Budayawan S.I. Poeradisastro dalam tulisan yang dimuat oleh Majalah Prisma Edisi November 1981 berjudul, “Kebudayaan Indonesia di Pusaran Arus Sejarah” menyebut hutan di kerajaan Sriwijaya pernah gundul pada abad ke-7 masehi. Penyebab penggundulan hutan (deforestasi) yang terjadi di kerajaan Sriwijaya disebabkan oleh berbagai hal.
Salah satunya karena terjadi eksploitasi jumlah sumber daya alam yang berlebihan. Banyaknya penebangan pohon untuk jadi penopang ekonomi kerajaan.
Kelalaian kerajaan Sriwijaya terhadap eksploitasi hutan secara berlebihan mengundang perhatian minat penjelajah dunia untuk singgah di Sumatera Selatan. Mereka menjalin kerjasama perdagangan dan menarik banyak keuntungan yang merugikan kerajaan.
Namun seiring berjalannya waktu Sriwijaya mulai melakukan evaluasi: “kerugian itu datang akibat kerajaannya belum sadar lingkungan”.
Baca Juga: Sejarah Boneka Sigale-gale, Penghibur Lara Kala Raja Batak Berduka
Kejadian ini membuat Sriwijaya mewariskan prasasti Talang Tuo yang isinya, “tentang cara bagaimana seharusnya manusia menjaga lingkungan dengan baik dan benar”.
Sejarah Deforestasi Kerajaan Sriwijaya, Semi Kepentingan Ekonomi Kerajaan
Masih menurut S. I. Poeradisastra, budayawan sekaligus akademisi senior ekonomi Indonesia mengatakan jika deforestasi zaman Sriwijaya terjadi akibat kepentingan ekonomi. Sriwijaya merelakan SDA hancur demi pembangunan istana dan infrastruktur sosial, ekonomi seperti pelabuhan.
Kerajaan Maritim yang terletak di Sumatera Selatan (sekitar Palembang) ini menjual banyak komoditi untuk keperluan pembangunan daerahnya terutama berbahan baku dari kayu berkualitas.
Kayu-kayu yang berasal dari penebangan pohon itu dijadikan sebagai bahan pembangunan armada laut dan armada niaga Sriwijaya. Selain itu mereka juga memanfaatkan kayu tersebut menjadi bahan baku pembuatan kapal.
Tak berselang beberapa lama seluruh pohon subur yang ada di hutan Palembang gundul. Orang-orang di sana tak bisa memanfaatkan pohon untuk jadi resapan air penolong mereka dari ragam bencana seperti, banjir, dan tanah longsor.
Selain merugikan secara ekonomi, deforestasi atau penebangan pohon secara berlebihan di jantung hutan seperti pada zaman kerajaan Sriwijaya berisiko mengganggu habitat seluruh makhluk hidup.
Baca Juga: Sejarah Malaka, Kerajaan Maritim yang Kaya Tanpa Hasil Produksi
Curah Hujan Tinggi Penyebab Sungai Dangkal
Ketika hutan sudah gundul dan habis secara merata, Sriwijaya tak bisa mengandalkan lagi kekayaan alam untuk mereka gunakan sebagai komoditi yang menguntungkan ekonomi kerajaan. Memang betul kapal dan beberapa infrastruktur kerajaan berdiri kokoh nan megah, namun dapur mereka (hutan) rusak, padahal itu sumber makanan mereka.
Karena struktur ekonomi jomplang –lebih mementingkan kepentingan mikro dari pada kepentingan makro menimbulkan berbagai persoalan. Salah satunya persoalan bencana alam.
Curah hujan di Palembang begitu tinggi, maka itu Sriwijaya jadi kerajaan langganan tanah longsor, angin kencang, dan banjir bandang.
Semua bencana alam tak lepas dari tangan-tangan liar bangsa Sriwijaya yang saat itu belum sadar akan pentingnya arti kelestarian lingkungan.
Namun beberapa tahun kemudian mereka menyepakati bersama aturan reboisasi hutan sekaligus menjadi pelopor kerajaan pertama yang sadar lingkungan sebagaimana yang termuat dalam isi prasasti Talang Tuo.
Selain banjir, angina badai, dan tanah longsor, bencana yang berkepanjangan berasal dari musibah pendangkalan sungai.
Hal ini bisa terjadi selain karena deforestasi di kerajaan Sriwijaya, curah hujan di Sumatera Selatan (Palembang) tinggi, aliran air hujan tak terserap sempurna dan mengantarkan partikel serta sisa lingkungan mengalir ke sungai Musi.
Menimbulkan Sarang Penyakit Malaria
Malaria jadi penyakit yang paling mengkhawatirkan masyarakat Sriwijaya sejak abad ke-7 masehi. Pemandangan ketakutan ini menjadi kontradiksi karena keadaan lingkungan di pusat kerajaan tertata rapih namun banyak berseliweran orang-orang pengidap Malaria.
Melihat lonjakan pasien malaria semakin meningkat, menteri urusan kesehatan di kerajaan Sriwijaya mengumumkan malaria sebagai penyakit endemic yang berubah statusnya menjadi epidemic.
Baca Juga: Sejarah Mataram, Kerajaan Agraris Pemasok Padi Terbesar di Nusantara
Akibatnya untuk beberapa waktu ke depan kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan politik kerajaan akan terhambat. Kegiatan sehari-hari mendadak berhenti dan masyarakat membatasi interaksi dengan perasaan yang khawatir akan terinfeksi wabah malaria.
Korban malaria pada saat itu tak terhitung banyaknya, hal ini sebagaimana disampaikan oleh S. I. Poeradisastra yang saking banyaknya korban meninggal akibat malaria menyebabkan ketahanan militer Sriwijaya runtuh “seperti gubuk gembel terkena traktor penggusur”.
Sejak peristiwa ini berlalu kerajaan Sriwijaya melakukan pembenahan infrastruktur. Kembali pada perhatian (penting) sistem struktur makro (hutan, lingkungan alam, dan tata kelola kota).
Maka dari itu untuk mewujudkan perilaku konsisten dalam menjaga alam Sriwijaya mewariskan Prasasti Talang Tuo pada tahun 684 masehi.
Isinya kurang lebih berupa seruan mencegah deforestasi di kerajaan Sriwijaya, terutama agar masyarakat Dunia senantiasa melestarikan lingkungan dengan baik terlebih hutan, karena hutan adalah paru-paru alam. (R7/HR-Online/Editor-Ndu)