Kapten Westerling adalah pasukan elit Belanda yang berasal dari satuan Baret Hijau. Satuan ini terkenal sebagai pasukan khusus perang yang kejam. Siapapun yang jadi musuhnya bisa terbunuh dalam waktu sekejap.
Pemerintah Belanda sengaja menyiapkan pasukan Baret Hijau sebagai pembunuh darah dingin. Mereka (Belanda) dengan bangga mempersembahkan pasukan tersebut untuk menjalankan aksi polisionil, mengamankan rakyat Hindia Belanda dari pengaruh ekstrimis yang memusuhi pemerintah kolonial.
Terjunnya Kapten Westerling sebagai komandan dari satuan Baret Hijau di Hindia Belanda terjadi sepanjang peristiwa Agresi Militer pada tahun 1946-1948. Ketika ia bertugas di Makassar banyak penduduk di Sulawesi Selatan yang tewas sia-sia oleh pelurunya.
Baca Juga: Kisah Buruh Batik Jadi Priyayi Cilik di Surakarta Tahun 1919-1922
Karena peristiwa penembakan yang sering terjadi membabi buta dari Baret Hijau, sebagian penduduk Makassar saat itu mengenal Kapten Westerling sebagai pembunuh berdarah dingin.
Selain bermasalah dengan rakyat Makassar, Westerling juga punya dendam pribadi dengan Sukarno. Fakta menariknya Westerling pernah merencanakan pembunuhan pada Sukarno beberapa kali. Sukarno tanpa sadar menjadi incaran utama Westerling yang berbahaya.
Asal Usul Kapten Westerling
Menurut Walentina Waluyanti De Jonge dalam buku berjudul, “Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen” (2013), Kapten Westerling berasal dari pasukan DST (Depot Speciale Troepen).
Pasukan ini merupakan satuan khusus untuk menghadapi daerah konflik, kebetulan saat itu Hindia Belanda menjadi daerah yang sedang perang.
Melalui perintah komandan tinggi DST di Belanda akhirnya Kapten Westerling terpilih memimpin aksi polisionil di Makassar periode Desember 1946 sampai dengan Februari 1947.
Semenjak kedatangan Kapten Westerling di Makassar, banyak penduduk yang mati sia-sia mereka terbunuh akibat ulah Westerling yang frontal.
Pria bertubuh tegak dan rupawan ini nampaknya komandan Baret Hijau yang paling tega dan kejam di Makassar.
Seluruh orang Makassar takut pada Westerling sebab tak tanggung-tanggung ia bisa membunuh semua yang tertuduh ekstrimis meskipun itu adalah keluarga kerajaan di daerah tersebut.
Adapun salah satu korban Westerling adalah ayah dan kakak sejarawan senior Dr. Anhar Gonggong. Peristiwa pembantaian oleh Westerling di Makassar merupakan aksi kejahatan perang. Belanda harus bertanggung jawab atas peristiwa ini dan negara kincir angin tersebut harus mengutuk Westerling sebagai pelaku kejahatan.
Baca Juga: Sejarah Weltevreden, Pemukiman Elit Eropa di Batavia
Selain keluarga pak Anhar yang jadi korban Westerling, orang Makassar juga mengingat peristiwa kejam Westerling di sana yang paling tragis ketika ada dua orang tertuduh ekstrimis. Westerling menembak salah satu di antara dua orang itu setelah mereka duel di depan penglihatannya. Siapa yang kalah maka itulah tersangkanya.
Masa Kecil Kapten Westerling yang Penuh Kekejaman
Masih menurut Walentina Waluyanti De Jonge, kekejaman Westerling di peristiwa Makassar nampaknya bisa kita lihat dari pendidikan psikologisnya sejak kecil yang penuh dengan aksi kekejaman.
Nama asli Westerling adalah Raymond Paul Pierre Westerling, ia lahir di Bosphorus Istanbul, Turki pada 31 Agustus 1919. Ayahnya merupakan pedagang mebel dan barang antik keturunan Belanda dan Yunani.
Sedang ibunya merupakan ibu rumah tangga yang tak terlalu peduli dengan anak-anaknya. Dari sinilah permulaan Westerling kecil tumbuh menjadi dewasa yang berperilaku keji.
Sejak kecil ia sudah memiliki hobi yang aneh, Westerling cilik gemar mengumpulkan binatang-binatang menjijikan seperti, kadal, ular, tikus, dan berbagai serangga berbisa seperti tarantula. Menurut pengakuannya semua binatang itu lucu dan menggemaskan, Westerling sangat suka dengan mereka dan ingin memeliharanya di rumah.
Selain mengoleksi binatang menjijikan dan membahayakan, tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya Westerling sudah belajar menggunakan senjata api sejak umur 7 tahun. Saat itu ia mencuri-curi senjata milik orang tuanya yang tersimpan di laci kamar.
Sejak saat itu lah keberanian Westerling semakin tertantang. Ia tumbuh dewasa menjadi orang misterius, kawan-kawannya tak berani mem-bully apalagi memalaknya. Sebab Westerling remaja tak segan membalas dengan pukulan yang bisa mengakibatkan cedera bahkan kematian.
Baca Juga: Sejarah Pos Bloc: Gedung Eks Kantor Pos Belanda, Kini Jadi Cafe
Dendam Westerling pada Sukarno
Selain kejam pada penduduk Makassar, Kapten Westerling pernah punya dendam mendalam pada Sukarno. Westerling ingin menghancurkan citra Sukarno dalam kancah politik Indonesia dengan menuduhnya sebagai diktator komunis.
Tuduhan sebagai diktator komunis bertujuan untuk mendapatkan simpati dari kalangan Islam di Indonesia sekaligus dari dunia Barat.
Westerling melancarkan misi ini dengan ikut mendukung gerakan separatis Darul Islam (DI/TII) dan membentuk pasukan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).
Sukarno juga sempat beberapa kali mendapatkan percobaan pembunuhan oleh Westerling namun gagal. Akan tetapi Westerling tidak ingin terlihat kalah, saat wartawan Amerika mewawancarainya “kenapa Anda tidak bisa membunuh Sukarno” jawabannya, “Peluru saya terlalu mahal untuk menghabisi Sukarno. Tembak Sukarno bisa rugi 30 Sen”.
Setelah Republik Indonesia mendapatkan pengakuan merdeka dari dunia, Westerling pulang ke Belanda dan menghabiskan banyak waktu hingga pensiun di angkatan perang negara tersebut. Ia wafat akibat serangan jantung pada tahun 1987.
Mantan Pasukan Baret Hijau yang bengis ini meninggal pada usia 68 tahun. Tragisnya sebelum Westerling meninggal ia sempat mendapatkan tekanan dari pengusung HAM (Hak Asasi Manusia).
Ia tertekan karena pernah melakukan kejahatan perang. Westerling harus bertanggung jawab terhadap kejahatan di Indonesia sepanjang tahun 1946-1948. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)