Sejarah Sekaten di Yogyakarta ternyata sudah ada sebelum abad ke-20. Sekaten merupakan pesta rakyat untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang kerap diselenggarakan oleh Keraton Kasultanan Yogyakarta. Tercatat dalam sejarah Indonesia, pesta rakyat tersebut ternyata berasal dari tradisi budaya di era kejayaan Majapahit.
Namun belakangan tradisi Sekaten baru dikenal oleh masyarakat luas di Jawa Tengah sejak zaman kerajaan Demak.
Kerajaan Islam terbesar di pulau Jawa itu mengkolaborasikan tradisi Hindu menjadi penyambutan hari-hari besar agama Islam, salah satunya menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kendati kerajaan Demak yang pertama kali mengadakan Sekatenan, rupanya Keraton Yogyakarta lah yang melestarikan tradisi dan budaya unik tersebut.
Baca Juga: Sejarah Pemakaman di Jawa Tahun 1920, Penuh Klenik dan Pamali
Para abdi dalem Keraton biasa mempersiapkan alun-alun untuk menjadi tempat Sekatenan. Mereka mengeluarkan beberapa pusaka kerajaan, salah satunya gamelan Kyai Sekati.
Meskin identik dengan upacara sakral, Sekatenan adalah cara Raja menolong rakyatnya merasakan hiburan. Sebab pada hakikatnya Sekaten adalah pesta, tempat bersenang-senang, dan saatnya meluangkan waktu sejenak.
Di acara Sekaten rakyat Yogyakarta bisa menikmati berbagai kudapan istimewa selayaknya cemilan Raja.
Sejarah Sekaten Yogyakarta, Pesta Rakyat yang Diadaptasi dari Pesta Panen Majapahit
Menurut E. Oey dalam buku sejarah berjudul, “Java” (1997), sejarah Sekaten berasal dari pesta panen raya pada zaman Majapahit. Saat itu kerajaan Majapahit biasa merayakan panen dengan mengadakan pesta, isinya ada hiburan dan makan-makan bersama rakyatnya.
Mereka bergembira sama-sama menyambut hari yang lebih baik dari sebelumnya. Namun yang lebih penting dari acara ini tidak lain untuk umbul dungo atau meminta doa supaya pada panen berikutnya para petani bisa menghasilkan beras yang lebih besar lagi dari pada saat ini. Intinya doa-doa baik masyarakat agraris untuk menghadapi masa depan.
Seiring pengaruh Islam yang menyebar pada abad ke-13, Sekaten menjadi media para wali dalam menyiarkan agama Islam ke berbagai pelosok daerah di pulau Jawa.
Sekatenan zaman Majapahit berubah menjadi pesta bernapaskan Islam oleh para pemuka Islam di era kejayaan Demak.
Dalam sejarah Sekaten Yogyakarta tercatat, para pewaris kerajaan Demak berhasil melestarikan Sekatenan secara turun temurun bahkan sampai pada kerajaan Mataram.
Baca Juga: Sejarah Kuliner Keraton Jogja, Makanan Kesukaan Raja Terpengaruh Budaya Eropa
Akibatnya hingga saat ini tradisi warisan leluhur Majapahit tersebut masih bisa kita lihat di agenda budaya Keraton Yogyakarta.
Biasanya Keraton Yogyakarta mengadakan Sekatenan setiap tanggal 5 bulan Maulid. Tandanya ada tradisi Grebeg Maulid yang berlangsung pada hari ke 12 bulan Maulid.
Isinya hampir sama dengan awal mula Sekatenan zaman Majapahit. Bedanya Sekatenan di Keraton Yogyakarta bertujuan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Sekaten di Yogyakarta berbentuk Pasar Malam. Masyarakat zaman dulu menyebutnya dengan istilah Kermis. Ada banyak penjual di Pasar Malam, seperti halnya anak-anak kolonial yang suka manis, para bocah pribumi pun bisa membeli dan mencicipi gulali yang manis dan lezat.
Asal-Usul Nama Sekaten
Menurut J.C. Lamster dalam buku berjudul, “Java Eerste Deel” (1934), sejarah nama Sekaten di Yogyakarta berasal dari sebutan sebuah gamelan keramat yang bernama Kyai Sekati. Alat musik tradisional Jawa ini biasa dimainkan pada saat bulan Maulid tiba.
Bebunyian gamelan khusus keluar untuk menghibur para pengunjung Sekaten sekaligus peringatan bahwa selama tujuh hari ke depan umat Islam sedang memperingati Maulid Nabi.
Gamelan Kyai Sekati terdiri dari dua set. Yang satu terletak di sisi Utara dan Selatan Masjid Kauman Yogyakarta. Sebelum meresmikan pembukaan Sekaten, para Abdi Dalem Keraton terlebih dahulu membersihkan dan meruwat pusaka tersebut.
Sebagaimana kepercayaan orang Jawa Kuno, Gamelan Kyai Sekati dimandikan dengan air bunga.
Permainan gamelan terus berlangsung sampai 7 hari 7 malam. Kira-kira permainan gamelan ini baru berhenti pada tanggal 11 Maulid.
Pemain gamelan Kyai Sekati berganti-ganti, tetapi yang pasti adalah Abdi Dalem Keraton bagian perkusi atau pemegang urusan seni tradisi khususnya musik tradisional.
Seiring dengan permainan gamelan yang terus berbunyi di malam hari, menambah suasana hangat dan penuh dengan kegembiraan golongan pribumi menikmati indahnya pasar malam.
Seperti orang Eropa yang bisa menaiki wahana kincir-kincir, karena di Sekaten itu ada mereka (pribumi) saling berebut untuk mencoba wahana permainan tersebut.
Baca Juga: Sejarah Gudeg, Kuliner Tradisional Jogja dari Zaman Kerajaan Mataram
Cara Sultan Memberi Perhatian Pada Rakyatnya
Sekaten disinyalir para ahli sejarah merupakan salah satu cara Sri Sultan Hamengkubuwono memberikan perhatian untuk rakyat Yogyakarta. Mereka butuh hiburan yang bisa menyenangkan hati keluarga terutama hati anak dan istrinya.
Selain menyambangi pusat pesta di alun-alun pada malam hari, biasanya saat awal pembukaan Sekaten, pihak Keraton Yogyakarta akan menggelar pesta Grebeg Maulud. Atau pesta yang digelar Raja untuk menjadi rakyatnya.
Sebab dalam acara Grebeg tersedia ratusan jenis makanan yang berbentuk gunungan tumpeng.
Para Abdi Dalem yang memanggul gunungan itu membagi-bagikan makanan yang terdiri dari nasi tumpeng, kue, buah-buahan, sayur-sayuran, telur, daging dan beras.
Terkadang rakyat yang tak sabar menunggu langsung menyerbu gunungan tersebut. Selayaknya pesta yang berisi senang-senang, kegiatan itu malah menambah kesan meriah. Oleh sebab itu hingga sekarang tradisi merontok gunungan menjadi suatu kewajiban yang tak bisa terlewati.
Menurut ahli gastronomi dan sejarah di Yogyakarta, kegiatan tumpengan dalam pesta sekaten ini merupakan simbol yang paling penting dalam tradisi Keraton.
Tumpeng atau gunungan ini jadi lambang Sultan yang pemurah dan pemberi kemakmuran untuk rakyatnya. Dengan demikian Sekatenan merupakan cara Sultan untuk terus melegitimasi kekuasaan di balik kekurangan-kekurangan dalam pemerintahannya. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)