Sejarah jamu ternyata sudah ada sejak kejayaan Majapahit. Bahkan tradisi minum jamu terdapat dalam beberapa prasasti peninggalan Majapahit yang tersebar di berbagai wilayah kekuasaannya di Jawa.
Prasasti-prasasti yang menunjukan jamu sebagai minuman tradisional orang Jawa pada masa kejayaan Majapahit sudah ada sejak abad ke IX-X masehi. Menurut salah satu prasasti tersebut, tradisi minum jamu bagi orang Jawa disebabkan oleh adanya wikara (penyakit).
Masyarakat Jawa kuno saat itu terpancing membuat ramuan guna mencegah wikara tersebar luas ke masyarakat lain.
Mereka memanfaat tumbuh-tumbuhan dan biji-bijian untuk membuat jamu. Saat itu masyarakat Jawa percaya tumbuhan dan biji-bijian tertentu bisa menyembuhkan musibah yang disebabkan oleh wikara.
Baca Juga: Sejarah Gudeg, Kuliner Tradisional Jogja dari Zaman Kerajaan Mataram
Dalam prasasti peninggalan Majapahit, rempah-rempah yang bisa menjadi bahan obat disebut dengan Odha. Prasasti itu juga mendikte beberapa tumbuhan dan buah-buahan untuk membuat Odha (Obat) antara lain, Mengkudu, Buah Wadara, dan Buah Majapahit.
Sejarah Jamu, Ramuan Tradisional Sudah Ada Sejak Zaman Kejayaan Majapahit
Menurut Fetiana dan Maharani dalam tulisan berjudul, “Jamu dan Sirih: Kajian Etnomedisin” (2021), penemuan jamu sebagai herbal dan obat (Odha) penyembuh wikara (penyakit) sudah ada sejak zaman kejayaan Majapahit.
Para arkeolog, filolog, dan sejarawan meyakini jamu jadi obat herbal zaman Majapahit karena buah Majapahit masuk menjadi bahan baku obat herbal waktu itu. Penyebutan buah Majapahit masuk dalam salah satu prasasti kerajaan tersebut.
Kendati buahnya berasa pahit dan sedikit pedas, tetapi keyakinan orang Jawa pada khasiat buah tersebut bisa membuat orang berpenyakit sembuh seketika.
Mereka percaya buah Majapahit mujarab membuat orang yang mengonsumsinya bisa terhindar dari wikara.
Selain sudah eksis sejak kerajaan Majapahit, jamu juga sudah terkenal jauh dari sebelum itu. Ramuan jamu ternyata sudah ada sejak masa kejayaan Syailendra.
Ada relief di Borobudur yang terkenal dengan nama karmawibhangga. Relief itu menggambarkan praktik pengobatan yang terjadi di masa lalu melalui ramuan tradisional yakni jamu.
Isi gambar relief tersebut menunjukan ada beberapa orang tengah menolong orang sakit. Salah satunya ada seorang perempuan yang menghaluskan bahan menggunakan benda murup batu pipisan dan gandik. Konon para arkeolog mempercayai ini sebagai proses pembuatan jamu.
Penggunaan batu pipisan dan gandik saat itu merupakan material keras penghalus ramuan obat (jamu).
Masyarakat Jawa terdahulu menggunakan material ini untuk menghaluskan biji-bijian dan tumbuhan pewarna alami. Para arkeolog menemukan bebatuan ini di situs Trowulan Mojokerto, Jawa Timur.
Baca Juga: Mitos Dewi Sri, Kepercayaan Masyarakat Jawa Meminimalisir Gagal Panen
Jamu Zaman Majapahit Terkenal dengan Istilah Acaraki
Dalam prasasti Madhawapura peninggalan Majapahit menyebut jamu dengan istilah Acaraki. Penyebutan Acaraki untuk jamu nampaknya terus menyebar hingga abad ke-19. Masyarakat Jawa kala itu menyebut tukang jamu dengan sebutan craki.
Para peramu (craki) terkenal sebagai orang sakti. Seperti halnya tabib di kepercayaan masyarakat Tiongkok, tradisi sosial masyarakat Jawa kala itu juga mengapresiasi craki sebagai orang pintar.
Mereka percaya para craki bisa menyembuhkan segala penyakit karena bahan ramuan bisa membuat orang yang meminumnya seger, kuat lan waras.
Karena jamu bagian dari warisan leluhur di Nusantara, menginjak abad ke-20 masehi ramuan jamu mulai terdokumentasikan lebih baik dari sebelumnya. Masyarakat Jawa kala itu intens meminum jamu. Mereka mencatat segala jenis tumbuhan dan biji-bijian untuk membuat jamu melalui media kertas.
Salah satu peninggalan ramuan jamu terkenal melalui kertas tercetak bisa kita lihat dalam sastra kuno berjudul Serat Kawruh: Bab Jampi. Naskah ini berisi panduan membuat ramuan jamu. Terbit pada masa kejayaan Pakubuwono V di Kasunanan Surakarta.
Dalam naskah Serat Kawruh: Bab Jampi tertulis 1734 resep beserta cara peruntukan jamu tersebut. Selain itu ada 244 resep lainnya merupakan resep rajah, jimat, dan mantra yang berfungsi sebagai penyembuh.
Baca Juga: Sintua Nathanael Nababan, si Pemburu Kerbau Liar dari Tapanuli Utara
Jamu Meningkatkan Stamina dan Kecantikan
Tidak hanya untuk mengobati penyakit, rupanya jamu juga berfungsi untuk meningkatkan stamina dan kecantikan keluarga raja. Pada zaman Majapahit jamu dipakai oleh putra-putri Keraton.
Mereka sengaja membiasakan diri meminum jamu dengan rutin untuk memperoleh stamina yang baik dan kualitas rupa diri (kecantikan) yang maksimal.
Biasanya ramuan jamu yang berfungsi meningkatkan stamina dan kecantikan itu terdiri dari berbagai macam bahan, antara lain: jamu kunyit sirih, selain baik untuk pencernaan juga memiliki kegunaan meningkatkan vitalitas lelaki agar perkasa.
Ada juga jamu cabe puyung, fungsinya meningkatkan stamina dan merawat kulit wajah agar awet muda.
Karena menjadi konsumsi keluarga raja, dahulu jamu menjadi hidangan yang istimewa. Tidak sembarang orang bisa meminum jamu terkecuali keturunan darah biru.
Namun sejarah mencatat, seiring dengan berkembangnya waktu, jamu menjadi minuman herbal biasa yang berasal dari warisan budaya leluhur di Nusantara. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)