Sejarah mencatat pesantren Musthopawiyah menerapkan sistem pendidikan tradisional yang bersifat informal di daerah Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Sistem pengajaran pesantren ini tak lepas dari kaidah-kaidah Islam yang kuat.
Pengajaran dengan menggunakan kaidah-kaidah Islam seperti itulah yang kemudian mendasari pesantren ini menjadi lembaga pendidikan tradisional terkenal di Tapanuli Selatan. Namun ada yang paling menarik dari pesantren ini untuk kita ulas bersama.
Konon Pesantren Musthopawiyah pernah menampung berandalan eks-narapidana (Napi) kelas kakap dan berhasil taubat serta menjadi seorang ustad yang terkenal karena mendirikan pesantren.
Baca Juga: Bos Maspion Alim Markus: Lulusan SMP, Mulai Karir dari Tukang Sapu
Orang-orang di Tapanuli Selatan mengenal pesantren Musthopawiyah dengan sebutan “Kawah Candradimuka”. Artinya tempat penggemblengan para kriminal dan membawa mereka kembali ke jalan yang lurus.
Lantas siapakah napi tersebut dan bagaimana sejarah pesantren Musthopawiyah pertama kali berdiri?
Sejarah Berdirinya Pesantren Musthopawiyah
Mengutip pernyataan Agus Basri dalam Majalah Gatra Edisi 31 Desember 1994 bertajuk, ”Pesantren dengan Gubuk Derita”, menyebut awal berdirinya pesantren Musthopawiyah pertama kali berada di Kampung Tanobato pada tahun 1912.
Gagasan mendirikan pesantren Musthopawiyah berasal dari inspirasi Syekh Musthopa Hussein yang ingin mendirikan sistem pendidikan tradisional seperti milik sahabatnya di Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur pimpinan Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari.
Selama 13 tahun lamanya Sykeh Musthopa memimpikan hal tersebut. Karena usaha yang sungguh-sungguh dan semangat Islam yang kuat, Syekh Musthopa akhirnya sukses membangum pesantrennya sendiri dengan nama Musthopawiyah.
Menurut Agus Basri, pertama kali pesantren ini berdiri hanya sebatas bangunan dari anyaman bambu. Sangat sederhana, namun masih bisa dikatakan layak apabila kita membandingkannya dengan pesantren lainnya pada zaman itu.
Bangunan yang semula berdiri di Kampung Tanobatu itu nahas harus rela tergusur banjir pada tahun 1915. Oleh sebab itu bangunan ini pindah ke tempat lebih tinggi yang tak jauh dari Tanobatu dengan struktur pembangunan pondok yang sama seperti sebelumnya.
Di sela-sela mengisi kekosongan jam mengaji, biasanya Syekh Musthopa Hussein mengajak para santri-santrinya belajar menanam pohon. Mereka kemudian diberikan pengetahuan tentang tata cara menanam pohon dengan teknik modern.
Baca Juga: Profil Halim Perdanakusuma: Pilot Didikan Belanda, Gugur saat Bela NKRI
Selain mengembangkan pohon buah-buahan, para santri di pesantren Musthopawiyah juga menanam jenis pohon karet (Havea). Syekh Musthopa juga pernah mengirimkan salah satu santrinya untuk belajar pertanian dan perkebunan dengan teknik modern di Semenanjung Malaysia.
Berkembang Menjadi Pesantren Besar
Pesantren Musthopawiyah merupakan sistem pendidikan Islam tradisionalis yang tergolong unik. Pasalnya sekolah agama ini hanya menerima murid laki-laki saja, sedangkan Sykeh Musthopa enggan menerima murid dari golongan wanita.
Sepeninggal syekh Musthopa yang juga seorang mantan Anggota Konstituante tahun 1955, tongkat estafet kepemimpinan pesantren Musthopawiyah dipegang oleh anaknya KH. Abdullah Musthopa Nasution.
Pada masa kepemimpinan KH. Abdullah Musthopa Nasution, pesantren Musthopawiyah mengalami perkembangan yang begitu pesat. Hal ini karena Ia mengizinkan perempuan menjadi santriwati di pesantren sepuh tersebut.
Pada tahun 1990-an pesantren Musthopawiyah bahkan berkembang menjadi lembaga pendidikan tradisional yang memiliki 9.000 santri. Santri perempuan mendominasi penghuni pesantren Musthopawiyah.
Meskipun pada saat itu KH. Abdullah Musthopa Nasution memperbolehkan perempuan menjadi murid di pesantren Musthopawiyah, namun tradisi membangun pondok dari anyaman bambu warisan Syekh Musthopa tetap dipertahankan.
Pondok bambu yang biasa disebut para santri di sana dengan nama “Gubuk Derita” ini sengaja dibentuk sedemikian rupa. Bahkan para santri ini membangun 4000 pondok dari anyaman bambu klasik untuk tempat mereka beristirahat.
Baca Juga: Idrus, MC Kondang Diskotik Tahun 1970 yang Rajin Sembahyang
Pengurus pondok pesantren Musthopawiyah sengaja menempatkan para santri di bangunan sederhana tersebut. Konon tempat ini bisa mendidik mental mereka jauh lebih kuat dari sebelumnya. Intinya penderitaan bisa menciptakan manusia tangguh.
Menampung Berandalan Kelas Kakap
Dalam perjalanan sejarahnya pesantren Musthopawiyah pernah menampung berandalan kelas kakap.
Salah satunya merupakan mantan seorang nama bernama Cholil D. Nasution. Ia terkenal sebagai penjahat bekas pembunuh dan pengedar narkotika tersohor di Sumatera Utara.
Ketika ia sudah lolos dari masa hukuman di penjara, tiba-tiba Cholil si mantan penjahat ini hendak bertobat di masjid Musthopawiyah. Menurut kesaksian teman-temannya di Pesantren, Cholil 100% sudah tobat dan menjadi muslim yang taat.
Hal ini tercermin ketika Cholil berhasil menyelesaikan pendidikan di pesantren Musthopawiyah, ia kemudian mendirikan pesantren di daerah Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Masyarakat sekitar pesantrennya mengenal beliau dengan panggilan Ustad. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)