harapanrakyat.com,- Meski kontribusi ekspor Jawa Barat terhadap pertumbuhan ekonomi cukup signifikan, namun adanya perlambatan ekonomi global saat ini menjadi tantangan pada 2023.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Barat, Erwin Gunawan Hutapea mengatakan pertumbuhan ekonomi di Amerika, Eropa, Tiongkok hingga ASEAN perlu didorong. Karena akan berdampak pada permintaan akan ekspor di Jawa Barat.
“Ini perlu diantisipasi, dengan permintaan Eropa dan Amerika yang mengalami penurunan diseimbangkan dengan pasar-pasar baru yang coba diperbesar,” ungkapnya di kepada wartawn di Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (14/2/2023).
Baca Juga : Gelar Operasi Pasar Murah, Pemkot Bandung Salurkan 600 Ton Beras
Erwin mengatakan, selain perlambatan ekonomi secara global, perubahan iklim di 2023 juga perlu menjadi fokus perhatian, terutama dalam produksi pangan.
“Dengan perubahan iklim dari 2023, dari sebelumnya agak basah dan sekarang agak kering, tentu berimplikasi pada panen dan produksi pangan. Maka perlu ada langkah-langkah agar jumlahnya memadai dan harga tetap terjangkau,” ucapnya.
Kendati demikian, pada tahun 2022 pertumbuhan ekonomi Jawa Barat menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Pulau Jawa dan nasional. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat 2022 yang merupakan tertinggi serta berada di atas rata-rata nasional.
Ia mengatakan, selain adanya pelonggaran PPKM yang meningkatkan mobilitas, capaian tersebut juga ditopang kinerja investasi di Jawa Barat yang merupakan yang tertinggi secara nasional dengan realisasi mencapai Rp 174,58 triliun.
Baca Juga : Stok Beras di Jawa Barat Aman Hingga Idulfitri 2023
“Kinerja sektor industri pengolahan dan perdagangan yang terus tumbuh, turut mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Barat,” ujarnya.
Upaya Jaga Pertumbuhan Ekonomi
Sementara itu, Kepala Kantor OJK KR 2 Jawa Barat, Indarto Budiwitono mengatakan, terdapat sejumlah langkah dalam menjaga pemulihan ekonomi di Jawa Barat. Di antaranya, dengan menjaga tingkat inflasi dan ketersediaan pasokan melalui program operasi pasar, serta Kerja sama Antar Daerah (KAD).
Selain itu, kata Indarto, meningkatkan daya beli masyarakat termasuk petani dengan mendukung pembiayaan, kemudahan hingga program pengamanan sosial.
“Juga dengan menjaga kinerja industri khususnya industri padat karya sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Serta mengoptimalkan peran UMKM dan ekonomi syariah,” ungkapnya. (Rio/R13/HR-Online-Editor-Ecep)