Sejarah perkembangan Islam Jawa di Keraton Yogyakarta berkaitan erat dengan munculnya istilah Islam Putihan dan Islam Abangan.
Kepercayaan Islam di Keraton Yogyakarta tidak sama seperti ajaran Islam saat ini, lantaran Islam Jawa di Keraton masih menyimpan kepercayaan mistik warisan leluhur Tanah Jawi.
Perkembangan Islam Jawa di Yogyakarta sudah ada sejak abad ke-13 masehi. Hal ini seiring dengan pengaruh Islam ke Nusantara yang dibawa oleh para Walisongo.
Ajaran Islam Jawa di sana terus berkembang hingga abad ke-20 masehi. Entah saat ini apakah ajaran Islam Jawa di Keraton Yogyakarta masih ada atau tidak, yang jelas masyarakat di tanah feodal itu masih punya keyakinan pada hal-hal yang mistik dan klenik.
Baca Juga: Sejarah Sekaten Yogyakarta, Pesta Rakyat Warisan Majapahit
Ajaran Islam Jawa tersebar merata di lingkungan Keraton. Tidak hanya terjadi di Keraton Yogyakarta saja, tetapi juga Islam Jawa begitu kental dengan tradisi dan kebudayaan Keraton yang ada di Solo.
Mereka menempatkan Islam Jawa sebagai pedoman hidup dan sumber pegangan untuk memerintah nagari.
Kendati demikian yang paling unik dari dampak penerapan Islam Jawa di Keraton antara lain terjadi di Yogyakarta. Sebab pada awal abad ke-20, Keraton Yogyakarta membuat para santri melaksanakan praktik mistik.
Pengurus keagamaan Keraton mengajak santri terlibat dalam tradisi memberikan persembahan pada leluhur Tanah Jawi sebagai perwakilan dari Tuhan di dunia.
Sejarah Islam Jawa di Keraton, Masih Mempercayai Praktik Mistik Leluhur
Menurut Mark R. Woodward dalam buku berjudul, “Islam Jawa: Kesalehan Normatif Versus Kebatinan” (1989), meskipun dalam ajaran Islam melarang adanya ritual mistik yang dipersembahkan kepada selain Allah SWT, para penganut ajaran Islam Jawa masih mempraktikkan itu tanpa merasa berdosa dan melanggar syariah Islam.
Para penghulu pada zaman Belanda bahkan membentuk santri yang bisa meregenerasi tradisi tersebut. Mereka ingin praktik mistik menyembah leluhur Jawa menjadi bagian dari cara orang Islam Jawa mensyukuri kehidupan dunia.
Kepercayaan ini bertujuan untuk memperingati jasa-jasa leluhur Jawa yang telah melahirkan generasi hingga saat itu.
Tokoh Islam Jawa mempercayai apa yang mereka lakukan itu adalah aktualisasi dari ajaran mistik para Wali. Ia meniru Walisongo mempelajari ilmu tasawuf atau ajaran klasik Islam untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sehingga memperoleh hubungan langsung secara dekat dengan-Nya atau istilah lain menyebut ini dengan nama Sufisme.
Dalam kepercayaan Islam Jawa, mereka meyakini tradisi sufi menjadi media ibadah yang bisa menyatukan bentuk Kejawian dan Kewalian.
Baca Juga: Sejarah Pemakaman di Jawa Tahun 1920, Penuh Klenik dan Pamali
Tujuannya untuk menghubungkan kepercayaan orang-orang Jawa pada Roh Makrokosmos dan Mikrokosmos. Hal ini terjadi akibat orang Islam Jawa tak bisa lepas dari hal mistik termasuk klenik.
Membagi Dua Kubu Santri Putihan dan Abangan
Demi mewadahi dua kelompok Islam yang saling bersilang paham, Keraton mengakomodasi dua kubu santri yang terdiri dari santri putihan dan santri abangan.
Selain untuk memberikan pengaman agar tidak saling berkonflik, tujuan pembentukan dua kubu santri tersebut juga agar pengaruh Islam di tanah Jawi berkembang secara merata. Mengingat waktu itu ajaran Hindu-Buddha masih kuat di lingkungan sekitar Keraton.
Santri abangan identik dengan Islam Jawa. Abang yang berarti merah mencerminkan hawa nafsu atau dalam konteks Islam Jawa masih berada pada syariat Islam yang berasal dari campuran tradisi dan budaya Hindu-Buddha (sinkretisme).
Sedangkan kelompok kedua santri putihan direpresentasikan sebagai kelompok Muslimin yang anti terhadap pengaruh Hindu-Buddha.
Sebab menurut mereka warisan kepercayaan Hindu-Buddha mengandung sifat bid’ah dan haram bagi kehidupan seorang Muslim sejati. Rata-rata santri putihan tinggal di sekitar masjid besar Keraton atau kini yang kita kenal dengan sebutan masjid kauman Yogyakarta.
Meskipun di awal pembagian dua kubu santri berdasarkan keyakinan ini merupakan solusi untuk menjaga kerukunan umat Islam di sekitar Keraton, nampaknya tanpa kita sadari lebih jauh hal ini justru merupakan sumber legitimasi yang menjadi basis otoritas Keraton. Seolah-olah Keraton merupakan objek Kehendak Tuhan dan Kekuatan Ghaib yang harus dihormati dan dipatuhi.
Baca Juga: Sejarah Kuliner Keraton Jogja, Makanan Kesukaan Raja Terpengaruh Budaya Eropa
Mempercayai Kekuatan Ratu Pantai Selatan
Islam Jawa atau yang saat ini kita kenal dengan Islam Abangan mempercayai kekuatan gaib dari Ratu Pantai Selatan alias Nyi Roro Kidul.
Hal ini merupakan warisan mitologi yang diciptakan oleh Keraton manakala tengah menjelaskan isi dari dua karya sastra fenomenal berjudul Babad Tanah Jawa dan Serat Cebolek.
Dalam Babad Tanah Jawa terdapat penguasa Mataram bernama Pangeran Senopati. Ia merupakan putra mahkota Sultan Pajang yang mengaku telah mendapat wahyu dari semesta untuk memimpin Tanah Jawa.
Ia bersemedi di tengah lautan dan menyebabkan penguasa pantai Selatan terganggu. Karena Pangeran Senopati sakti, Nyi Roro Kidul memohon agar Pangeran Senopati tidak melanjutkan semedinya.
Akhirnya Pangeran Senopati menghentikan semedinya di tengah laut. Ia kemudian dekat dengan Nyi Roro Kidul karena sering berdiskusi tentang bagaimana menjadi seorang Raja.
Kedekatan ini membuat mereka saling jatuh hati hingga pada akhirnya dua kekuatan sakti di Tanah Jawa tersebut menikah.
Selama 4 malam berada di istana Ratu Pantai Selatan akhirnya Pangeran Senopati meninggalkan lautan. Ketika mendarat di pesisir Parangtritis Yogyakarta, ia menemui seorang Wali yang sedang semedi bernama Sunan Kalijaga.
Sang Wali memberi nasihat pada Pangeran Senopati, Sunan Kali tidak ingin melihat pewaris Mataram takabur dengan kekuasaan ilmu kesaktian yang dimilikinya.
Penggalan kisah legenda tersebut begitu populer di kalangan penganut kepercayaan Islam Jawa. Sebagian dari pengikut Islam Jawa mempercayai cerita ini sebagai dasar alasan mengapa mereka masih mempercayai kisah klenik hingga saat itu.
Sebab tokoh panutan yang ada dalam Babad Tanah Jawa saja memiliki ikatan batin yang kuat dengan kekuatan gaib yang bersifat kosmologis. (R7/HR-Online/Editor-Ndu)