Namanya kerap bersinar di podium-podium partai politik Islam khususnya Nahdlatul Ulama (NU). Ia seorang putera bangsa yang lahir dari keturunan pendiri NU KH Hasyim Asy’ari. Paman Presiden RI ke-4 Gusdur itu bernama KH Muhammad Yusuf Hasyim.
Adik bungsu KH Abdurrahman Wahid tersebut berbeda pengalaman dengan ayah, kakak, dan keponakannya dalam memperjuangkan kesejahteraan bangsa, sebab ia adalah anak satu-satunya KH. Hasyim Asy’ari yang merupakan mantan kombatan perang kemerdekaan tahun 1945-1949.
Tidak seperti kyai-kyai pedesaan pada umumnya, KH. Muhammad Yusuf Hasyim terlatih menggunakan senjata dan mengatur strategi gerilya. Namun setelah Indonesia bebas dari cengkraman Belanda sejak 27 Desember 1949 membuat ia mendadak mundur dari dunia kemiliteran.
Baca Juga: KH Sholeh Darat, Guru Pendiri NU dan Muhammadiyah
KH Muhammad Yusuf Hasyim akhirnya mengundurkan diri dari karir militer dan berstatus kombatan perang.
Ia lebih memilih memperjuangkan kesejahteraan bangsanya melalui jalur politik. Nama KH. M. Yusuf Hasyim muncul menjadi tokoh besar dalam partai NU setelah Pemilu pertama tahun 1955.
Profil KH Muhammad Yusuf Hasyim, Mantan Kombatan Perang Itu Paman Gusdur
Menurut pendapat politisi senior Panda Nababan dalam buku berjudul, “Panda Nababan Lahir Sebagai Petarung: Sebuah Otobiografi, Buku Satu Menunggal Gelombang” (2021), KH Muhammad Yusuf HAsyim adalah seorang veteran perang kemerdekaan dengan pangkat terakhir Letnan Satu.
Ketika masih aktif dalam dunia kemiliteran ia terkenal sebagai pemimpin pasukan yang pemberani. Selain sebagai keturunan tokoh pendiri organisasi NU, KH Muhammad Yusuf Hasyim banyak dihargai oleh anak buah karena sifat dan tindakan bijaksananya di medan pertempuran.
Salah satu kebaikan dan pertanggung jawaban sebagai seorang komandan pasukan gerilya, Lettu. Muhammad Yusuf Hasyim selalu tampil terdepan untuk menaklukan musuh-musuhnya.
Tak peduli dengan tingkat kebahayaan seorang frontier, keyakinan dan tekad seorang prajuritnya mengalahkan rasa takut itu semua.
Namun karena Indonesia agak relatif aman setelah Belanda mengakui kedaulatan RI pada 27 Desember 1949, figur Kyai yang tak bisa diam itu memilih banting setir terjun ke ranah politik untuk memperjuangkan kesejahteraan masyarakat.
Baca Juga: Akhir Hayat Pangeran Diponegoro: Kena Malaria, Wafat di Makassar
Ia mundur dari dinas ketentaraan pada tahun 1956 dan menjadi anggota partai Nahdlatul Ulama. Prinsip KH. Muhammad Yusuf Hasyim ini pilih karena pada tahun sebelumnya pasca Pemilu 1955 NU menjadi salah satu partai menang dan masuk dalam jajan 3 besar.
Ia ingin menajamkan gagasan ke-Islamannya dalam perjuangan politik di partai NU. Tak butuh waktu yang lama, upaya itu nampaknya berhasil. KH Muhammad Yusuf Hasyim sukses membawa NU ke tingkat politik papan atas pada tahun 1967.
Kyai pemilik julukan Pak Ud ini kemudian diangkat oleh pemerintah pusat menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR).
Kendati sudah nyaman duduk di kursi pemerintahan tak membuat Pak Ud menjadi oposisi. Ia justru semakin vokal dan kritis dalam menghadapi persoalan pemerintah di rezim Orde Baru.
NU Garis Keras, Musuh Besar Suharto dan Rezim Orde Baru
Selain memberikan pendidikan kader pada anggota NU lainnya, nampaknya KH Muhammad Yusuf mewariskan api semangat perjuangan politiknya pada pemuda bernama Subchan ZE.
KH Muhammad Yusuf Hasyim menjalin kontak politik dengan Subchan secara intens. Mereka berdua sama-sama memusuhi rezim Orde Baru. Bagi Subhan dan KH Muhammad Yusuf, pemerintahan Suharto sudah tidak beres.
Banyak kolusi, korupsi, dan nepotisme di mana-mana. NU harus bergerak dan berkontribusi mengarahkan pada jalan yang lurus.
Karena aktivitas politiknya yang semakin keras, mereka berdua terkenal sebagai tokoh NU garis keras. Selain vocal terhadap sesama pemangku kebijakan di podium dewan, KH Muhammad Yusuf Hasyim dan Subchan ZE sering mengkritik Suharto sebagai penguasa rezim otoriter.
Mereka berani mengkritisi karena selain punya nyali politik, kedua tokoh NU ini merupakan pengusaha tersohor.
Seperti Subchan ZE misalnya, pemuda NU yang penuh dengan keberanian ini merupakan seorang pengusaha kaya yang punya rumah di dekat Masjid Sunda Kelapa sekitar Menteng.
Begitu juga dengan KH Muhammad Yusuf Hasyim, selain menjadi anak keturunan langsung pendiri NU, paman Gusdur ini juga adalah seorang pengusaha yang kaya.
Ia sering mengundang Subchan dan kawan-kawan aktivis NU berkumpul di rumahnya dekat dengan Taman Cut Mutiah, Menteng. Perkumpulan ini kemudian menjadi incaran intel Suharto dan kena cap NU garis keras.
Baca Juga: Sejarah Islam Abangan di Surakarta, Ajaran Mistik Syekh Siti Djenar
Dukun Suharto Menghabisi Kekuatan NU Garis Keras
Konon mesin politik Suharto yang dikemudikan oleh dua Jenderal tangguh nan menyeramkan: Jend. Ali Moertopo dan Letjend. Soedjono Hoemardani, menumbangkan kekuatan NU pimpinan Pak Ud (garis keras) dengan cara menggunakan dukun.
Maksud dukun di sini adalah anak buah kepercayaan Suharto yang bertugas menghabisi NU kelompok KH Muhammad Yusuf Hasyim dan Subchan ZE. Mereka adalah dua jenderal di atas yaitu Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani.
Dua budak suruhan Suharto menghabisi NU hampir di seluruh pulau Jawa. Namun daerah yang paling kena dampak luas yaitu basis NU di Indramayu, tepatnya di desa Losarang. Sebagaimana liputan berita milik Panda Nababan, daerah ini tempat paling parah mengalami kehancuran.
Pembakaran rumah-rumah orang-orang NU dan masjid menjadi persoalan yang memicu kemarahan umat Islam pada Suharto. Puncak kemarahan masyarakat NU ketika mereka melihat ada selebaran Al-Qur’an berserakan di pinggir jalan sekitar tempat kejadian.
Pak Ud mengantongi berkas-berkas berisi laporan pengakuan warga NU di sana tentang siapa saja yang terlibat dalam peristiwa kelam tersebut.
Terutama di daerah Indramayu ada dugaan Pak Ud, selain aparat militer, rezim Suharto juga menggunakan organisasi mantel militer seperti Angkatan Muda Siliwangi. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)