Minggu, April 6, 2025
BerandaBerita TerbaruKisah Pelukis Affandi, Selamat dari Maut karena Daun Pisang

Kisah Pelukis Affandi, Selamat dari Maut karena Daun Pisang

Kisah Affandi dan daun pisang merupakan catatan bersejarah keluarga pelukis asal Cirebon, karena tumbuhan ini pernah menyelamatkan hidup seorang maestro abstrak sembuh dari penyakit cacar yang mematikan.

Karena hal ini Affandi memutuskan untuk membangun rumah dengan atap mengikuti visual daun pisang. Selain itu ia juga banyak terinspirasi oleh daun pisang dalam setiap karyanya. Affandi tidak melupakan jasa tumbuhan ini karena telah menyelamatkan hidupnya.

Bahkan hingga hari ini, pengakuan Affandi terhadap daun pisang tersimpan baik di museum seni rupa swasta termegah yang ada di Yogyakarta.

Baca Juga: Maestro Seni Abstrak, Sejarah Affandi Pelukis yang tak Membutuhkan Kuas

Namanya Museum Affandi, di sana Anda bisa melihat bagaimana seorang maestro lukis bertaraf dunia ini mengabadikan kemewahan daun pisah dalam konstruksi bangunan galeri lukis.

Bagaimana kisah pelukis Affandi yang membangun rumah terinspirasi dari daun pisang. Berikut akan kami jelaskan selengkapnya di bawah ini.

Pelukis Affandi dan Daun Pisang, Kisah Selamat dari Penyakit Cacar

Seniman besar kelahiran Cirebon pada tanggal 18 Mei 1907 ini pernah menuturkan kisah sedih tatkala selamat dari maut karena penyakit cacar. Rasanya seperti tubuh terbakar, penuh penderitaan, dan minim harapan hidup.

Dua saudaranya bahkan meninggalkan Affandi lebih dulu akibat penyakit ini. Cacar sudah mengorbankan mereka tanpa jeda. Sebab keduanya meninggal tak lama setelah penyakit mematikan ini menyerangnya kurang dari satu minggu.

Adapun penyakit berbahaya zaman itu menyerang keluarga Affandi pada masa kanak-kanak. Umur Affandi bahkan belum genap 10 tahun kala itu, namun cacar penyakit tak pandang bulu ini menimpa Affandi yang masih mungil.

Affandi bercerita zaman sulit menghadapi cacar berhasil karena daun pisang. Ibu dan ayahnya percaya daun pisang merupakan obat yang ampuh untuk mengatasi cacar. Tujuannya bisa memberikan efek dingin dan menghindari bakteri yang datang dari lalat.

Daun pisang juga bagus untuk antibiotik penyakit kulit. Akibatnya kulit Affandi yang melepuh karena cacar tidak terkelupas. Daun pisang menyelamatkan kulit Affandi utuh dan tidak meninggalkan bekas yang begitu fatal akibat cacar.

Baca Juga: Seniman pada Era Revolusi Fisik, Pasukan Perang yang Nyentrik

Alhasil ia selamat dari maut. Cacar yang menyerangnya selama 1 bulan, sembuh tiba-tiba. Selama Affandi sakit cacar ibunya melarang tidur di kasur, ia harus tidur dan beraktifitas sehari-hari beralaskan daun pisang. Tidak boleh keluar atau bahkan meninggalkan tubuhnya dari daun pisang.

Terinspirasi Daun Pisang dalam Berkesenian

Karena merasa sudah terselamatkan oleh daun pisang, Affandi yang pandai meniru teknik-teknik melukis master dunia seperti, Rembrandt, Rubens, dan Leonardo da Vinci ini terinspirasi daun pisang dalam proses berkesenian.

Menurut Gamal Kartono dalam bukunya berjudul ”Bagaimana cara Mengamati Lukisan Karya Affandi” (2008), Affandi bahkan menggunakan daun pisang sebagai objek berkesenian. Salah satunya membangun atap galeri dengan visual daun pisang.

Selain itu secara keseluruhan galeri Affandi apabila dilihat dari atas akan menyerupai bentuk daun pisang. Hampir semua material pembangunan galeri Affandi banyak ditemukan makna filosofi tumbuhan ini.

Sebagian pendapat mengatakan makna di balik galeri yang menyerupai daun pisang adalah untuk mengenang keselamatan Affandi yang terluput dari cacar mematikan.

Selain itu, visualisasi daun pisang di galeri Affandi juga merupakan ungkapan rasa syukurnya pada alam.

Karena kekayaan dari sumber daya alam Nusantara yang kaya jenis tumbuhan, bisa menyelamatkan Affandi yang sudah lemah dan hampir tiada karena cacar.

Daun pisang dengan banyak manfaat rupanya menolong proses kehidupan Affandi hingga dewasa dan menjadi tokoh maestro lukis dunia asal Indonesia.

Galeri Affandi Jadi Museum Megah di Jogja

Saat ini galeri Affandi yang dibangun terinspirasi dari daun pisang berubah menjadi museum seni rupa yang megah di Jogja. Meskipun dikelola oleh yayasan Affandi (swasta) museum tersebut kelihatan segar dan terawat.

Padahal isinya menyimpan karya-karya Affandi yang sudah tua umurnya. Karena karya maestro itu mahal harganya, nampaknya pengurus museum Affandi berhati-hati dalam menjaga koleksi di sana.

Oleh sebab itu meskipun biaya perawatan tak murah, Yayasan Affandi tetap berupaya menjaga karya-karya mahal tersebut, termasuk visualisasi daun pisang yang megah di dalam struktur pembangunan galeri.

Sampai sekarang galeri dengan visualisasi daun pisang di atapnya banyak disoroti oleh berbagai pengunjung. Bahkan tak jarang pengunjung yang berasal dari mancanegara pun tertegun dengan keahlian Affandi merancang sendiri arsitektur galeri tersebut.

Baca Juga: Biografi Basuki Abdullah, Seniman Lukis Istana Merdeka sejak Era Presiden Soekarno

Bahkan Affandi sudah mempersiapkan liang lahat sebelum meninggal dunia. Ia bersama istrinya ingin dimakamkan di bawah naungan pohon pisang yang dibuatnya menjadi atap galeri dekat rumah Affandi.

Karena permintaan ini, keluarga Affandi kemudian mengebumikan jasad maestro ini di bawah atap galeri yang berbentuk daun pisang. Hingga saat ini pengunjung galeri Affandi akan melihat makam beliau ketika sedang berjalan-jalan di sekitar ruang pamer.

Makam Affandi cenderung tidak menyeramkan. Sebab didesain unik dan menyenangkan. Tidak seperti makam pada umumnya, tempat peristirahatan terakhir sang maestro abstrak di Indonesia begitu teduh karena dipayungi atap galeri yang berbentuk daun pisang.

Hingga akhir hayatnya Affandi mengingat selalu jasa daun pisang. Bahkan ketika ia meninggal pun daun pisang masih tetap berjasa.

Sepertinya Affandi tidak ingin jauh dari daun pisang. Mungkin ini salah satu cara Affandi menghargai alam dan nikmat Tuhan selama hidupnya di dunia. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Kalahkan Korsel di Piala Asia U17, Ini Komentar Pelatih Timnas Indonesia

Kalahkan Korsel di Piala Asia U17, Ini Komentar Pelatih Timnas Indonesia

Timnas Indonesia menorehkan hasil memuaskan setelah kalahkan Korea Selatan (Korsel) di Piala Asia U17 2025. Pertandingan yang berlangsung di Prince Abdullah Al-Faisal Stadium, Jeddah,...
Sejarah Tebing Breksi Jogja, Berawal dari Tambang Biasa

Sejarah Tebing Breksi Jogja, Berawal dari Tambang Biasa

Tak banyak yang tahu bahwa sejarah Tebing Breksi Jogja menyimpan kisah menarik tentang transformasi luar biasa dari sebuah tambang menjadi destinasi wisata unggulan. Tak...
Rumah Semi Permanen di Cipaku Ciamis Ludes Terbakar Rata dengan Tanah

Rumah Semi Permanen di Cipaku Ciamis Ludes Terbakar Rata dengan Tanah

harapanrakyat.com,- Sebuah rumah semi permanen di Desa Selamanik, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat ludes terbakar. Peristiwa kebakaran tersebut terjadi pada Minggu (6/4/2025) sekitar...
Durian Hill Ciamis, Wisata Air yang Tawarkan Keindahan Pemandangan Gunung Sawal

Durian Hill Ciamis, Wisata Air yang Tawarkan Keindahan Pemandangan Gunung Sawal

Durian Hill Ciamis, objek wisata air dan kolam renang yang berada di kampung Sukamanah, Desa Sukawening, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, kini menjadi destinasi...
Kegiatan Adu Bagong di Cigugur Pangandaran Dibubarkan Aparat Gabungan

Kegiatan Adu Bagong di Cigugur Pangandaran Dibubarkan Aparat Gabungan, Harga Tiketnya Fantastis

harapanrakyat.com,- Aparat gabungan membubarkan kegiatan adu bagong yang berlangsung di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Minggu (6/4/2025). Pasalnya, kegiatan tersebut tidak memiliki izin. Penyidik...
Infinix Note 50x, Waktunya HP 5G Makin Terjangkau

Infinix Note 50x, Waktunya HP 5G Makin Terjangkau

Infinix kembali menggebrak pasar ponsel kelas menengah dengan peluncuran Infinix Note 50x pada 27 Maret 2025 lalu. Sebagai model paling terjangkau dalam seri Note...