Kamis, April 3, 2025
BerandaBerita TerbaruPesanggrahan Menumbing dan Wisma Ranggam, Saksi Bisu Sejarah Indonesia

Pesanggrahan Menumbing dan Wisma Ranggam, Saksi Bisu Sejarah Indonesia

Sejarah Pesanggrahan Menumbing dan Wisma Ranggam merupakan dua bangunan yang menjadi saksi bisu perjuangan para pahlawan Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Kedua tempat tersebut menjadi bagian penting dalam upaya mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Kedua tempat ini menjadi saksi bahwa Indonesia masih terus melakukan perlawanan meskipun para tokohnya diasingkan.

Pesanggrahan Menumbing menjadi tempat pengasingan bagi Moh, Hatta, Mr. Pringgodigdo, Suryadi Suryadharma, Mr. Assa’at, Mr. Ali Sastroamidjojo, dan Mr. Moch Roem.

Beberapa tokoh pemimpin RI ini sudah ditahan sejak tanggal 22 Desember 1948 hingga dibebaskan pada 7 Juli 1949.

Baca Juga: Studiefonds Praja Mangkunegaran, Beasiswa Pendidikan Feodal yang Salah Sasaran

Sedangkan khusus Presiden Sukarno yang datang belakangan ia ditahan di Wisma Ranggam yang berada di bawah bukit.

Terdapat banyak asumsi mengenai alasan Presiden Sukarno lebih memilih tinggal bukan Wisma Ranggam, salah satunya adalah karena Sukarno ingin lebih dekat dengan rakyat.

Berikut, tulisan ini akan mengulas mengenai Sejarah Pesanggrahan Menumbing dan Wisma Ranggam, saksi perjuangan para pemimpin Indonesia di Pulau Bangka.

Sejarah Pesanggrahan Menumbing dan Wisma Ranggam, Tempat Pengasingan Tapol Belanda

Pesanggrahan Menumbing merupakan pesanggrahan yang ada di Bukit Menumbing, Muntok, Bangka. Pesanggrahan ini dibangun tepat pada tahun 1927 dengan ketinggian 445 meter di atas permukaan laut.

Tempat ini memang dibangun dengan tujuan sebagai tempat peristirahatan para pegawai tambang Bank Tinwinning Bedriffmah.

Letaknya yang berada di bukit ini ditunjukkan sebagai tempat beristirahatnya orang-orang Belanda selama di Pulau Bangka.

Pesanggrahan ini terdiri dari dua lantai dan bentuknya lebih mirip persegi panjang dengan tiga bangunan. Selain itu terdapat juga bagian atap yang digunakan sebagai menara pandang.

Pada tanggal 22 Desember 1948, Pesanggrahan Menumbing beralih fungsi menjadi tempat pengasingan.

Baca Juga: Sejarah Motor Jatayu, Harley Davidson Buatan Indonesia

Pengasingan tersebut terjadi pasca Agresi Militer Belanda yang kedua. Adapun beberapa tokoh yang diasingkan antara lain adalah Moh. Hatta, Abdoel Gaffar Pringgodigdo, Soerjadi Soerjadarma, Assaat, Ali Sastroamidjojo, dan Mohamad Roem.

Menurut, A.A. Bakar, dalam “Kenangan Manis dari Menumbing” (1993), pada malam pengasihan tokoh-tokoh RI tersebut bukit menumbing tiba-tiba terdapat cahaya lampung, sampai membuat warga Muntok heran.

Mengingat Pesanggrahan Menumbing sempat terlantar karena adanya penjajahan Jepang di Indonesia. Beberapa hari kemudian barulah warga sekitar mengetahui kalau ada para tokoh RI yang ditahan.

Sama dengan tokoh-tokoh lainnya, pada awalnya Sukarno pun turut serta diasingkan di Pesanggrahan ini. Namun, dikarenakan Sukarno tidak tahan dengan udara dingin akhirnya ia dipindahkan ke Wisma Ranggam.

Sebenernya kepindahan Sukarno dari Pesanggrahan Menumbing ini merupakan salah satu siasatnya agar bisa dekat dengan rakyat.

Selain itu, secara geografis Pesanggrahan Menumbing cukup sulit dikunjungi, mengingat posisinya yang berada di atas bukti.

Selain itu, hanya terdapat satu akses jalan yang biasanya digunakan sehari-hari. Akses jalan tersebut masih digunakan hingga hari ini.

Sejarah Wisma Ranggam

Wisma Ranggam terletak di Jl. Imam Bonjol Kampung Sungai Daeng, Muntok, Bangka. Pada awalnya wisma ini bernama Pesanggrahan Muntok kemudian berganti nama menjadi Wisma Ranggam pada tahun 1976.

Wisma ini pertama kali dibangun oleh Pemerintahan kolonial pada tahun 1890 dalam bentuk bangunan kayu. Barulah pada tahun 1927 bangunan ini dipugar menjadi sekarang.

Menurut Gagas Ulung, dalam, “Amazing Bangka Belitung” (2010), Sama seperti Pesanggrahan Muntok, Wisma Ranggam ini pada awalnya juga merupakan milik perusahaan Banka Tinwinning Bedrief, sebuah perusahaan timah di Bangka.

Wisma ini berdiri di lahan seluas 7.910 meter persegi dengan bangunan inti dan banguna-bangunan pelengkap.

Pada bagian depan Wisma ini terdapat tugu dengan prasasti yang ditandatangani oleh Bung Hatta pada 17 Agustus 1951.

Wisma Ranggam memiliki arsitektur bangunan yang berbentuk U dengan enam belas kamar. Wisma ini sempat ditinggali oleh beberapa tokoh seperti Sukarno, K.H. Agus Salim, Moh. Roem nomor 12-A, sedangkan Ali Sastroamidjojo di kamar nomor 1.

Perjuangan Para Pemimpin Indonesia di Pulau Bangka

Pengasingan para tokoh RI ke Pulau Bangka ini sendiri terjadi pada masa Agresi Militer Belanda II. Tokoh-tokoh ini terdiri dari Sukarno, K.H. Agus Salim, Sutan Syahrir.

Setelah melalui pertempuran selama tiga hari di Yogyakarta, para Pemimpin Republik Indonesia berhasil ditawan dan diasingkan ke Berastagi. Tiga hari kemudian dipindahkan ke Prapat yang ada di pinggir Danau Toba.

Para pemimpin RI ini baru dipindahkan dari Prapat ke Bangka baru pada 6 Februari 1949. Pengasingan tersebut dilakukan secara rahasia, mengingat adanya kemungkinan luapan masyarakat.

Kedatangan Sukarno dan para pemimpin RI terjadi pada pukul 10.00 di Pelabuhan Pangkal Balam menggunakan pesawat Catalina (pesawat amphibi).

Kedatangan para tokoh RI tersebut mendapatkan sambutan hangat dari warga lokal. Bahkan para Polisi Belanda yang ditugaskan mengamankan kedatangan mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Sukarno dijemput menuju Pesanggrahan Menumbing menggunakan sebuah Sedan Plymouth putih plat BN 2. Namun, nampaknya Sukarno lebih memilih duduk di kap depan mobil sambil melambaikan tangannya ke massa yang berdatangan.

Baca Juga: Sejarah Sinterklaas Hitam, Upaya Sukarno Usir Belanda Tahun 1957

Pernyataan tersebut dapat ditemukan dalam buku karya, Husnial Husin Abdullah, “Sejarah Perjuangan Kemerdekaan R.I. di Bangka Belitung” (1983).

Meskipun mendapatkan pengawalan yang ketat dari orang-orang Belanda, mereka tidak bisa membendung kedatangan masyarakat baik ke Pesanggrahan Menumbing hingga Wisma Ranggam.

Setiap hari selalu ada obrolan dan diskusi yang terjadi antara Pemimpin RI dengan para pemuda. Selain tinggal di Muntok mereka juga melakukan kunjungan ke daerah lain seperti Pangkal Pinang. Bahkan Sukarno pernah sempat memberikan khutbah ketika salat Jum’at di Masjid Jami’ Pangkal Pinang.

Pulang ke Yogyakarta

Tepat pada 6 Juli 1949 para Pemimpin RI baik yang ada di Pesanggrahan Menumbing maupun Wisma Ranggam dipulangkan ke Yogyakarta.

Kebijakan ini diambil setelah adanya perjanjian Roem Royen yang memaksa Belanda menarik pasukannya kembali pada tanggal 29 Juni 1949.

Kemudian dilanjutkan dengan adanya usulan dari United Nations Commission for Indonesia (UNCI) asal Amerika Serikat yang bernama Merle H. Cochran agar dipulangkan kembali ke Yogyakarta.

Selama masa pengasingan di Pulau Bangka, Sukarno dan para pemimpin RI yang lainnya memberikan kesan tersendiri bagi warga lokal. Kesempatan untuk bertemu secara langsung dengan pemimpin RI merupakan kesempatan yang langka.

Bagi pejuang kemerdekaan Indonesia yang ada di Bangka waktu itu kehadiran para tokoh RI memberikan semangat kembali bagi mereka untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. (Azi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Sungai Citalahab di Kertahayu

Sungai Citalahab di Kertahayu Ciamis Meluap, Satu Keluarga Terjebak Banjir

harapanrakyat.com,- Sungai Citalahab di Kertahayu, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, meluap, relawan Sigab Persis Ciamis lakukan evakuasi satu keluarga yang terjebak banjir di...
Kolam Ikan Milik Warga

Hujan Deras di Kota Banjar, Sawah hingga Kolam Ikan Milik Warga Terendam Banjir

harapanrakyat.com,- Hujan deras yang melanda wilayah Kota Banjar, Jawa Barat, pada Rabu (2/4/2025) sore menyebabkan area persawahan hingga kolam ikan milik warga di Dusun...
Anak Sungai Citalahab Meluap

Hujan Mengguyur Pamarican Ciamis Sebabkan Anak Sungai Citalahab Meluap, 12 Rumah Terendam

harapanrakyat.com,- Curah hujan yang terus mengguyur membuat anak Sungai Citalahab di Desa Sukahurip, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, meluap. Akibatnya 12 rumah di...
Pohon Jati Tumbang

Sejumlah Pohon Jati Tumbang Timpa Rumah Warga dan Tutup Jalan di Pamarican Ciamis

harapanrakyat.com,- Hujan disertai tiupan angin kencang menyebabkan sejumlah pohon jati tumbang menimpa rumah dan menutup akses jalan di wilayah Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa...
Jalan Utama Penghubung Jatiwaras

Longsor di Tasikmalaya Tutup Akses Jalan Utama Penghubung Jatiwaras-Salopa

harapanrakyat com,- Akibat hujan deras, jalan utama penghubung Jatiwaras-Salopa longsor. Tepatnya di Kampung Demunglandung, Desa Papayan, Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (2/4/2025)...
Rumah ludes terbakar Ciamis

Rumah di Ciamis Ludes Terbakar, Diduga Ini Penyebabnya!

harapanrakyat.com,- Sebuah rumah di Lingkungan Karangsari, Kelurahan Maleber, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat ludes terbakar. Kebakaran itu terjadi Rabu (2/4/2025) sore sekitar pukul...