Sejarah jamban di Batavia pada dekade awal 1800-an, sejarah kolonial mencatat mereka telah mengadopsi budaya pribumi sehari-hari termasuk membangun Badhuisje atau pemandian yang kala itu berada di pinggir sungai (jamban).
Orang-orang Belanda di Batavia meniru semua kegiatan sehari-hari orang pribumi. Selain pergi mandi dan buang air ke Badhuisje yang ada di pinggiran sungai, mereka juga mencuci pakaian sehari-hari di pinggir kali Ciliwung yang ada di Batavia.
Mereka terlihat nyaman dengan kehidupan sehari-hari pada waktu itu, orang Belanda juga kelihatan akrab dengan masyarakat pribumi. Mereka saling mengisi hari dengan produktif dari waktu ke waktu.
Baca Juga: Sejarah Weltevreden, Pemukiman Elit Eropa di Batavia
Tidak berhenti sampai kebiasaan mencuci di pinggir kali Ciliwung saja, orang-orang Belanda saat itu juga meniru bagaimana orang-orang pribumi berpakaian dan membangun rumah.
Mereka menyesuaikan semua itu agar bisa tinggal nyaman di negeri yang beriklim tropis (panas). Oleh sebab itu banyak wanita Belanda berpakaian kebaya dan juga banyak rumah Belanda yang memiliki puluhan ventilasi di seluruh ruangannya.
Suasana ini menggambarkan bagaimana adaptasi antara orang Belanda dan pribumi berhasil. Mereka bisa saling menjaga satu sama lainnya meskipun terdapat beberapa kesenjangan sosial yang dialami oleh golongan pribumi.
Kendati demikian, dua ras yang berbeda bisa hidup berdampingan dan bertukar pengalaman agar bisa menjalani keseharian dengan rasa aman, tenang, dan nyaman.
Sejarah Keluarga Belanda Membuat Badhuisje atau Jamban di Tepian Sungai Batavia
Menurut Djoko Soekiman dalam buku berjudul, “Kebudayaan Indis Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi” (2011), Badhuisje adalah bangunan tempat mandi alias jamban sebagaimana orang pribumi yang biasa mempergunakan tempat ini selain mandi tetapi juga tempat buang hajat. Mereka membangunnya di tepian sungai Batavia.
Saat itu memang belum ada teknologi toilet yang bisa membuang hajat secara mudah masuk dalam sistem Septic tank. Maka dari itu jalan satu-satunya kebiasaan manusia buang air besar pada abad ke-19 itu dengan menggunakan jamban (Badhuisje).
Selain memudahkan pembuangan kotoran ke sungai, Badhuisje juga bisa menjadi alternatif orang-orang Belanda menghemat dana pembangunan rumah di Batavia.
Sejarah mencatat, waktu itu hanya orang-orang Belanda kaya Batavia saja yang bisa membangun jamban yang berada di halaman rumah tidak di tepian sungai.
Namanya bukan Badhuisje melainkan Speelhuis. Orang Belanda pertama yang membuat Speelhuis bernamaSchrueder.
Baca Juga: Sejarah Pabrik Arak di Batavia, Orang Tionghoa Peracik Alkohol Langganan Belanda
Ia adalah orang Belanda kaya yang memperkenalkan sistem pembuangan kotoran rumah tangga menggunakan Speelhuis dan Washbook (Bilik tempat mencuci dan mandi di rumah).
Bangunan ini berbahan dasar bambu dan batu bata yang disemen. Speelhuis en Washbook menjadi dambaan orang-orang Belanda miskin di Batavia.
Mereka ingin memiliki tempat ini untuk memperbaiki kepraktisan hidup di negara beriklim tropis seperti Hindia Belanda. Selain terinspirasi dari rumah Schrueder, mereka juga ingin punya rumah seperti milik Reiner de Klerek.
Rumah yang berdiri pada tahun 1870 ini konon merupakan rumah pertama yang memiliki tempat mandi sendiri. Berbeda dengan Speelhuis, rumah Reiner de Klerek sudah membentuk kamar mandi sebagai tempat yang private (tertutup) selayaknya kamar mandi saat ini.
Kamar mandi Reiner sudah menggunakan sistem Septic tank. Dahulu rumah ini terletak di Molenvliet Weltevreden Batavia.
Mendapat Air Bersih Langsung dari Sumbernya
Kamar mandi di rumah Reiner de Klerek sudah mendapatkan air bersih langsung dari sumbernya. Kebetulan waktu itu di Molenvliet terdapat mata air yang jernih.
Ia membangun saluran pipa yang menghubungkan sumber mata air itu ke rumahnya lewat jalur bawah tanah. Sistem ini merupakan teknologi canggih pertama dalam pembuatan toilet di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19.
Selain mengairi pembuangan kotoran manusia ke Septic tank, Reiner de Klerek membuat saluran pipa lain guna kebutuhan air bersih untuk mandi dan minum.
Ia menggunakan pipa buka tutup (sekarang kran) untuk mengisi kebutuhan air bersih mereka di kamar mandi. Apabila mereka mandi, pipa bisa dibuka dari bak penampung, selanjutnya mengalir ke kran kamar mandi dengan mudah dan praktis.
Kendati demikian masih ada keterbatasan yang belum ada solusi penyelesaian. Bak penampung di rumah keluarga de Klerek terisi oleh lumpur tebal. Akibatnya harus dibuat dua sumber penampung air bersih (kamar bilas).
Maka dari itu orang yang baru mandi di kamar mandi harus membilas dengan air bersih di kamar bilas sebelahnya.
Cara ini selain memastikan badan sudah bersih dari kotoran lumpur yang terbawa bak penampung, konon membilas menggunakan “kamar bilas” sangat disukai oleh orang Belanda.
Baca Juga: Asal-usul Orang Hadhrami di Batavia, Komunitas Timur Tengah yang Pandai Berdagang
Pasalnya mereka bisa bermain-main air terlebih dahulu karena kualitas air yang mengaliri kamar bilas lebih jernih, dingin, dan menyegarkan.
Air di kamar bilas juga menyehatkan badan, sehingga orang Belanda tak perlu khawatir gatal-gatal karena pengaruh lumpur yang tertinggal.
Sejarah Jamban di Batavia: Orang Belanda Tak Mampu Punya Kamar Mandi, Open Basin Jadi Alternatif
Bagi orang Belanda yang tidak bisa membangun kamar mandi seperti yang dibangun oleh keluarga Reiner de Klerek, biasanya punya alternatif membangun kamar mandi open basin. Artinya tempat mandi yang berada di dalam rumah tapi seluruh bangunannya terbuka tanpa atap.
Bangunan open basin hanya dikelilingi oleh dinding setengah teras yang mengalirkan limbah menggunakan pipa ke arah kali.
Mereka tidak menggunakan Septic tank untuk mengalirkan kotoran, tetapi langsung membuang limbah rumah tangganya ke sungai terdekat. Akibatnya mereka perlu mengeluarkan biaya pembelian pipa yang panjang.
Biasanya rumah dengan sistem kamar mandi open basin ini juga dicontoh oleh orang-orang Tionghoa di sekitar Molenvliet dekat dengan Glodok di Batavia.
Mereka membangun rumah dengan kamar mandi tanpa atap karena terbatas biaya, sedang memilih mandi di kali merupakan pelanggaran budaya yang berat bagi orang Tionghoa. Mereka mempercayai pamali dan tidak elok apabila membuang kotoran di sungai.
Kebanyakan keluarga Belanda yang punya Open Basin mendapatkan air dari sumber mata air Molenvliet. Daerah ini sekarang bernama Jalan Gajah Mada yang terletak di Jakarta Pusat. Pertanyaannya, apakah saat ini mata air tersebut masih ada? (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)