Upacara pemakaman orang Kejawen penuh dengan kisah mistis dan klenik. Apakah ritual pemakaman pengikut ajaran Kejawen berbeda dengan orang Islam pada umumnya? Sebab kebanyakan orang mengira aliran kejawen merupakan ajaran Islam Abangan yang tumbuh di lingkungan tanah feodal.
Kisah mistis yang menimbulkan teror gaib ini pernah terjadi di Yogyakarta pada tahun 1980-an. Kala itu ada jenazah wanita yang wafat di Jakarta. Ia adalah salah satu dari anak pengikut ajaran Kejawen, ayahnya bahkan menjadi tokoh Kejawen berpengaruh di salah satu desa pedalaman yang ada di Yogyakarta.
Anak si tokoh Kejawen meninggal di Jakarta karena sudah menikah dan ikut suami yang bekerja di sana. Wafatnya wanita muda tersebut sempat mengundang perdebatan antara si suami dan keluarganya di kampung.
Baca Juga: Sejarah Islam Jawa di Keraton Yogyakarta, Asal Mula Munculnya Islam Putihan dan Abangan
Ayahnya seorang Kejawen tulen ingin jasad si anak dikubur di tanah kelahirannya di Yogyakarta, sedangkan si suami sebaliknya.
Namun si suami mengalah dan memilih menemani jasad istrinya ke Yogyakarta menggunakan kereta. Tanpa sepengetahuan si suami ternyata sang ayah istrinya telah mempersiapkan ritus pemakaman yang penuh dengan kesan horor. Menyiapkan sesaji dan beberapa dukun berkostum hitam tatkala si jenazah tiba di rumah duka.
Kisah Upacara Pemakaman Kejawen yang Penuh Peraturan Klenik
Kisah ini berasal dari catatan bersejarah peneliti budaya Islam Jawa dari Australia bernama Mark R. Woodward dalam buku berjudul, “Islam Jawa: Kesalehan Normatif Versus Kebatinan” (1989).
Woodward menuturkan upacara yang disiapkan orang kejawen untuk pemakaman begitu rumit dan penuh peraturan klenik.
Woordward melihat bagaimana si jasad itu sudah beku karena sudah 4 hari belum disemayamkan. Sebagian orang berdatangan secara misterius, mengucapkan salam perpisahan dan ucapan berbelasungkawa atas meninggalnya si jasad tersebut. Kendati banyak pelayat, Woodward justru melihat fenomena ini sebagai pemandangan yang miris.
Setelah beberapa hari kedatangan dari Jakarta, jasad wanita ini mulai diurus. Sang ayah dibantu oleh beberapa dukun lainnya memandikan dan meletakkan bantalan kapas ke seluruh bagian lubang tubuhnya.
Baca Juga: Sejarah Pemakaman di Jawa Tahun 1920, Penuh Klenik dan Pamali
Terakhir mereka membungkus jasad dengan kain putih (kain kafan) sebelum ditempatkan di atas meja yang sudah siap dengan sesaji. Persembahan tersebut terdiri dari kembang 7 rupa dan beberapa wewangian berasap yang berasal dari getah kemenyan yang terbakar.
Selain itu sama seperti kebanyakan orang Islam lainnya di Jawa, upacara pemakaman Kejawen juga diiringi oleh pembacaan ayat suci Al-Qur’an yakni Surat Yasin. Setelah itu tepat pada hari ke-4 seluruh anggota keluarga mengantarkan ke pemakaman, jasad si wanita itu pun akhirnya bisa beristirahat dengan tenang.
Mendapat Teror Gaib
Alih-alih mendapatkan ketenangan, nampaknya si jasad yang baru saja dikuburkan itu menolak masuk ke alam baka. Pasalnya ada yang salah saat menanam jasad di liang lahat.
Hal ini bermula dari kepercayaan kejawen sang ayah, ia menempatkan jasad anaknya tidak sesuai dengan arah kiblat. Ia malah menguburkan jenazah menghadap ke dalam alias posisi telungkup.
Meskipun si anaknya ini juga mengaku Kejawen pada sang suami, tetapi detik-detik menjelang kematian ia meminta untuk menjadi orang Islam yang benar dan bertaqwa.
Oleh sebab itu arwah wanita tersebut menolak pemakaman dengan ritual Kejawen. Ia meneror sejumlah anggota keluarga agar menyempurnakan pemakamannya kembali.
Selain mendatangi sejumlah keluarga, orang-orang di sekitar rumahnya yang ada di Yogyakarta dihantui oleh arwah gentayangan si wanita tersebut.
Woodward tidak menyebutkan detail lokasi peristiwa tersebut, hanya saja ia mengatakan kisah ini pernah viral di kalangan masyarakat Yogyakarta bagian Utara.
Karena tidak nyaman dengan teror tersebut, sang ayah dan mantan suami beserta keluarga lain memutuskan membongkar ulang makam. Mereka membenarkan kembali posisi jasad sesuai dengan syariat Islam.
Semenjak itu teror gaib arwah gentayangan si wanita muda tersebut tak datang dan menghantui lagi masyarakat di sekitarnya.
Baca Juga: Sejarah Sekaten Yogyakarta, Pesta Rakyat Warisan Majapahit
Konsep Islam Kejawen yang Berakar pada Syariat Islam
Dalam kalimat penutup penelitian Woodward, ia mengatakan jika peristiwa meninggalnya wanita tersebut menimbulkan kesimpulan Islam Kejawen tetap mengakar pada syariat Islam.
Ada yang kurang tepat dalam konsep dan ajaran tradisi Kejawen yang baru disadari oleh si penganut di akhir hayat. Perasaan skeptis ini merupakan pertanda bahwa Tuhan sang Maha Pencipta telah memberikan hidayah atas kebenaran Akidah.
Upacara kematian dari ajaran Kejawen tetap membutuhkan tuntunan Syariat Islam. Sebab pada kenyataannya memang syariat Islam menjadi pangkal atas kepercayaan kolot orang-orang Jawa yang bertransisi dari pengaruh kuat Hindu-Buddha ke ajaran Islam sejak abad ke-13 masehi.
Kejadian ini membuat para penganut ajaran Kejawen di Yogyakarta mengubah sikap. Mereka mengurangi sifat ekstrim kepercayaan leluhur menjadi lebih lunak.
Mereka percaya jika kematian merupakan akhir dari kehidupan dewasa dan konklusi dari pengalaman mistik. Semua berakhir, tidak ada lagi istilah mistik, klenik, mikro-makrokosmos, dan kosmologis.
Dengan kata lain ritual pemakaman secara Islam tetap memegang peran penting dalam upacara kematian orang Kejawen. Oleh sebab itu peristiwa ini menjadi pangkal perubahan kepercayaan Kejawen yang tumbuh sejak abad ke-13 ke arah transisi masyarakat Islami Jawa di akhir abad ke-20 masehi. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)