dengan Affandi. Maestro seni lukis abstrak kelahiran Cirebon, Jawa Barat itu terkenal sebagai pesain S. Soedjojono. Affandi dan S. Soedjojono seperti rivalitas berkesenian yang punya khas tersendiri dalam karyanya.

Affandi melukis dengan gaya abstrak-ekspresionisme sedangkan S. Soedjojono menorehkan tinta warnanya melalui aliran realisme-ekspresionis yang lebih real: nyata dengan apa yang dilihatnya.

Soedjojono tidak suka simbol, sahabatnya mengenal Soedjojono sebagai seniman tanpa tedeng aling-aling. Kalau ia melihat A yang gambarnya A, bukan B atau C.

Karena idealisme melukisnya yang kuat maka karya-karya S. Soedjojono pun baik hasilnya. Hingga saat ini tak ada seniman yang bisa menyamai lukisannya. S. Soedjojono terkenal piawai melukis objek seolah-olah yang digambarkannya hidup.

Ia menyebut keterampilannya itu dengan istilah teknik melukis Jiwa Kethok; Kelihatan. Apapun yang ia gambarkan harus terasa hidup, tidak mematung, apalagi mati. Semua harus real bahkan kalau perlu mengalahkan aura foto yang sesungguhnya.

Itulah S. Soedjojono, namanya selalu terkenang sebagai seniman berjiwa kethok. Aliran seni lukisnya tak tanggung-tanggung, pria hobi nyangklong ini benar-benar totalitas dalam berkesenian. Sehingga ia pun mendapat julukan bapak seni Lukis modern di Indonesia. (R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Perbedaan Mesin CRF dan Verza, Serupa Tapi Tak Sama

Perbedaan Mesin CRF dan Verza, Serupa Tapi Tak Sama

Perbedaan mesin CRF dan Verza memang menarik untuk kita ulas. Serupa tapi tak sama, itulah gambaran tentang mesin Honda CRF150L dan CB150 Verza. Dari...
Cara Merekam Video Call Telegram Mudah dan Praktis

Cara Merekam Video Call Telegram Mudah dan Praktis

Pada dasarnya, aplikasi Telegram tidak memiliki fitur perekam layar video call. Kendati demikian, pengguna tidak perlu khawatir karena cara merekam video call Telegram tetap...
Doa Agar Mudah Menghafal dan Memperkuat Ingatan

Doa Agar Mudah Menghafal dan Memperkuat Ingatan

Doa agar mudah menghafal bisa diamalkan oleh setiap umat muslim. Ada kalanya hafalan terasa sulit dilakukan. Apalagi jika tidak berlandaskan niat sungguh-sungguh dan semangat...
Cara Mengaktifkan Notifikasi Prioritas Apple Intelligence di iPhone

Cara Mengaktifkan Notifikasi Prioritas Apple Intelligence di iPhone

Notifikasi Prioritas Apple Intelligence jadi salah satu inovasi terbaru di iPhone. Sebagaimana yang kita tahu, iPhone termasuk ponsel berkelas dan tak pernah berhenti berinovasi....
Cara Pasang PP Guard Facebook, Jaga Keamanan Foto Profil

Cara Pasang PP Guard Facebook, Jaga Keamanan Foto Profil

Cara pasang PP Guard Facebook mungkin sedang Anda butuhkan saat ini. Facebook adalah salah satu media sosial terbesar di dunia, namun sayangnya, foto profil...
Sejarah Tumenggung Kopek, Jejak yang Penuh Misteri

Sejarah Tumenggung Kopek, Jejak yang Penuh Misteri

Tidak semua tokoh besar mendapat tempat dalam buku sejarah Indonesia. Beberapa nama tetap hidup melalui cerita lisan yang diwariskan turun-temurun. Sejarah Tumenggung Kopek adalah...