Pada tahun 1948 koran-koran kolonial Belanda menggegerkan masyarakat Priangan Timur. Dalam tajuk berita utama koran tersebut, jurnalis meliput tragedi pembantaian etnis Tionghoa di Padaherang (wilayah Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat).
Salah seorang penggembala yang sedang mencari rumput di kebun terkaget-kaget menemukan kuburan massal yang masih basah. Karena penasaran ia memanggil masyarakat dan kepolisian untuk memastikan isi dari kuburan massal tersebut.
Sesuai dengan dugaan awal, ternyata kuburan massal ini berisi jasad korban pembunuhan. Setelah masyarakat membongkar kuburan itu mereka lantas bingung. Sebab para korban tewas adalah satu kelompok keluarga orang Tionghoa di daerah Padaherang.
Baca Juga: Sejarah Pembunuhan Tionghoa di Pangandaran, 21 Orang Dikubur di Lubang Dangkal
Ada 21 orang Tionghoa yang tewas dalam tragedi ini. Konon pelaku pembunuhan ini menguburkan korbannya dalam satu liang lahat.
Adapun kisah yang memilukan dari tragedi tersebut adalah, terkuburnya jasad-jasad mereka dalam keadaan lubang kuburan yang dangkal.
Usut punya usut peristiwa ini berasal dari sebuah intrik politik Sekutu. Mereka mengadu domba etnis Tionghoa dengan pribumi yang radikal (ekstrimis).
Menurut Sekutu, etnis Tionghoa telah berkhianat pada pribumi, bahkan mereka memfitnah orang-orang Tionghoa akan ikut andil dalam kedaulatan Republik Indonesia.
Pembantaian Etnis Tionghoa di Padaherang Pangandaran pada Masa Revolusi Fisik
Berbagai surat kabar berbahasa Belanda menyebut pembantaian etnis Tionghoa di Padaherang terjadi seiring dengan meletusnya revolusi fisik tahun 1948. Mereka menuding kasus yang penuh dengan misteri tersebut sangatlah janggal.
Berita Nasional seolah mengajarkan sikap kritis pada masyarakat Indonesia untuk tidak tertipu adu domba politik Sekutu yang memboncengi Belanda hingga tahun 1949.
Mereka percaya tragedi pembantaian Tionghoa di Padaherang merupakan kebohongan motif. Tujuannya untuk mengadu domba golongan pribumi dan etnis Tionghoa di Priangan Timur.
Menurut koran “De Nieuwsgier” pada 5 November 1948, terdapat 21 jiwa yang melayang akibat peristiwa tersebut. Mereka tewas dalam keadaan yang mengenaskan dan sangat misterius.
Salah seorang penggembala yang sedang mencari rumput lah penemu mayat-mayat Tionghoa yang terkubur secara dangkal. Bahkan sesekali ada binatang bertaring seperti anjing dan kucing mendekati lokasi penemuan mayat tersebut.
Awalnya si penggembala ini tak curiga dengan isinya, namun seiring dengan banyaknya lalat dan gundukan tanah yang menjadi pusat bau busuk, membuat seluruh masyarakat di Padaherang terpaksa membongkarnya.
Kendati polisi setempat sudah menangani kasus ini, masyarakat Padaherang percaya pembunuhan 21 orang Tionghoa merupakan intrik politik yang Sekutu buat. Tujuannya untuk memicu kerusuhan antara golongan pribumi dengan Tionghoa.
Sekutu sengaja menyewa pembunuh bayaran yang berasal dari ekstrimis pribumi. Mereka membayar orang untuk menghabisi seluruh anggota keluarga Tionghoa di Padaherang.
Selain karena motif ingin menghancurkan kesatuan dengan pribumi, pembunuhan ini juga berasal dari adanya perasaan Belanda yang terdominasi.
Baca Juga: Sejarah Pangandaran Pasca Pendudukan Jepang, Pemerintahan Pindah dari Ciamis ke Cilacap
Mengadu Domba Pribumi dengan Golongan Timur Asing
Satu bulan setelah kasus ini berada di district kepolisian Tasikmalaja, latar belakang pembunuhan terdeteksi. Rupanya kasus pembunuhan etnis Tionghoa di Padaherang juga merupakan motif adu domba pribumi dengan golongan Timur Asing lainnya.
Sebab ada semacam ancaman bagi para pendatang dari negeri Timur Asing yang menyudutkan. Salah satunya ketika mereka terancam pulang (deportasi) ke negaranya akibat tidak memihak Belanda berkuasa kembali di Indonesia.
Seolah-olah Sekutu mengancam jika golongan Timur Asing tidak sepakat dengan keputusan Belanda, maka nasib dari orang-orang Timur Asing (Arab, India, Gujarat, Persia, dst) akan mengalami nasib yang sama dengan keluarga Tionghoa di Padaherang.
Kasus pembantaian Tionghoa di Padaherang Pangandaran sebetulnya tertutup. Tidak ada media yang bisa meliput.
Kebijakan tersebut berlaku untuk meredam amarah etnis Tionghoa lainnya di Indonesia. Alih-alih mematuhi aturan, media Belanda malah mengabarkan berita ini secara terbuka.
Konon awak media mengaku mendapat persetujuan jurnalistik atas arahan persetujuan pemerintahan Sekutu saat itu. Dari sini kita bisa lihat bagaimana kecurangan Belanda memainkan peran dalam tragedi berdarah tersebut.
Mereka justru ingin golongan etnis Tionghoa di seluruh Indonesia tahu kejadian kejam di Padaherang.
Saat itu koran “Het Nieuwsblad voor Sumatra” pada 5 November 1948 mengabarkan kejadian pembantaian Tionghoa di Padaherang dengan cara propagandis.
Penulis seperti menyudutkan pelakunya ialah pribumi, mereka ingin dua golongan ini saling berperang.
Kasus yang Jadi Misteri
Karena Sekutu yang mendalangi semua ini, tragedi pembantaian Tionghoa di Padaherang pada tahun 1948 masih menjadi kasus yang misteri hingga detik ini.
Tidak ada kelanjutan peradilan atas kasus ini, polisi malah menguburkan ulang jasad-jasad korban setelah selesai mengautopsinya.
Baca Juga: Sejarah Pengusaha Kopra di Pangandaran Diculik Jepang, Kuwu Sidamulih Tewas Dipenggal
Selain karena andil Sekutu yang menutup-nutupi data peradilan, kejadian ini menjadi misteri akibat tak selesai juga karena keadaan perang yang tak memungkinkan penyelidikan polisi untuk mencari siapa pelaku pembunuhan. Kala itu Indonesia masih menjadi negara yang mencari dukungan Internasional.
Oleh sebab itu polisi mengakhiri kasus ini dengan bijak. Mereka tidak meninggalkan mayat-mayat korban begitu saja, kepolisian district Tasikmalaya bahkan menguburkan ulang jasadnya dari kondisi sebelumnya yang tak layak.
Sebelum perang berkecamuk di Jawa Barat, seluruh etnis Tionghoa yang ada di Priangan Timur menghadiri pemakaman keluarga korban pembantaian di Padaherang.
Mereka turut mengupacarakan pemakaman layaknya kepercayaan Konghucu. Seluruh keluarga Tionghoa di Indonesia rela melepaskannya. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)