Sejarah kartu pos zaman Belanda merupakan alternatif untuk melihat munculnya fenomena kesetaraan sosial masyarakat pribumi di pulau Jawa pada abad ke-19.
Belanda sengaja memilih kartu pos untuk menampilkan kesetaraan karena orang Eropa sering mengoleksi benda tersebut menjadi souvenir oleh-oleh yang penting.
Dengan kata lain pemerintahan kolonial tidak ingin menunjukan kesan diskriminasi pada pribumi. Mereka justru memuliakan orang-orang asli Jawa dengan cara mengabadikan bentuk wajah beserta kekayaan budaya yang menyelimuti kesehariannya.
Selain itu Belanda juga telah memanfaatkan kartu pos menjadi media modernisasi di Jawa. Benda ini terbilang langka dan baru, kendati demikian kartu pos secara tidak langsung membawa dampak perubahan sosial yang signifikan.
Baca Juga: Profil Pakubuwono X: Raja Surakarta yang Punya Mobil Mahal
Salah satu bentuk modernisasi dari kartu pos yaitu, masyarakat pribumi tidak kaku dan malu untuk berpose depan lensa kamera. Mereka juga mulai percaya diri karena hanya dalam kartu pos kedudukan orang pribumi sama dengan orang Eropa pada umumnya.
Lantas bagaimana sejarah kartu pos bisa menarik dan jadi media modernisasi di Jawa. Selengkapnya silahkan simak uraian singkat berikut di bawah ini.
Sejarah Kartu Pos Zaman Belanda dan Kesetaraan Sosial di Pulau Jawa
Menurut Olivier Johannes Raap dalam bukunya berjudul ”Soeka Doeka di Jawa Tempo Doeloe” (2013), kartu pos melatarbelakangi munculnya kesetaraan sosial pada masyarakat pribumi Jawa sejak pertengahan abad ke-19.
Adapun yang mendasari pernyataan ini merujuk pada catatan kolonial tentang awal mula kemunculan kartu pos di Nusantara. Konon menurut catatan arsip lawas tersebut kartu pos pertama kali muncul di Hindia Belanda pada tahun 1860.
Tujuan mencetak kartu pos awalnya merupakan kerja-kerja fotografer Eropa yang ingin mengabadikan eksotisme timur. Mereka sengaja datang dari berbagai negara di Eropa ke Hindia Belanda untuk memotret panorama surga tersebut.
Namun lama kelamaan hasil potretnya itu menarik perhatian pemerintah kolonial. Akhirnya berdasarkan satu keputusan resmi dari Belanda, hasil potret orang-orang Eropa jadi latar gambar untuk pembuatan kartu pos.
Menariknya kartu pos yang memiliki gambar hasil pemotretan orang Eropa tersebut melambangkan kesetaraan sosial di Jawa. Dalam kartu pos itu pemerintah kolonial setuju menampilkan model dari semua kalangan sosial.
Alias semua orang bisa jadi model dan ”nampang” dalam kartu pos. Mulai dari golongan elit modern seperti golongan ningrat, golongan bangsawan, sampai ke masyarakat dari golongan rakyat jelata.
Baca Juga: Sejarah Hukuman Mati Zaman Belanda: Tidak Manusiawi, Sadis, dan Keji
Dalam sudut pandang fotografer kartu pos mereka semua sama tidak ada perbedaan dan menciptakan kesetaraan.
Mereka terpilih oleh fotografer profesional orang Belanda. Para fotografer mengundang mereka secara istimewa ke studio foto.
Tidak melihat mana golongan rendah dan atas semuanya sama memperoleh jamu dan imbalan yang mahal karena telah bersedia jadi model untuk kartu pos.
Pernah Memajang Wajah Pemain Akrobatik
Selain menampilkan beberapa wajah dari golongan tinggi dan rendah, kartu pos zaman Belanda juga turut memajang rupa pemain akrobatik yang epic.
Jika sebelumnya fotografer menampilkan wajah pemain sirkus dengan pose lucu, kali ini mereka memotret pemain akrobat dengan wajah serius.
Pose ini sengaja teratur serius sebab akan menjadi latar belakang foto untuk mengisi kartu pos. Menurut catatan Olivier foto para pemain akrobat dalam kartu pos itu teridentifikasi bernama Jawa dari golongan rendahan.
Sebab namanya sederhana dan hanya terdiri atas dua suku kata yakni, Sandi, Siwel, dan Amat. Tiga potret pemuda akrobatik ini berdiri tegap memakai pakaian khas Jawa yang melambangkan adiluhung budaya mereka secara eksotis.
Konon setelah proses pemotretan selesai mereka merasa senang karena mendapatkan imbalan. Para fotografer membayarnya dengan harga yang cukup mahal. Oleh sebab itu para pribumi sering menyambut fotografer dan ingin jadi model pemotretan.
Memotret Banyak Gadis Cantik Pribumi
Jika tadi kita melihat ada fotografer yang memotret masyarakat dari beberapa golongan laki-laki di Jawa, pada kali ini kita akan melihat bagaimana sang fotografer mulai jatuh hati pada pesona lekuk tubuh gadis cantik pribumi.
Mereka terpesona dengan kecantikan asli para gadis pribumi di Jawa. Para fotografer pun membuat agenda untuk menjadikan objek gadis-gadis tersebut menjadi latar belakang gambar dalam kartu pos.
Baca Juga: Indonesia Pernah Ikut Piala Dunia? Begini Sejarahnya
Tak butuh waktu yang lama untuk menunggu persetujuan pemerintah kolonial, terhitung satu minggu lamanya ia memperoleh izin untuk mengabadikan keindahan para kembang desa yang anggun tersebut.
Menurut Olivier pemotretan gadis Jawa menjadi latar gambar kartu pos zaman Belanda merupakan salah satu bukti adanya kesetaraan gender dalam lingkungan pribumi.
Sebab sebelumnya foto ataupun lukisan hanya memajang rupa laki-laki, sedangkan kali ini perempuan jadi objek utama fotografer.
Selain melihat dari struktur di atas, kesetaraan gender dalam foto perempuan ini juga terlihat dari pemilihan pose “serius”.
Layaknya seorang laki-laki yang berpendirian, para fotografer sengaja mengatur pose perempuan dengan serius untuk jadi pembanding kesetaraan gender dalam interaksi sosial para pribumi.
Namun banyak orang yang menyalah artikan upaya baik ini. Sebab tak jarang laki-laki pribumi mengoleksi kartu pos bergambar perempuan untuk jadi penghibur belaka. Mereka membayangkan yang tidak-tidak dalam gambar tersebut.
Tentu saja ini merupakan bentuk upaya laki-laki yang masih mendominasi kodrati wanita hanya berdasarkan jenis kelamin. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)