Jan Pieterszoon Coen merupakan seorang Gubernur Jenderal VOC menjabat dari tahun 1619-1623. Ia terkenal sebagai pemimpin kongsi dagang Belanda yang zakelijk (lugas). Selain itu dalam catatan sejarah kolonial Belanda, pria berjanggut yang kerap disapa Coen ini ternyata orang pertama di Batavia yang mencetuskan sistem perbudakan.
Bisnis haram tersebut Coen mulai sejak tahun 1620-an. Korbannya berasal dari tenaga wanita dan pria orang pribumi. Mereka dipilih sesuai dengan ketangguhan fisik tidak mempertimbangkan skills apa yang mereka punya.
Lebih parahnya lagi, Jan Pieterszoon Coen pernah menginisiasi pengusulan menghilangkan ras asli orang Indonesia dengan mencampurkan ras Eropa dengan pribumi melalui perkawinan silang.
Baca Juga: Bila Anggrek Mulai Berbunga, Lagu Keroncong Populer di Hindia Belanda
Hal ini menjadi ide yang menginspirasi Inggris di Australia. Para penjelajah Inggris yang mendarat di Australia pada 1770 berhasil menghilangkan Suku Aborigin dan tergantikan dengan ras kulit putih akibat dari perkawinan silang.
Akibatnya hingga detik ini di Australia tidak bisa kita temukan lagi suku asli mereka (Aborigin).
Jan Pieterszoon Coen Mendatangkan Perempuan Belanda
Menurut tulisan Joko Soekiman dalam buku berjudul, “Kebudayaan Indis, Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi” (2014), untuk merealisasikan usulan dominasi Ras Eropa di Batavia, Jan Pieterszoon Coen pernah mengusulkan untuk mendatangkan perempuan Belanda ke wilayah jajahannya.
Tujuan pastinya antara lain untuk menghasilkan masyarakat kolonial dengan darah Belanda. dengan kata lain Coen ingin menduduki Hindia (Indonesia) secara penuh dengan cara menghilangkan ras, identitas budaya, dan sejarah sosialnya.
Mendatangkan perempuan Belanda untuk kawin-mawin dengan orang-orang pribumi sedikit banyak bisa merealisasikan cita-cita jahat Coen.
Sebab gen wanita pada saat itu dipercaya lebih kuat ketimbang pria, artinya secara fisik besar kemungkinan anak yang dilahirkan dari hasil perkawinan tersebut akan mirip dengan ibunya.
Ketika usulan ini sampai ke negara induk di Belanda, Pangeran Heeren XVII tak setuju. Ia memarahi Jan Pieterszoon Coen karena berpikir tanpa logika.
Bukannya tidak setuju dengan hal-hal yang mengandung sifat jahat, Heeren XVII justru memikirkan biaya untuk mendatangkan wanita Belanda ke Hindia yang relatif mahal (pemborosan).
Akibatnya tujuan Coen mendatangkan wanita Belanda ke Batavia tak jadi. Jumlah wanita Belanda di Batavia menyusut, padahal lelaki Belanda butuh kepuasan hasrat.
Baca Juga: Seni Rupa Belanda Zaman Indis, Lukisan Rumah Mewah Simbol Kekuasaan Kolonial
Alhasil mereka memperbudak wanita pribumi untuk jadi pemuas birahi. Dari sinilah awal mula perbudakan itu muncul dan kerap dikenal dengan pergundikan.
Mengambil Wanita Pribumi jadi Pasangan Serdadu VOC
Istilah pergundikan lahir setelah para Serdadu VOC yang haus seks mengambil sejumlah wanita pribumi untuk jadi istri gelapnya.
Karena kesepian tinggal sendiri tanpa istri dan anak yang menemani, para serdadu VOC memilih bercampur kelamin dengan wanita pribumi sampai mempunyai keturunan yang kita kenal dengan anak Indo-Eropa.
Saat itu perilaku campur kelamin antara wanita pribumi dengan lelaki Belanda dipandang hina. Masyarakat sekitar cenderung mengasingkan wanita seperti itu di lingkungan sekitarnya.
Bahkan anak-anak yang lahir dari hubungan gelap tersebut tidak diakui secara sah sebagai keturunan orang pribumi. Statusnya ngambang dan paling rendah ketimbang inlanders.
Pemandangan tersebut jelas menjadi gambaran anak-anak Indo-Eropa yang teraniaya. Mereka sakit secara batin dan pikiran, sebab anak-anak Indo-Eropa tidak memiliki pertemanan yang luas.
Orang Eropa dan pribumi tidak mengakui mereka sebagai bagian dari pada rasnya. Alhasil anak Indo-Eropa terasing di negeri kelahirannya sendiri.
Paling menyakitkan daripada tidak pernah mendapatkan pertemanan yang langgeng, anak Indo-Eropa biasanya sulit mendapatkan pekerjaan. Orang-orang Belanda tidak mempercayai mereka sebagai pribadi yang jujur.
Para petinggi kolonial menganggap mereka sebagai anak haram yang terlahir dari sifat-sifat pengecut yang pintar berbohong.
Budak sebagai Tanda Kekayaan Pejabat VOC
Selain menggunakan wanita pribumi sebagai gundik, para pejabat tinggi VOC kerap menjadikan mereka sebagai tanda kekayaan. “Siapa yang punya budak wanita pribumi berarti ia pejabat tinggi VOC yang kaya raya”.
Baca Juga: Sejarah Atjeh Moorden, Kisah Pembantaian Orang Belanda di Aceh
Anggapan itu terus menjalar hingga ke turunan mereka di awal abad ke-20. Terkadang anak-cucu keturunan VOC di tahun 1900-an masih menjalankan perbudakan untuk pergundikan. Akibatnya kelahiran anak Indo-Eropa tak terkontrol.
Salah satu kisah pergundikan tersebut ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya berjudul Bumi Manusia.
Sedangkan Djoko Soekiman mempercayai perbudakan berbuah pergundikan sebagai cikal bakal terbentuknya kebudayaan Indis.
Sebuah habit kebudayaan Belanda-Jawa yang berasal dari proses enkulturasi budaya orang Belanda dan pribumi. Kebanyakan tradisi ini tumbuh subur di pusat kota pelabuhan alias Batavia (sekarang Jakarta).
Fenomena sosial tersebut pernah jadi persoalan di kalangan pejabat kolonial zaman Hindia Belanda. Apalagi ketika jalur yang mempermudah orang Belanda datang ke Asia (Terusan Suez) pada 1869 dibuka.
Pemerintah kolonial khawatir ras Indo-Eropa bisa merusak keturunan orang-orang Belanda asli yang baru berdatangan ke Batavia. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)