Kiai Haji Abdur Razak (AR) Fachruddin merupakan seorang ulama terkemuka di Yogyakarta. Ia adalah mantan Ketua Umum Muhammadiyah dari tahun 1968-1990.
Semenjak KH AR Fachruddin masih sugeng, banyak orang yang tersentuh hatinya karena perilaku santun, bersih, dan rendah hati keluar dari dalam diri AR Fachruddin.
Selain itu Kiai AR Fachruddin juga terkenal sebagai tokoh Islam yang pluralis dan senang guyonan. Tak heran beberapa orang kerap menyamakannya dengan mendiang KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
KH AR Fachruddin lahir dari keluarga ningrat Pakualaman di Yogyakarta. Ayahnya seorang juru Masjid di kerajaan Pakualaman.
Baca Juga: Sejarah Konflik PKI dan Muhammadiyah, Gegara Berebut Massa Aksi
Sejak kecil AR Fachruddin belajar di sekolah Muhammadiyah Bausasran. Namun setelah ayahnya KH Fachruddin pensiun jadi abdi dalem Pakualaman, uang sekolah KH AR Fachruddin semakin menurun.
Apalagi setelah usaha batik miliknya berhenti. Akhirnya AR Fachruddin memutuskan untuk keluar dari sekolah Muhammadiyah dan belajar agama pada ayahnya di rumah.
Jiwa pluralis KH AR Fachruddin nampaknya terbentuk dari laku budaya penjajahan yang menimpa pengalaman kecilnya. Kiai humoris Muhammadiyah ini mengaku telah mengalami dua masa penjajahan sejak kecil hingga dewasa yaitu, zaman penjajahan Belanda dan Jepang.
Saat ia hidup di zaman itu, semua seragam. Keseragaman itulah yang membuat sistem sosial masyarakat terkotak-kotak. Akibatnya lahir sistem sosial berkasta-kasta yang menimbulkan diskriminasi perbedaan.
Tak ingin mengulang masa itu terjadi, KH AR Fachruddin tumbuh dewasa dengan pendidikan yang pluralis. Semua perbedaan ia pelajari, bahkan sampai tokoh agama Islam dari Muhammadiyah tersebut bersahabat baik dengan orang-orang Non-Islam yang ada di Yogyakarta.
Baginya perbedaan adalah keindahan, karena prinsip itulah pidato-pidato keagamaan Kiai AR Fachruddin selalu menyejukkan hati dan pikiran.
Kiai Pluralis Muhammadiyah AR Fachrudin, Punya Cadangan “Unlimited” Kesabaran
Selain terkenal sebagai seorang tokoh Agama yang pluralis, KH AR Fachruddin juga tersohor sebagai Kiai Muhammadiyah yang punya cadangan kesabaran unlimited.
Artinya sabar Kiai AR Fachruddin tak ada batasnya. Hal ini tercermin dari kisah sang anak Sukriyanto saat penulis harapanrakyat.com mewawancara di kediamannya pada 2021 lalu.
“Bapak itu orangnya lucu. Agamis nyentrik yang kesabarannya melebihi batas maksimum. Pancen unlimited kesabaran, Mas,” ujar Sukriyanto kepada harapanrakyat.com, pada 2021 lalu.
Baca Juga: Sejarah Hizbul Wathan, Gerakan Pandu Semi Militer Muhammadiyah
KH AR Fachruddin pernah terkena musibah, ia menabrak tukang becak dengan menggunakan motor Ducati tua saat hendak pergi ke kantor Muhammadiyah di jalan Cik Ditiro Yogyakarta.
Dua-duanya jadi korban, untung tukang becak dan KH AR Fachruddin hanya mengalami luka ringan. Namun karena merasa bertanggung jawab, ia membawa tukang becak ke rumah sakit. Menurut Sukriyanto, AR Fachruddin terus menjenguk si tukang becak sampai sembuh.
“Hampir tiap hari Mas, Pak AR Fachruddin menjenguk. Sambil membawa bingkisan, sampe tukang becak itu jadi kawan dekatnya,” katanya.
Menurut AR Fachruddin perbedaan itu bukan alasan untuk tidak berbuat baik. Kendati dirinya lebih mapan dan intelektual dari korban tabrakannya itu.
“Apa ruginya kalau tidak menolong? Toh kita juga wajib menolong orang yang kita lukai secara tidak sengaja fisik dan hatinya,” kenang Sukriyanto menirukan perkataan ayahnya Kiai AR Fachruddin.
Karena perbedaan pula kita bisa hidup. Sebab konflik akibag dua pandangan yang saling bertentangan membuat manusia belajar tentang cara bertahan hidup. KH AR Fachruddin telah mencontohkan itu dengan gamblang. Bahkan ia sampai dapat julukan Kiai Pluralisnya Muhammadiyah.
Pengabdian Panjang di Muhammadiyah
KH AR Fachruddin mengabdikan diri pada Muhammadiyah sudah sejak lama. Ia bahkan punya jam terbang yang tinggi sebab sejak tahun 1934 Kiai AR Fachruddin pernah bertugas mendirikan dakwah-dakwah Muhammadiyah di Ogan Komering Ilir selama 10 tahun.
Setelah bekerja selama 10 tahun jadi pendakwah sekaligus guru di 10 sekolah Muhammadiyah Ogan Komering Ilir pada tahun 1942, KH Fachruddin pindah ke Palembang.
Menurut Herry Mohammad dalam buku berjudul, “Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20” (2006), di Palembang KH AR Fachruddin menjadi guru Muhammadiyah serta menjadi pembina gerakan kepanduan Hizbul Wathan.
Namun menjelang Jepang kalah dari Perang Dunia II, tepatnya pada tahun 1944 ia pulang ke Jawa. Di sana Kiai AR Fachruddin sempat bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat dari Laskar Hizbullah.
Baca Juga: Museum Muhammadiyah, Upaya Menggali Tokoh Nasional dalam Sejarah Islam yang Terlupakan
Baru setelah Indonesia lepas dari beban penjajah, Kiai AR Fachruddin bekerja menjadi pegawai Departemen Agama di Jakarta. Karena suka berpindah tempat dengan alasan mengisi pengalaman hidup yang lebih luas, AR Fachruddin pindah ke Yogyakarta lagi.
Di sana ia belajar pada tokoh-tokoh besar Muhammadiyah yang masih tersisa seperti Ki Bagus Hadikusumo, Basyir Mahfudz, Badilah Zuber, dan Ahmad Badawi.
Hobi Menjenguk Orang Sakit
Sukriyanto bercerita pernah menyaksikan peristiwa unik dan menarik dari kebiasaan ayahnya. Semenjak kejadian menabrak tukang becak KH AR Fachruddin ternyata hobi menjenguk orang sakit. Tak peduli ia mengenalnya atau tidak, bagi pak AR Fachruddin menjenguk orang sakit menjadi agenda rutin tiap 2-3 minggu sekali.
Lagi-lagi peristiwa ini merepresentasikan prinsip pluralismenya. Ya, KH AR Fachruddin tokoh Islam yang terkenal itu sering menjenguk orang sakit dari berbagai ras, agama, dan pilihan politik yang berbeda-beda.
Saat itu, ia pernah menjenguk pasien Rumah Sakit Bethesda (Rumah Sakit Kristen di Yogyakarta). Ia mengetuk satu demi satu pintu kamar pasien pada jam bezoek. Sesekali mengobrol panjang dan memberikan bingkisan untuk bekal makanan pasien seperti buah-buahan, roti, dan lainnya.
Ketika Sukriyanto bertanya pada ayahnya terkait sikapnya yang aneh itu, AR Fachruddin tersenyum lalu bertanya balik.
“Apakah tidak boleh orang Islam jenguk orang Kristen Sakit?” AR Fachruddin juga menjelaskan seluruh hadis terkait hukum menjenguk orang sakit itu justru pahalanya banyak.
Dari peristiwa-peristiwa pluralis inilah, Kiai AR Fachruddin semakin terkenal banyak orang. Bahkan tak hanya ada di kalangan umat Islam tetapi juga terkenal baik di golongan orang Kristen. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)