Shodanco Soeprijadi merupakan Komandan Pleton Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar, Jawa Timur. Namanya begitu terkenal di kalangan para pejuang Indonesia karena pernah memimpin pasukan PETA se-Jawa Timur untuk memberontak Jepang.
Pemberontakan tersebut meletus pada tanggal 13 Februari 1945. Namun gagal karena ada mata-mata yang mengkhianati perjuangan mereka. Akibatnya sasaran pasukan Shodanco Soeprijadi lolos melarikan diri.
Kegagalan pemberontakan ini membuat hidup Soeprijadi menjadi misterius. Karena sebelumnya ia bertanggung jawab apabila upaya ini gagal.
Ada yang mengatakan sang Shodanco mati akibat dua sebab, pertama tertembak Jepang dan kedua binatang buas memangsanya.
Baca Juga: Kisah Pelukis Affandi, Selamat dari Maut karena Daun Pisang
Entah yang keduanya benar atau salah, yang pasti Shodanco Soeprijadi hingga kini belum tahu hilang karena apa. Kepergian Soeprijadi menjadi misterius, ke manakah sebenarnya Komandan Pleton PETA di Blitar ini?
Shodanco Soeprijadi Komandan Pleton PETA
Menurut Tatang Sumarsono, dkk dalam buku berjudul ”Didi Kartasasmita Pengabdian Bagi Kemerdekaan” (1993), Shodanco Soeprijadi merupakan seorang militer pangkat Komandan Pleton PETA yang ahli dalam bidang tembak-menembak.
Akibatnya ia berkembang menjadi prajurit PETA yang radikal. Main serang tanpa memikirkan panjang resiko yang akan kelak ia tanggung.
Soeprijadi juga terkenal sebagai sosok yang bengis pada musuh. Tak segan-segan membunuh Jepang dengan cara yang sadis.
Lantas sejak kapan Soeprijadi ini berkecimpung dalam dunia Militer? Masih menurut Tatang Sumarsono, dkk, Shodanco Soeprijadi tercatat sebagai Anggota PETA sejak bulan Oktober 1943 di Jawa Timur.
Ia bersama kawan-kawan satu angkatannya belajar keahlian Militer di daerah Blitar. Karena Soeprijadi dinilai berprestasi, Jepang kemudian memberikannya pangkat Komandan Pleton di satuannya.
Jepang memberikan pangkat inike pada Soeprijadi untuk menjaga teritorial mereka yang vital di daerah Jawa, Bali, dan Sumatera.
Artinya selain memiliki kewenangan menjaga Jawa Timur, Soeprijadi juga menguasai Pleton PETA yang ada di Bali dan Sumatera untuk menjaga satuannya masing-masing.
Pemberontakan PETA oleh Shodanco Soeprijadi
Pemberontakan PETA meletus disebabkan oleh beberapa hal. Namun paling utama penyebab perang ini berkecamuk lantaran tekanan tentara Jepang yang represif.
Mereka sering memperlakukan rakyat pribumi semena-mena di luar batas kemampuannya.
Jatuhnya menyiksa dan memanfaatkan tenaga mereka untuk penghematan sumber daya manusia dari tentara Jepang. Rakyat pribumi bahkan ada yang sampai digebuki hingga tewas akibat melawan atau hanya salah mengerti apa yang diperintahkan Jepang.
Selain itu, hal yang paling mengiris Shodanco Soeprijadi dan mencetuskan pemberontakan PETA di Jawa Timur yakni, terjadinya kerja paksa dari pribumi yang disebut dengan Romusha.
Karena peristiwa ini rakyat Indonesia menderita kesakitan dan kelaparan. Mereka tersiksa dan menderita. Badannya kurus kering dan terluka, bahkan sampai robek kulitnya sekalipun tidak ada yang berani menolong.
Para pekerja Romusha ini terus bergerak mengerjakan perintah Jepang sampai tak lagi kuat tenaganya dan tewas.
Jugun-ianfu
Sungguh mengerikan peristiwa ini. Namun ada lagi penyebab yang paling menimbulkan kemarahan pasukan Peta pimpinan Shodanco Soeprijadi. Jepang ternyata telah menipu gadis-gadis desa di Jawa Timur untuk jadi Jugun-ianfu.
Jepang menipu mereka dengan iming-iming akan memberangkatkannya ke Jakarta untuk menerima beasiswa sekolah. Alih-alih menerima biaya pendidikan dan belajar di sekolah, Jepang dengan tega menjadikan mereka wanita penghibur.
Baca Juga: Sejarah Toyota Kijang, Mobil Niaga yang Jadi Kendaraan Keluarga
Sejak saat itu Shodanco Soeprijadi mengumpulkan prajuritnya dan menginisiasi pemberontakan pada Jepang sejak bulan September 1944.
Menurut Joyce Lebra dalam buku berjudu, ”Tentara Gemblengan Jepang” (1988), gagasan ini ternyata disambut baik oleh seluruh prajurit di satuannya.
Akhirnya peristiwa ini mencapai puncaknya pada tanggal 13 Februari 1945. Pasukan Soeprijadi menyerang markas Jepang, namun gagal dan tidak tepat sasaran.
Lantas mereka ulangi lagi pada tanggal 14 Februari 1945 pada jam 3 malam ke markas perwira Jepang di Hotel Sakura.
Namun mereka juga gagal lagi sebab markas itu sudah kosong dan Jepang melarikan diri. Ternyata rahasia pemberontakan ini terbongkar, Soeprijadi akhirnya mengejar Jepang hingga ke hutan-hutan belantara di Jawa Timur. Bukannya menemukan titik terang, Soeprijadi dan kawan-kawannya justru terkepung Jepang di sana.
Shodanco Soeprijadi Menghilang Misterius
Setelah terkepung oleh Jepang di hutan belantara Jawa Timur, Soeprijadi tidak lagi terdengar kabarnya. Besar kemungkinan ia tertangkap dan ikut terhukum eksekusi mati oleh Jepang. Namun kabar ini masih simpang siur kebenarannya.
Hal ini terjadi karena ketika Presiden Soekarno hendak melantik Soeprijadi menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan pertama Republik Indonesia, keberadaannya masih terlacak berada di Blitar.
Baca Juga: Sejarah Pabrik Arak di Batavia, Orang Tionghoa Peracik Alkohol Langganan Belanda
Namun kabar Soeprijadi menghilang secara misterius semakin nyata. Peristiwa ini terjadi ketika Soekarno memanggil Soeprijadi untuk dilantik yang kedua kalinya. Ia tidak hadir dan ketika dicari pun tidak ada.
Menurut kabar teman-teman dari satuan militernya, Shodanco Soeprijadi menghilang misterius akibat dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama, Jepang membunuhnya, atau binatang buas memangsa Soeprijadi. Kemungkinan kedua ini mengingat Soeprijadi melarikan diri ke hutan belantara yang masih ada binatang buasnya.
Kendati demikian belakangan kabar pasti dari kawan satu pleton yang lolos menyebut komandannya tersebut gugur oleh Jepang.
Soeprijadi ditembak mati di perbukitan hutan gunung Wilis. Tak seorang pun yang tahu karena terkecuali dirinya karena Jepang merahasiakan ini untuk kepentingan diplomasi mereka dengan Sekutu. (R7/HR-Online/Editor-Ndu)