Cipto Mangunkusumo terkenal sebagai pahlawan Nasional yang Anti Raja. Ia tidak menyetujui praktik feodalisme di kerajaan-kerajaan besar Jawa khususnya yang ada di Vorstenlanden (Surakarta-Yogyakarta).
Kiprahnya menentang sistem kerajaan membuat namanya bersinar di tengah masyarakat pribumi. Cipto berpihak pada orang-orang “kecil” yang ada di daerah pedesaan. Mereka teraniaya oleh peraturan wajib pajak dari kerajaan, belum juga dari pajak Belanda memperberat pula bebannya.
Oleh sebab itu tak sedikit orang yang memiliki pemikiran sama dengan dr Cipto Mangunkusumo. Hampir seluruh rakyat pedesaan di Surakarta, Klaten, dan Yogyakarta mendukung usulan tokoh Pergerakan Nasional ini dengan sungguh-sungguh.
Dukungan terhadap Cipto datang dari keberanian berpolitiknya. Sebab sebelum Cipto berjuang dalam pergerakan Nasional tidak ada orang yang berani memprotes kerajaan-kerajaan di Jawa.
Saking beraninya menentang raja, Cipto bahkan sempat mengusulkan untuk mempensiunkan Raja Kasunanan Surakarta dari tahta Aristokrasi.
Nama Cipto juga terkenal sebagai pembangkang. Pemerintah kolonial tidak menyukainya, ia hanya jadi orang yang sering membuat susah Belanda.
Karena perbuatan Cipto yang ceroboh hampir sebagian buruh di beberapa pabrik pemerintah mogok kerja. Belanda kewalahan dan berusaha menangkapnya hidup-hidup.
Kiprah dr Cipto Mangunkusumo dalam Pergerakan Nasional
Menurut Takashi Shiraishi dalam buku berjudul “Zaman Bergerak Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926” (1997), dr Cipto Mangunkusumo memiliki kiprah yang penting dalam pergerakan nasional. Ia pernah jadi aktivis bumi putera yang terkenal pemberani.
Kata-katanya pedas setiap gerakan dalam pidato yang berapi-api mampu menggugah semangat para pendengarnya. Karena keterampilan ini ia terpilih jadi anggota volksraad (wakil rakyat) atau sekarang sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Meskipun sudah jadi anggota Volksraad, tak membuat dr Cipto surut semangat. Pidato-pidatonya masih menggebu.
Konon tak sedikit perkataan Cipto menyakiti banyak orang-orang Belanda. Sebab pria yang hobi menghisap kretek ini sudah benci sekali dengan Belanda. Menurutnya pemerintah kolonial sama dengan lintah penghisap darah pribumi.
Baca Juga: Tjipto Mangoenkoesoemo, Pahlawan Nasional dari Keluarga Ningrat
Pada tahun 1908 ia terlibat aktif dalam pergerakan Nasional. Namun namanya baru melejit ke ranah publik baru tahun 1912 saat Cipto menggabungkan diri bersama Indische Partij, sebuah partai politik pertama beraliran tradisionalis kiri di Hindia Belanda.
Selain aktif dalam organisasi Indische Partij, Cipto juga mempelopori sistem pengkaderan untuk memperoleh anggota partai yang militan.
Salah satu cara yang Cipto lakukan adalah merekrut banyak anggota dan memberikannya pengajaran politik semaksimal mungkin.
Kehadiran Cipto dalam Indische Partij sangat berpengaruh bagi kemajuan pergerakan Nasional di awal abad ke-20.
Cipto Mangunkusumo dengan beberapa kawan lainnya (E.F.E. Douwes Dekker dan Ki Hadjar Dewantara) telah memprakarsai jalan awal massa merealisasikan kemerdekaan. Cipto jadi motivator perjuangan yang penting dalam catatan sejarah Indonesia hingga saat ini.
Jadi Tokoh Pergerakan Nasional yang Anti Raja
Kerasnya pendidikan politik Cipto membuat pemahaman dirinya tentang sistem feodal menjadi buruk. Menurut mantan eksil di Belanda tersebut konsep feodal sangat buruk untuk negara yang dominasi rakyatnya seorang petani, buruh, dan nelayan. Sebab raja sering meminta jatah upeti dari sebagian penghasilan rakyatnya.
Maka dari itu raja mereka (rakyat) anggap sama dengan pemegang otoritas lokal yang represif. Menurutnya apabila ada rakyat yang membangkang maka pihak kerajaan tak segan menangkap dan memburunya hidup-hidup.
Selain itu adagium Cipto Mangunkusumo sebagai “Tokoh Pergerakan Nasional Anti Raja” Juga terbentuk akibat keberanian pria kelahiran 4 Maret 1886 di Jepara Jawa Tengah menentang aristokrasi Jawa yang arogan.
Ia tak segan memprotes Pakubuwono X karena punya harta yang bergelimang namun masih saja menarik pajak rakyat seberat-beratnya.
Menurut George D. Larson dalam “Masa menjelang revolusi: keraton dan kehidupan politik di Surakarta, 1912-1942” (1990), pada tahun 1919 nama Cipto Mangunkusumo memenuhi tampak depan surat kabar Belanda. Media kolonial tersebut memfitnah Cipto akan melakukan pembunuhan pada Pakubuwono X.
Akibatnya pemerintahan Kasunanan Surakarta dengan kolonial Belanda bekerja sama untuk mengamankan wilayah Pakubuwono X.
Baca Juga: Sejarah Cipto Mangunkusumo, Intelektual Kritis yang Revolusioner
Bahkan Pakubuwono sampai mengutus badan intelijen kerajaan bernama “Telik Sandi” untuk memata-matai Cipto dan kawan-kawan lainnya yang punya visi misi ingin meruntuhkan kekuasaan Pakubuwono X.
Selain menyasar Pakubuwono X, kabar burung Cipto yang akan membunuh penguasa Jawa tersebut menyasar juga pada Mangkunegaran VII.
Penguasa Jawa yang punya Legiun (Angkatan Bersenjata) nyaris khawatir dengan wacana pembunuhan yang akan Cipto lakukan terhadapnya.
Lantas Mangkunegaran VII melibatkan tentara mereka untuk mengamankan setiap gerak-gerik Cipto dalam safari politiknya ke desa-desa.
Namun Cipto tak kenal takut. Mantan aktivis kemanusiaan tahun 1920-an ini justru menantang balik para penguasa. Ia tidak berencana membunuh raja sebagaimana koran Belanda beritakan. Itu bentuk adu domba mereka agar nama Cipto terkontaminasi.
Namun apabila isu tak bertanggungjawab ini tetap menimpanya, apa boleh buat Cipto bisa melakukan yang sebenarnya apa yang ingin ia perbuat.
Dari titik inilah nama Cipto terkenal jadi tokoh pergerakan Nasional yang anti dengan sistem aristokrasi Raja Jawa.
Mengasingkan Cipto ke Luar Vorsten Landen
Keberanian Cipto menentang Pakubuwono X dan Mangkunegaran VII berakhir pada tuntutan Belanda memberhentikan Cipto sebagai anggota Volksraad.
Selain itu pemerintah kolonial mengasingkan Cipto ke luar dari daerah Vorsteb Landen (Surakarta-Yogyakarta) dan wilayah selain berbahasa Jawa.
Tekanan ini membuat Cipto bertempat tinggal di Bandung. Ia membuka praktik dokter dari kampung ke kampung menggunakan sepeda tuanya. Namun tak sedikit kegiatan politik yang Cipto hadiri juga di sana.
Baca Juga: Profil Pakubuwono X: Raja Surakarta yang Punya Mobil Mahal
Salah satunya ketika Cipto bertemu dengan Sukarno pada tahun 1923. Mereka kemudian bersama-sama membangun Algemeene Studieclub cikal bakal Partai Nasional Indonesia (PNI) tahun 1927.
Ketika Cipto pindah ke Bandung bukan berarti ia terbebas dari permasalahan politik. Sebab pada tahun 1927 nama Cipto tercatut jadi tersangka dalam keterlibatan pemberontakan komunis serentak di berbagai wilayah di Hindia Belanda.
Karena kasus ini Cipto terkena vonis hukum pengasingan ke daerah lebih jauh lagi. Pemerintah kolonial mengasingkan Cipto dan keluarga dari Bandung ke Banda Maluku pada 19 Desember 1927.
Keadaan fisik Cipto yang tak lagi muda membuat masa-masa pengasingan di Maluku lebih menderita dari sebelumnya. Penyakit paru-paru Cipto kambuh sehari setelah ia sampai di Maluku.
Karena alasan ini kawan-kawan aktivis menekan Belanda agar meringankan hukuman Cipto dengan mengusulkan pemindahan tempat pengasingan.
Akhirnya Cipto berhasil pindah ke Makassar, Bali, dan pada tahun 1940 mendarat di Sukabumi. Namun 3 tahun setelah Cipto berada di tempat pengasingan terakhir ini penyakitnya semakin parah. Hingga akhirnya Cipto meninggal dunia tanggal 8 Maret 1946 pada usia genap 60 tahun. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)