Sabtu, April 5, 2025
BerandaBerita TerbaruLe Mayeur de Merpres, Saat Pelukis Belgia Tergila-gila pada Wanita Bali

Le Mayeur de Merpres, Saat Pelukis Belgia Tergila-gila pada Wanita Bali

Pada pertengahan abad ke-20 di Bali, terdapat seniman asal Belgia bernama Le Mayeur de Merpres yang menggegerkan dunia seni lukis di Hindia Belanda. Karya-karya yang kebanyakan berbasis seni rupa itu berisi tentang lukisan-lukisan kisah cintanya dengan wanita Bali bernama Ni Pollok.

Menjadi geger karena orientasi lukisan berlatar belakang asmara dengan warga lokal di Bali cenderung baru. Le Mayeur berhasil menciptakan ruang baru untuk menaruh seni lukis menjadi perhatian banyak orang di Pulau Dewata.

Ketika ia jatuh cinta dengan Ni Pollok, ijab kabul pernikahan pun langsung menyertai keduanya. Mereka berdua menikah dengan adat Bali yang meriah, sementara pria paruh baya asal Belgia tersebut mengikuti seluruh rangkaian upacara tradisinya dengan baik.

Baca Juga: Sejarah Pos Bloc: Gedung Eks Kantor Pos Belanda, Kini Jadi Cafe

Kecintaan Le Mayeur terhadap Bali juga nampak saat ia memilih tinggal di sekitar pantai Sanur. Cita-cita besarnya ingin hidup berdua bersama Ni Pollok dan menghabiskan waktu untuk melukis serta berkolaborasi membuat karya seni di pesisir pantai Sanur.

Seniman yang juga piawai membuat konstruksi bangunan tradisional Bali ini kemudian membangun sebuah istana kecil di pesisir Sanur. Kendati rumah mereka relatif kecil tapi isi perabotan dan beberapa pernak-pernik rumah tangga lainnya begitu mewah dan menakjubkan.

Hampir di semua sudut ruangan berisi relief-relief ukiran khas Bali karya Le Mayeur sendiri. Selain itu ada pula puluhan lukisan yang terpajang di studio lukis sederhananya. Siapa pun yang berkunjung ke rumahnya membuat mereka betah menikmati karya seni buatan Le Mayeur tersebut.

Kisah Le Mayeur de Merpres di Bali, Awal Pertemuannya dengan Ni Pollok

Menurut Agus Dermawan T dalam majalah Gatra, 21 Januari 1995 berjudul, “Balada Le Mayeur di Sanur: Museum Le Mayeur sedang sekarat. Sejumlah lukisan rusak. Padahal harganya bisa Rp. 300 juta sebuah”, Le Mayeur de Merpres adalah pelukis Belgia yang pada tahun 1932 menetap di Bali.

Perkenalan awal bersama istri tercintanya Ni Pollok ketika ia tinggal di Sanur dan sedang melukis. Perkenalan mereka berdua semakin akrab hingga “pelukis jutawan” tersebut memberanikan diri meminangnya.

Dari perkenalannya sejak awal 1932, Ni Pollok baru resmi menikah dengan Le Mayeur de Merpres pada tahun 1936. Ketika Ni Pollok sudah tinggal bersama dengan Le Mayeur di Sanur, seniman asing serba bisa ini membangun rumah artistik dan menjadikan Ni Pollok sebagai model setiap karya lukisnya.

Bahkan pengamat seni rupa senior Agus Dermawan T mengaku, “kalo ada 10 canvas lukisan isinya perempuan semua, sudah bisa kita pastikan model (perempuan) tersebut adalah Ni Pollok. Istri Le Mayeur de Merpres“.

Menariknya Ni Pollok tidak pernah protes ketika si suami menjadikan model untuk karya lukisnya. Bahkan wanita asal Bali tersebut pernah bermain tablo berjam-jam di bawah sengatan matahari panas Sanur hanya untuk menjadi model lukisan Le Mayeur.

Baca Juga: Transmigrasi Jawa-Sumatera, Kebijakan Belanda yang Memaksa

Selain itu Ni Pollok juga rela menceburkan diri di kolam berisi ikan dan kodok untuk eksperimen lukisan lelaki tercintanya.

Selain itu, hal yang lebih ekstrim, Le Mayeur pernah memaksa Ni Pollok untuk tidak punya anak dari perkawinannya. Sebab Le Mayeur ingin tetap melihat body istrinya yang “good looking“.

Suami Jadi Seniman Terkenal, Ni Pollok Ikut Berbangga Hati

Ketika Le Mayeur menjadikan istrinya sebagai model lukisan, seluruh karya-karya yang ia pajang di pameran mengundang sejumlah perhatian banyak orang di Bali.

Satu di antara mereka terkagum-kagum dengan lukisan Le Mayeur. Sebab baru kali ini ada pelukis yang menjadikan istri sendiri sebagai model. Lebih uniknya lagi si istri mau bekerjasama untuk menciptakan lukisan menarik tersebut.

Alhasil ketika mendapat respon tersebut banyak karya-karya Le Mayeur yang laris di pasaran seni rupa Bali pada tahun 1950-an.

Selain mengundang banyak perhatian orang, Le Mayeur juga sempat menuntun jalan kesenian Sukarno untuk ikut mengoleksi lukisan-lukisannya di istana kepresidenan RI.

Saat wartawan Gatra menemui Ni Pollok untuk wawancara, kekasih Le Mayeur tersebut mengaku ikut berbangga hati atas keberhasilan sang suami yang menjadikannya model lukisan. 

Ia juga sempat tertegun tatkala salah satu karya lukis Le Mayeur yang menggambarkan dirinya laris diboyong Presiden Sukarno.

Kesetiaan Ni Pollok dalam memperjuangkan kesuksesan bersama dengan suami tersimpan baik dalam memori buku Paul de Bont berjudul, “Pollok, Hemelnimf en Hibiscus Aan de Lagune”.

Buku ini berisi foto-foto tentang Ni Pollok saat menjadi model lukis Le Mayeur. Dalam buku itu ada pula penjelasan khusus tentang rahasia hubungan romantis Ni Pollok dan Le Mayeur yang menginspirasi banyak orang. 

Karena buku tersebut, Ni Pollok mendadak terkenal di Eropa hingga membuat ingin bertemu dengannya di Bali.

Baca Juga: Profil Kyai Sadrach, Penginjil Mantan Santri Zaman Belanda

Pelukis Asing di Bali Jadi Jutawan

Le Mayeur de Merpres terkenal sebagai pelukis asing satu-satunya di Indonesia yang jadi jutawan. Ia berhasil menjadi pelukis sukses karena karya-karyanya banyak peminat.

Tak sedikit kolektor seni rupa terkenal di Indonesia seperti Presiden Sukarno ikut terlibat dalam perburuan karya-karya Le Mayeur.

Eksistensi Le Mayeur sebagai pelukis nampaknya langgeng hingga tahun 1990-an. Hal ini terlihat dari proses lelang karya Le Mayeur di bursa seni lukis dunia yang menawar karya Le Mayeur seharga Rp. 300 juta satu buah. Padahal ukurannya kecil, tak lebih dari seretang tangan orang dewasa.

Sayang setelah Le Mayeur wafat pada tahun 1958 banyak karya lukisnya terbengkalai. Ni Pollok sang istri tak paham cara merawat karya seni berbasis lukisan, yang ia pahami hanya menyimpan dan mengatur suhu kelembaban studio lukis.

Oleh sebab itu banyak di antara puluhan karya Le Mayeur yang rusak. Apalagi setelah Ni Pollok mangkat pada tahun 1985. Semua aset-aset keluarga Le Mayeur sepenuhnya jadi milik pemerintah Bali. Mengingat mereka berdua tidak punya keturunan yang berhak mewarisi harta kekayaan. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Pelaku Curas

Empat Pelaku Curas terhadap Pria Disabilitas di Sumedang Berhasil Ditangkap

harapanrakyat.com,- Empat pelaku curas (pencurian dengan kekerasan) terhadap seorang pria disabilitas berinisial AK (26) di Sumedang, Jawa Barat, berhasil ditangkap jajaran Satreskrim Polres Sumedang. Uniknya,...
Hari Jadi Desa Jajawar

Mengintip Keseruan Warga Ngubyag Balong Saat Hari Jadi Desa Jajawar Kota Banjar

harapanrakyat.com,- Mengintip keseruan masyarakat saat ngubyag balong atau menangkap ikan bersama-sama di empang dalam merayakan Hari Jadi Desa Jajawar ke-19, di Kecamatan Banjar, Kota...
Ratusan Penumpang Berdesakan Naik Bus di Terminal Ciakar Sumedang

Arus Balik Lebaran, Ratusan Penumpang Berdesakan Naik Bus di Terminal Ciakar Sumedang

harapanrakyat.com,- Lima hari pasca Lebaran, penumpang arus balik di Terminal Tipe A Ciakar Sumedang, Jawa Barat, mengalami lonjakan, Sabtu (5/4/2025). Bahkan, ratusan penumpang tampak...
Obyek Wisata Batu Peti

Obyek Wisata Batu Peti Kota Banjar Mulai Diminati Pengunjung Saat Libur Lebaran

harapanrakyat.com,- Momen libur Lebaran 2025, obyek wisata Batu Peti yang berlokasi di Dusun Muktiasih, Desa Sukamukti, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, Jawa Barat, mulai banyak...
Kabinet Prabowo

Rumor Najwa Shihab Masuk Kabinet Prabowo, Diduga karena Absen Kritik Pemerintah

Jurnalis Najwa Shihab baru-baru ini menjadi perbincangan. Pasalnya Najwa dirumorkan akan masuk kabinet Prabowo. Dugaan tersebut muncul karena Najwa yang biasanya vokal mengkritik pemerintah,...
Tarian Bagi-bagi THR

Viral Tarian Bagi-bagi THR Mirip Tarian Bangsa Yahudi, Begini Asal Usulnya!

Salah satu tradisi masyarakat muslim di Indonesia yang tak bisa dihilangkan saat momen Idul Fitri yakni bagi-bagi tunjangan hari raya atau THR. Pada Lebaran...