Dalam catatan sejarah, bambu runcing merupakan senjata tradisional yang pernah jadi alat paling menakutkan musuh karena terkenal beracun dan mematikan. Salah satu musuh bambu runcing saat itu adalah Belanda.
Para pejuang republik mempertahankan kedaulatan negara dengan bambu runcing. Mereka menyerang musuh-musuhnya dengan potongan bambu yang tajam di berbagai titik markas musuh.
Kadang-kadang melemparkan bambu runcing dari atas bukit dan menancap di tubuh musuh secara mengenaskan.
Baca Juga: Profil Kyai Sadrach, Penginjil Mantan Santri Zaman Belanda
Tak jarang musuh yang jadi korban penusukan bambu runcing oleh pejuang republik menderita kesakitan menghadapi sakaratul maut. Bisa sampai 2-4 hari mereka sekarat karena kandungan racun yang menempel dari bambu tersebut.
Penderitaan orang Belanda terkena bambu runcing menjadi tontonan yang menakutkan. Konon banyak tentara Belanda yang nge-drop, mundur dari medan perang dan menghindari gundukan tanah di atas perbukitan karena takut dengan pasukan bambu runcing.
Lantas dari apakah sebenarnya racun bambu runcing itu berasal? Apakah bambu runcing beracun itulah yang membuat tentara Belanda kocar-kacir dari medan tempur?
Sejarah Bambu Runcing dengan Racun Katak
Sebetulnya racun bambu runcing berasal dari “racun katak”. Hewan amfibi rawa ini menjadi salah satu penghasil racun untuk senjata bambu runcing.
Para pejuang dahulu kerap menangkap katak beracun dan membedah tubuhnya untuk mengambil zat bahaya tersebut untuk bahan senjata.
Mereka mengolesi bambu runcing dengan racun katak. Saking beracun para pejuang kita dahulu tidak menggunakan tangan secara langsung untuk mengolesnya di bambu runcing.
Ada bambu lain atau “rambut ijuk” layaknya kuas cat untuk mengolesi bagian yang runcing dari bambu-bambu tersebut.
Setelah selesai mengolesi bambu ini dengan zat racun katak, maka mereka menaruh senjata tradisional mematikan tersebut di luar rumah. Pembuat racun bambu runcing sengaja menjemur senjata tersebut.
Fungsinya untuk memberikan daya tempel yang kuat agar racun tidak mudah mengelupas terkena air atau darah saat menancap tepat sasaran.
Baca Juga: Para Kiai di Balik Pemberontakan Petani Banten Tahun 1888
Menurut Sir Thomas Stamford Raffles dalam buku berjudul, “The History of Java”, (2008), senjata bambu runcing beracun sudah ada sejak awal bangsa Eropa datang ke Indonesia.
Biasanya untuk menjadi senjata tradisional memburu binatang liar. Namun seiring dengan berkembangnya zaman senjata ini mereka gunakan untuk berperang.
Senjata Kiai Melawan Belanda
Sebagian pendapat mengatakan jika bambu runcing merupakan salah satu senjata Kiai untuk ikut melawan Belanda. Di Parakan Temanggung misalnya, terdapat nama tokoh agama Islam KH. Subchi terkenal sebagai Jendral Bambu Runcing dari Jawa Tengah. Ia mempelopori penggunaan bambu runcing untuk senjata para santri melawan Belanda.
KH. Subchi kemudian mendirikan sebuah laskar perang melawan Sekutu pada tahun 1947-1949 bernama Barisan Muslimin Temanggung (BMT). Namun karena prajurit barisan perang ini menggunakan senjata bambu runcing maka KH. Subchi mengubah namanya jadi Barisan Bambu Runcing (BBR).
Konon pasukan Barisan Bambu Runcing tidak kenal takut. Mereka selalu tampil gagah dan berani meskipun harus menghadapi musuh berbekal senjata api laras panjang.
Bahkan tentara Sekutu saat itu sudah punya senjata canggih sekaligus kendaraan lengkap tank lapis baja yang mudah membumi hanguskan musuh.
Namun karena keimanan pasukan Barisan Bambu Runcing lebih kuat dari tentara Sekutu, pasukan licik yang memboncengi Belanda di Indonesia itu pun harus ikhlas menerima getahnya. Pasukan bambu runcing menang dan bisa mengusir penjajah dalam waktu yang relatif singkat.
Bambu Runcing Bukan Sembarang “Bambu”
Karena bambu runcing bisa mengalahkan musuh berbekal senjata lebih canggih, konon sebagian masyarakat di Temanggung Jawa Tengah percaya jika bambu runcing bukan bambu “sembarangan”.
Maksudnya tanaman penyerap air paling efektif ini telah mendapatkan jampi-jampi seorang Kiai agar bisa melancarkan serangan pasukannya tepat sasaran.
Baca Juga: Haji Hasan Basri Sagipon, Kyai Kaya Asal Surabaya Pendamping KH Hasyim Asy’ari
Selain itu juga bisa menjadi “jimat” untuk kekebalan. Karena bambu runcing para pejuang percaya akan selamat dan terlindungi dari peluru tajam tentara Sekutu.
Namun untuk memaksimalkan cara kerja bambu runcing agar tepat sasaran dan membawa keberuntungan para pemiliknya, maka H-5 sebelum keberangkatan ke medan perang bambu-bambu tersebut harus berada di rumah sang Kiai.
Tokoh sekaligus pemuka besar agama di kampung Temanggung akan memberikan doa keselamatan untuk pengguna bambu runcing ini.
Berikut adalah daftar nama Kiai yang menjadi tokoh dengan senjata bambu runcing di Jawa Tengah antara lain, KH. Subkhi, KHR. Sumo Gunardo, KH. M. Ali, KH. Abdurrahman, KH. Nawawi, KH Istakhori dan KH. Mandzur.
Dalam catatan sejarah, deretan nama-nama tersebut adalah orang-orang terkenal dalam Barisan Bambu Runcing. Mereka menghargai para Kiai di atas karena tanpa kehadirannya bambu runcing tidak akan sakti dan bekerja secara efisien. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)