Setelah Saminisme, pada tahun 1914 lahir kepercayaan serupa bernama Samat. Aliran kepercayaan Samat berasal dari petani di pantai Utara Jawa yang meyakini sosok Ratu Adil.
Mereka percaya akan ada sosok Ratu Adil saat sebagian besar rakyat Jawa yang tertindas menganut kepercayaan Samat.
Para penghayat kepercayaan Samat meyakini Ratu Adil turun dari arah Barat dan Timur dunia. Entah apa maksudnya, namun sebagai pengamat mempercayai Ratu Adil yang mereka maksud itu adalah orang yang mampu melepas jeratan mereka dari penjajahan Belanda.
Konon orang tersebut adalah Jepang. Pendudukan Jepang mulai pada tahun 1942, mereka datang dari arah Timur dunia. Jepang secara de facto memang membebaskan cengkraman rakyat Jawa dari Belanda.
Oleh sebab itu, rakyat Samat percaya jika para tentara Dai Nippon inilah sang Ratu Adil. Semangat mengabdi pada Ratu Adil semakin tinggi tatkala Jepang memuluskan beberapa keinginan orang Samat. Namun ia secara tidak langsung telah disihir oleh Jepang.
Baca Juga: Sejarah Ajaran Saminisme, Gerakan Tanpa Kekerasan yang Dicemooh
Sebab Jepang ingin bantuan orang Samat untuk kepentingan keprajuritan seperti pemenuhan logistik berbentuk beras, ternak, dan hasil kebun lainnya.
Aliran Kepercayaan Samat, Golongan Petani Penuntut Persamaan Hak
Pada zaman Belanda aliran kepercayaan Samat terdiri dari para petani yang menuntut persamaan hak.
Menurut Paulus Widiyanto dalam Majalah Prisma Edisi 8 Agustus 1983 berjudul, “Samin Surosentiko dan Konteksnya”, para penganut aliran Samat berasal dari golongan petani yang menuntut persamaan “sama rasa dan sama rata”.
Maka dari itu, sebagian orang menilai kepercayaan Samat memiliki kesamaan semangat pertentangan kelas sebagaimana orang-orang komunis yang anti Tuhan.
Namun ini tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, sebab aliran kepercayaan Samat tertutup dengan dunia politik praktis. Mereka mengkritik pemerintah hanya untuk kepentingan golongannya saja, tapi tidak untuk semangat persatuan kebangsaan.
Kendati demikian aliran kepercayaan Samat tetap saja terkontaminasi oleh politik praktis. Salah satunya ketika pendudukan Jepang datang menguasai Jawa pada tahun 1942-1945.
Mereka (Orang-orang Samat) membela Jepang karena mereka percaya jika Jepang merupakan sosok yang dinanti-nanti: si Ratu Adil.
Para pengikut ajaran Samat yang berasal dari ajaran Saminisme di Blora rela mencari berbagai kebutuhan Jepang selama tinggal di tanah Jawa. Mereka mencarikan kebutuhan logistik terutama beras untuk pasokan konsumsi para tentara Dai Nippon.
Pengikut Samat Menghilang Sampai Tahun 1950-an
Ketika Jepang kalah oleh Perang Dunia II, Indonesia kena imbasnya. Sekutu datang kembali ke Indonesia dan mengacaukan segala aktivitas sosial tak terkecuali dengan para pengikut ajaran Samat.
Meskipun negeri kita saat itu sudah memerdekakan diri pada 17 Agustus 1945, Belanda melalui Sekutu tetap kekeuh hendak menguasai lagi eks-tanah jajahannya.
Baca Juga: Sejarah Ekonomi Kerakyatan, Upaya Orde Lama Berantas Kemiskinan
Akibatnya struktur kepercayaan Samat tercerai berai. Beberapa dari pengikutnya memilih untuk menjadi relawan perang melawan Belanda. Sedangkan sebagian lainnya pergi menjauh dari daerah Blora dan ikut dengan gerakan politik.
Alhasil pengikut aliran Samat menyusut. Sampai pada tahun 1950 para penganut ajaran Samat tidak ditemukan. Namun menjelang Pemilu tahun 1953, mereka ditemukan oleh petugas survey, setidaknya ada 25o orang Samat yang tinggal di Bojonegoro, Jawa Timur.
Sedangkan pada saat Pemilu pertama berlangsung pada tahun 1955, tercatat ada 40.000 orang Samat yang punya hak suara menentukan siapa calon pemimpin negeri ini.
Entah ini hasil dari survey gelap atau bukan, terlepas dari isu tersebut para penganut ajaran Samat menjadi masalah di kemudian hari.
Mendewakan Kepercayaan Saminisme
Para pengikut ajaran Samat kebanyakan mendewakan kepercayaan Saminisme. Hal ini karena kepercayaan Samat merupakan turunan Saminisme yang jumlahnya meningkat sejak tahun 1920-an.
Mereka menyebut pendiri ajaran Saminisme: Samin Surosentiko sebagai Adam Kawitan atau orang yang punya ilmu kebatinan yang tinggi.
Baca Juga: Upacara Pemakaman Kejawen dan Kisah Arwah Gentayangan Tahun 1980-an di Yogyakarta
Orang Samat percaya jika Dewa utusan Tuhan mereka adalah Mbah Samin. Maka dari itu terkadang ajaran Samat kerap disamakan dengan ajaran Saminisme. Tentu ini tidak keliru juga, tapi para penganut kepercayaan Samat lebih intoleran dengan dunia luar.
Mereka tertutup dan punya sikap etnosentris kesukuan yang kuat. Asalkan sama-sama satu iman: pengikut Samat maka mereka berani menolong, memperjuangkan, dan menghormatinya. Tetapi di luar itu, mereka rasa tidak ada soal.
Karena sifat kedaerahan dan kesukuan yang tinggi inilah kemudian orang-orang Samat dibubarkan paksa oleh pemerintah Orde Lama pada tahun 1960-an.
Alasan pemerintah Orde Lama membubarkan mereka antara lain untuk menormalisasi persatuan kebangsaan. Pemerintah Orde Lama menganggap para pengikut Samat berbahaya karena berisiko tinggi memecah belah persatuan dan pembodohan publik. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)