Berdasarkan laporan kolonial Hindia Belanda, Boven Digoel merupakan kamp pengasingan yang berada di Indonesia bagian Timur. Tepatnya Boven Digoel searah dengan jalan dari Jawa menuju ke Papua saat ini. Selain menjadi rumah tahanan, Boven Digoel adalah tempat menyeramkan karena dahulu masih hutan belantara.
Pemerintah kolonial banyak membuang orang-orang jahat (pemberontak) ke tanah ini. Rata-rata mereka yang terbuang ke Boven antara lain aktor politik kiri yang berafiliasi dengan organisasi komunisme.
Bahkan sejarah kolonial mencatat terbentuknya Boven Digoel jadi tempat pengasingan karena peristiwa pemberontakan komunis tahun 1926-1927.
Pasca pemberontakan mereda, tentara Belanda berhasil meringkus sebagian aktor politiknya. Sekitar 13.000 orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
Baca Juga: Sejarah Boven Digoel, Kamp Tahanan Paling Seram Zaman Belanda
Karena terkendala akomodasi (sel penjara) pemerintah kolonial mengirim mereka ke kamp pengasingan.
Setelah mendengar dari berbagai cerita tentang Boven Digoel, banyak masyarakat takut. Jangankan ingin ke sana untuk melihat bagaimana sebenarnya situasi di Boven Digoel, sekedar mendengar namanya pun membuat orang “bergidik”.
Apalagi ketika tentara Belanda menjelaskan pengertian dua wilayah di Boven Digoel, tanah merah dan tanah tinggi. Menurut berbagai sumber sejarah, dua wilayah ini adalah kelas penjara untuk para pemberontak.
Bagi mereka yang punya rekam jejak politik membandel biasanya akan berada di tanah merah, tetapi bagi tahanan politik yang kooperatif akan tinggal di tanah tinggi. Lalu apa sebenarnya perbedaan dari dua tempat tersebut?
Kamp Pengasingan Boven Digoel, Tempat Menghukum Pemberontak Komunis
Menurut Harry A. Poeze dalam buku berjudul, “PKI SIBAR: Persekutuan Aneh antara Pemerintah Belanda dan Orang Komunis di Australia 1943-1945” (2014), Boven Digoel bukanlah penjara tertutup sebagaimana sel-sel di kantor polisi. Melainkan di sana adalah tanah pengasingan tempat menghukum para pemberontak.
Salah satu di antara pemberontak itu adalah orang-orang komunis pada tahun 1926-1927. Seluruh tokoh politik kiri yang ikut menimbulkan kerusuhan tertangkap Belanda, mereka memperoleh interogasi yang ketat.
Hal ini membuat sebagian dari orang-orang komunis waktu itu tertekan oleh hal ini, sehingga harus menjalani masa pengasingan di kamp Boven Digoel.
Boven Digoel terbuka menjadi tanah pengasingan milik Belanda sejak tahun 1927. Kala itu tidak lain untuk membuka lahan di daerah itu yang masih hutan belantara. Bahkan untuk melancarkan ini Belanda membebaskan para tawanannya bekerja apa saja di kamp pengasingan.
Baca Juga: Leo Andries Lezer, Tentara Belanda Pecinta Budaya Sunda
Untuk mendukung interaksi sosial sesama penghuni kamp, Belanda membuat 1 masjid dan 2 gereja di Boven Digoel. Tempat peribadatan umat Islam dan Kristen ini berlaku untuk membantu para tentara Belanda di sana mengawasi kegiatan politik para interniran Digoel.
Kamp pengasingan Boven Digoel terbentuk sesuai dengan maklumat Gubernur Hindia Belanda Pasal 37 Indische Staatsregeling (Konstitusi Hindia) tentang legalitas sang Gubernur Jenderal menggunakan kekuasaannya, mengirim orang yang dianggap mengancam negara. Mereka berhak mendapatkan hukuman “pengasingan”.
Dua Tempat Pengasingan: Tanah Merah dan Tanah Tinggi
Perbedaan antara dua tempat pengasingan di Boven Digoel (Tanah Merah) dan (Tanah Tinggi) bisa kita lihat dari peraturan yang ada. Jika kita bersumber pada catatan kolonial di pertengahan abad ke-20, dua tempat pengasingan di Boven Digoel terbentuk dari penggolongan kelas pemberontakan.
Jika mereka ada di kelas 1 (tingkat pertama pelaku pemberontak) maka pemerintah akan menempatkan aktor ini ke Tanah Merah. Menurut Takashi Shiraishi dalam buku berjudul, “Hantu Digoel: Politik Pengamanan Politik Zaman Kolonial” (2001), tanah merah adalah tempat para tahanan berat.
Biasanya berisi gembong komunis atau tokoh berpengaruh yang jadi aktor penggerak kerusuhan (pemberontakan).
Mereka tidak bisa kerjasama dengan pemerintah Belanda. Karena ini tentara kolonial menempatkan mereka di Tanah Merah. Tidak ada pengawasan ketat bagi mereka yang tinggal di sini.
Sebab selain karena sulit akses karena medan yang hancur, lokasi Tanah Merah juga masih banyak binatang buas dan penyakit berbahaya saat itu yakni serangan Malaria.
Hal ini yang menyebabkan banyak korban tewas setelah di Tanah Merah. Saking tak ada yang mengontrol ke sana, mayat orang meninggal di Tanah Merah tergeletak begitu saja.
Sedangkan Tanah Tinggi adalah tempat untuk tahanan politik yang rendah keterlibatan. Mereka juga mau kooperatif dengan Belanda untuk bekerja membuka lahan Boven Digoel.
Hidupnya sedikit enak dari penduduk yang ada di Tanah Merah. Bahkan sampai ada tentara yang menjaga ketat pintu masuk kamp dan bertugas melindungi para tahanan.
Baca Juga: Akhir Hayat Pangeran Diponegoro: Kena Malaria, Wafat di Makassar
Pengasingan Tahanan Politik Nasional
Setelah kamp Boven Digoel terisi oleh orang-orang komunis tahun 1926-1927, dua tempat menyeramkan ini pernah menjadi interniran tokoh politik nasional terkenal yaitu, Moh. Hatta dan Sutan Syahrir.
Pemerintah kolonial Belanda pernah mengasingkan mereka bersama-sama dengan tokoh lain di PNI-Baroe. Dalih Belanda menangkap dan mengasingkan Hatta-Sjahrir karena mereka telah mengganggu ketertiban umum dengan membangkitkan kembali partai politik yang kontra kolonial yaitu PNI.
Sebulan berada di kamp pengasingan Boven Digoel pemerintah Belanda memindahkan mereka berdua ke pulau Banda. Mereka melakukan ini karena khawatir di Boven Digoel dua tokoh penting nasional ini bisa mempengaruhi penduduk sana yang mulai damai.
Selain itu ada pula pendapat yang menyebut pemindahan Hatta-Syahrir ke Banda akibat Boven Digoel sudah overload.
Tempat ini penuh sesak karena ada 13.000 yang jadi tahanan kolonial akibat pemberontakan komunis. Sebagian dari jumlah itu berstatus digoelis atau orang-orang yang dibuang ke Boven Digoel. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)