Konon orang Tionghoa merupakan pelaku sejarah dalam pembangunan pabrik Arak di Batavia. Beberapa catatan dan foto arsip menunjukan etnis China ini berperan penting dalam bisnis haram tersebut.
Sebagian pendapat mempercayai bahwa leluhur mereka handal meracik minuman beralkohol yang disukai oleh orang-orang Eropa. Adapun langganan mereka terdiri dari orang Belanda, Inggris, dan Spanyol.
Mengapa Inggris dan Spanyol kebagian jadi langganan racikan minuman alkohol (Arak) Tionghoa? Sebab orang-orang dari Timur Asing ini sudah ada di Nusantara jauh sebelum orang-orang Kaukasoid datang.
Bahkan catatan kolonial menyebut mereka datang lebih awal dari Belanda yang baru menginjakkan kakinya ke Batavia pada awal abad ke-17. Tepatnya ketika pembentukan kongsi dagang Hindia bernama VOC pada tahun 1602 masehi.
Baca Juga: Sejarah Kapiten Tionghoa, Pejabat Kolonial Belanda yang Dicemburui Pribumi
Lantas bagaimana sejarah lengkap tentang orang Tionghoa yang membangun pabrik Arak di Batavia? Berikut ini penjelasannya.
Latar Belakang Sejarah Pabrik Arak di Batavia
Jauh sebelum orang-orang Eropa datang ke Batavia golongan etnis Tionghoa sudah tinggal di sana. Di Batavia mereka membangun tempat pembuatan Arak. Selain untuk kebutuhan konsumsi Arak khas China ini dibuat untuk persembahan pada Dewa.
Dengan kata lain sebagai syarat untuk kelancaran tradisi dan adat istiadat orang-orang Tionghoa. Namun ketika orang Eropa datang ke Nusantara pada awal abad ke-17, pabrik ini dikembangkan untuk menjadi penghasil Arak konsumsi orang-orang Belanda.
Kebiasaan minum-minuman beralkohol bagi orang Belanda adalah candu. Mereka bisa menghabiskan berliter-liter alkohol dalam waktu satu hari saja. Kegilaan minum ini terbiasa sejak mereka berlayar di lautan luas.
Kapal tanpa perlindungan yang menutup membuat suhu badan para awak kedinginan. Oleh sebab itu mereka menghangatkannya menggunakan minuman beralkohol. Sesampainya di Batavia dengan Alkohol yang berlimpah seakan mereka disambut kebahagiaan hidup.
Karena selain sebagai konsumsi tatkala kedinginan, minuman alkohol berupa arak ini dijadikan objek utama saat mereka ingin bersenang-senang. Tak jarang Arak digunakan sebagai minuman pelepas stress sehabis berlayar.
Oleh karena itu filosofi Arak yang dikeramatkan dalam ajaran Tionghoa meluntur. Tradisi memuliakan Arak rusak akibat orang-orang Belanda yang datang dan mengkonsumsi minuman ini tanpa aturan. Mereka mabuk-mabukan dan melakukan hal-hal yang hina.
Parahnya lagi, orang Tionghoa sebagai penyedia Arak dijadikan sebagai peracik handal minuman beralkohol untuk orang-orang Belanda. Mereka kemudian diberikan modal untuk memperbaiki pabrik Arak supaya berproduksi lebih banyak lagi dari sebelumnya.
Baca Juga: Sejarah Sentiong dan Tradisi Pemakaman Tionghoa di Indonesia
Orang Tionghoa Sukses Jualan Arak
Karena banyak disukai orang-orang Belanda, etnis Tionghoa di Batavia terlanjur menggunakan Arak sebagai jembatan keluarganya menuju kesuksesan. Mereka bertekad menjual arak eceran dengan kualitas yang tak jauh berbeda dari pabrikan.
Akibatnya jualan mereka sukses, banyak orang Tionghoa yang kaya mendadak. Menurut Ong Hok Ham dalam bukunya berjudul, ”Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa” (2009), kesuksesan tersebut banyak menarik perhatian wanita pribumi.
Mereka akhirnya menikah dan beranak pinak di berbagai daerah di Nusantara. Dari hasil pernikahan tersebut (Tionghoa-Pribumi) kemudian menghasilkan bayi-bayi yang terkenal dengan istilah Tionghoa Peranakan.
Namun pedagang arak Tionghoa yang tersohor itu tidak lama berjaya, sebab pemerintah kolonial menetapkan pajak yang tinggi dari hasil penjualan mereka. Akibatnya dagangan Arak bangkrut dan tak lagi sama larisnya seperti sebelumnya.
Lagi-lagi orang Belanda memeras mereka dan membuat etnis Tionghoa terjerumus. Hal ini karena Belanda tak ingin tersaingi, bahkan mereka tidak ingin terdominasi. Lantaran apabila dominasi Tionghoa lebih tinggi, maka besar kemungkinan Belanda akan kalah saing.
Namun dengan metode penjerumusan yang halus, Belanda pura-pura menarik pajak karena Arak orang Tionghoa banyak diminati oleh golongan Eropa. Mereka berdalih sebagai pelanggan, supaya toko Arak tersebut tidak tutup dan pajak terus ditarik.
Karena Arak Orang Tionghoa Diberi Hak Istimewa
Masih menurut Ong Hok Ham, karena industri Arak yang besar-besaran di Batavia, golongan etnis Tionghoa memperoleh hak istimewa dari orang Belanda. Mereka jadi golongan nomor dua setelah orang Belanda.
Kasta sosial Tionghoa lebih tinggi dari orang-orang pribumi yang kemudian disebut dengan Inlanders. Karena kedudukan ini mereka dihormati pula oleh sebagian pribumi yang membudak pada Tauke-tauke China di Batavia.
Baca Juga: Jejak Budaya Tionghoa di Indonesia, Punya Bioskop dan Klenteng Mewah
Rumah mereka juga dijaga oleh opsir Belanda, terutama rumah pengusaha Arak. Penjagaan ini bermaksud untuk menghindari aksi sabotase Arak, sebab gudang minuman tersebut menyatu dengan rumah mereka.
Sejarah Indonesia juga mencatat orang Tionghoa sebagai salah satu kelompok asing yang pertama kali memperkenalkan minuman beralkohol dan opium pada pribumi. Akibatnya banyak pribumi yang menyimpang dan kecanduan dua barang haram tersebut.
Kebiasaan buruk yang dibawa oleh tradisi etnis Tionghoa di Batavia ini terus berlangsung hingga awal kemerdekaan Indonesia. Bahkan setelah itu pun tak sedikit orang Indonesia yang masih menggunakan opium untuk kebutuhan mengobati rasa candunya. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)