Sejarah Masjid Raya Bandung mungkin belum banyak orang yang mengetahuinya. Bangunan yang memiliki nilai historis itu terletak di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Jawa Barat.
Bandung sendiri merupakan salah satu kota yang memiliki banyak julukan. Selain Kota Kembang dan Paris Van Java, Bandung juga terkenal sebagai kota dengan seribu destinasi wisata.
Ibu Kota Provinsi Jawa Barat ini juga menyimpan banyak sekali sejarah yang tidak pernah lekang oleh waktu. Karena lokasinya berada di pusat kota sehingga Masjid Raya Bandung ini mudah untuk dikunjungi.
Masyarakat Jawa Barat, khususnya warga Bandung mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sejarah kotanya. Salah satunya bangunan yang memiliki nilai historis yaitu Masjid Raya Bandung. Tempat ini juga menjadi destinasi wisata religi di Jawa Barat.
Sejarah Singkat Masjid Raya Bandung
Merangkum dari berbagai sumber, masjid tersebut pertama dibangun pada tahun 1812, bersamaan dengan perpindahan pusat kota Bandung yang sebelumnya ada di daerah Krapyak. Kemudian bergeser sekitar 10 kilometer dari pusat kota Bandung yang sekarang.
Bangunan Masjid Raya Bandung yang saat ini berdiri adalah hasil dari tujuh kali perombakan dengan berbagai arsitektur yang berbeda.
Baca Juga: Aturan Baru Nataru 2023 Kota Bandung, Ketahui Ini Sebelum Berkunjung!
Semula bangunan tersebut bernama Masjid Agung Bandung. Desain bangunannya hanya berbentuk rumah panggung tradisional dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Serta beratapkan daun rumbia.
Selain itu, aksesoris bangunannya juga masih menggunakan bahan tradisional dari pepohonan yng ada sekitar lokasi bangunan.
Untuk tempat berwudhu, dahulu tersedia kolam dengan ukuran yang cukup luas. Lalu saat itu pernah terjadi kebakaran sekitar tahun 1825. Air yang berada di kolam tersebut berhasil menyelamatkan bangunan Masjid Agung Bandung dari kobaran api.
Perubahan Bangunan Masjid Pasca Kebakaran
Selang satu tahun setelah peristiwa kebakaran tersebut, yaitu pada tahun 1826, bangunan masjid akhirnya diubah dengan bahan bangunan dari kayu.
Tidak sampai situ, pada tahun 1850 masjid yang pada waktu itu berukuran kecil akhirnya mengalami perombakan dan perluasan atas perintah Bupati RA Wiranatakusumah. Bagian dindingnya bertembok batu-bata dan atapnya diganti dengan genteng.
Bangunan Masjid Raya Bandung atau Masjid Agung Bandung yang berdiri megah saat itu berhasil diabadikan melalui lukisan salah seorang pelukis asal inggris. Yaitu W Spreat pada tahun 1852.
Baca Juga: Kucing Gli di Hagia Sophia Turki jadi Favorit Wisatawan, Ini Sejarahnya!
Lukisan tersebut menggambarkan atap bangunan masjid berbentuk limas besar yang tersusun berundak dan menjulang. Warga Bandung tempo dulu menyebutnya Bale Nyungcung.
Setelah beberapa tahun berselang akhirnya bangunan ini mengalami perombakan kembali, yaitu tahun 1875 berupa tambahan pondasi dan pagar tembok yang mengitari sekitar masjid.
Seiring berjalannya waktu, warga Bandung banyak yang memanfaatkan Masjid Raya Bandung ini untuk kegiatan keagamaan.
Banyak sekali gelaran agama seperti pengajian, muludan, rajaban, peringatan hari besar Islam, hingga tempat melangsungkan akad nikah.
Pada tahun 1900, bangunan Masjid Raya Bandung mengalami sejumlah perubahan. Sebagai pelengkap akhirnya area pinggir masjid mendapat tambahan bangunan berupa teras pada bagian kiri dan kanan.
Kemudian, pada tahun 1930, area masjid ini kembali dibangun pendopo dan dua buah menara kecil. Untuk mempercantik bangunan, pada tahun itu juga sekeliling Alun-alun Bandung didirikan benteng. Serta tembok berlubang dengan ornamen yang membalutnya khas kota Priangan.
Perubahan Besar Bangunan Masjid Raya Bandung
Baca Juga: Kunjungan Wisatawan ke Kabupaten Bandung Diprediksi Naik Saat Libur Natal dan Tahun Baru
Selanjutnya, tahun 1955 bersamaan dengan gelaran Konferensi Asia Afrika, bangunan Masjid Raya Bandung ini mengalami perubahan besar. Yakni, pembongkaran dua menara yang sebelumnya berdiri. Selain itu, bagian dalam masjid untuk sholat juga mengalami pelebaran.
Kemudian, pada waktu itu juga Masjid Agung Bandung ini menjadi tempat sholat para tamu yang mengikuti Konferensi Asia Afrika.
Setelah mengalami beberapa kali perombakan, tahun 1973 Masjid Agung Bandung mengalami perubahan secara besar-besaran lagi. Lantai masjid semakin luas dengan desain secara bertingkat.
Ruang basement menjadi tempat wudhu, lantai dasar sebagai ruang utama dan kantor Dewan Kesejahteraan Masjid.
Pada bagian depan masjid dibangun kembali dua menara yang berbalut ornamen logam dengan atap masjid berbentuk joglo.
Sampai pada perombakan terakhir tahun 2001, yaitu membangun pelataran Masjid Raya Bandung. Keberadaan pelataran seolah menjadikan Alun-alun Bandung sebagai ‘oase’ di tengah hiruk-pikuknya pusat Kota Bandung.
Setelah mengalami perubahan kepemimpinan, Masjid Agung Bandung kembali melakukan proses pembangunan hingga memakan waktu kurang lebih 829 hari. Yaitu sekitar 2 tahun 99 hari setelah adanya peletakan batu pertama.
Baca Juga: Cegah Aksi Kriminal, Pemkot Bandung Pasang Ratusan CCTV di Kota Bandung
Akhirnya, bangunan yang berdiri kokoh saat ini adalah bangunan permanen yang sudah beberapa kali mengalami perombakan.
Seiring dengan hal itu, Masjid Agung Bandung kini berubah nama menjadi Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat.
Setelah bangunan masjid ini berdiri begitu megah, kemudian fungsinya pun kembali sebagai tempat syiar agama sampai saat ini.
Penginapan Sekitar Masjid Raya di Paris Van Java
Karena lokasinya yang terbilang strategis, banyak pengunjung yang datang ke Masjid Raya Bandung. Baik wisatawan lokal maupun mancanegara.
Oleh karena itu, bagi pengunjung yang mencari penginapan sekitar Jalan Asia Afrika, saat ini banyak sekali hotel maupun rumah penginapan yang tersedia tidak jauh dari lokasi Masjid Raya Bandung.
Baca Juga: Daftar 5 Kabupaten Tersepi di Jawa Barat, Daerahmu Masuk Nggak?
Salah satu tempat menginap yaitu Zodiac Hotel dengan biaya berkisar antara Rp150.000 per malam. Hotel ini bisa kita booking jauh-jauh hari melalui beberapa aplikasi pemesanan.
Lokasi penginapan yang tidak begitu jauh dari tempat wisata Masjid Raya Bandung dan tempat kuliner ini membuat banyak turis yang memilih tempat tersebut untuk menginap.
Transportasi Umum Warga Bandung Menuju Lokasi
Tetapi, untuk warga Bandung yang ingin berkunjung ke lokasi wisata Masjid Raya Bandung tidak perlu khawatir. Karena ada banyak sekali jenis transportasi umum yang mendukung perjalanan.
Jika dari wilayah Cimahi, Anda bisa menggunakan Bus Damri yang melintas dengan nama trayek Alun-alun Ciburuy-Alun-alun Bandung.
Tetapi, jika pengunjung berasal dari wilayah Bandung Timur bisa menggunakan Damri dengan jurusan Cibiru-Kebon Kelapa. Untuk memudahkan dalam mencari lokasi, pengunjung juga bisa mencari alamatnya menggunakan nama Alun-alun Bandung.
Sedangkan, bagi pengunjung yang ingin membeli oleh-oleh khas Bandung bisa mengunjungi area Pasar Baru yang menjual aneka makanan khas Bandung.
Bahkan ada juga oleh-oleh berupa baju khas Bandung dan souvenir lainnya. Tentu saja karena lokasinya yang berada di pusat kota, sehingga akomodasi dan tempat belanja juga banyak tersedia. (Revi/R3/HR-Online/Editor-Eva)